Hal tersebut mulai dilakukan pada tahun 1995 bersama istrinya, Dawn yang sebelumnya sudah terlebih dahulu merawat anak-anak dengan kondisi khusus.
Bzeek dan Dawn memiliki seorang anak bernama Adam yang mengalami osteogenesis imperfecta atau kerapuhan tulang saat remaja.
Melansir dari Kumparan.com, Bzeek berusaha menguatkan putranya yang saat itu juga merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komputer di Citrus College agar tetap kuat menjalani hidup.
Pada tahun 2015, Dawn meninggal akibat penyakit darah beku yang menyerang paru-parunya.
Dari situ, Bzeek merasa sangat sedih dan terpukul. Meskipun demikian, ia merasa bahwa misi untuk merawat anak-anak dengan penyakit terminal tetap harus dilanjutkan.
Anak-anak yang dirawat Bzeek merupakan anak-anak dengan penyakit parah yang membuat dokter dan orang tua sendiri mereka menyerah. Melansir dari Harian Disway, anak-anak tersebut pada umumnya hanya bisa menghabiskan waktu mereka di rumah sakit tanpa dibersamai dengan kasih sayang orang tua.
Selain itu, dikutip dari Image.ie, anak-anak yang dirawat di antaranya juga merupakan yatim piatu dan anak-anak yang diambil negara karena orang tua mereka tidak merawat anak-anak tersebut dengan baik.
Bzeek menganggap anak-anak yang dirawatnya bukan merupakan anak angkat, melainkan anak-anaknya sendiri.
Pernah suatu waktu tetangga Bzeek mencurigainya karena berkali-kali mengadopsi anak.
Selain itu, anak-anak yang diadopsinya kebanyakan meninggal dunia dalam waktu yang tidak lama.
Tetangganya tersebut merasa aneh dan melaporkan Bzeek ke polisi. Kemudian, polisi pun melakukan pemeriksaan terhadap Bzeek.
Setelah diselidiki, polisi malah menemukan fakta yang menyentuh hati. Saat digeledah, rumah Bzeek dipenuhi dengan alat-alat medis dan anak-anak dengan sakit parah.
Saat itu, mulai diketahui alasan mengapa Bzeek mengadopsi anak-anak tersebut. Dirinya berkata bahwa ia ingin anak-anak tersebut merasakan cinta seorang ibu dan ayah di saat-saat terakhir. Alasan itulah yang membuat Bzeek dan Dawn dulu mengadopsi mereka.
Gabriel, salah satu anak yang dirawat Bzeek menderita penyakit ensefalokel (Inggris: encephalocele) yang membuat sebagian otaknya menonjol keluar dari tulang tengkoraknya saat lahir.
Gabriel tidak dapat melihat, mendengar, berbicara, bahkan bergerak. Melansir dari Image.ie, Sofie Keefer, seorang pekerja di bidang paliatif pediatrik yang bertemu langsung dengan Bzeek melihat Gabriel terlihat begitu rileks dan tenang saat Bzeek menggendongnya.
Sayangnya, Gabriel meninggal dunia pada tahun 2017. Hal tersebut sangat menyayat hati Bzeek dan dirinya menangis.
Meskipun demikian, terdapat rasa bangga di balik air matanya karena ia memastikan setiap anak tidak sendirian ketika ajal menjemput mereka.
Kisah Bzeek mendapatkan perhatian dunia. Dirinya juga sempat dibantu dengan donasi yang digalang dari banyak orang untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 80 anak yang dirawatnya.
Berkat jasanya dalam membersamai anak-anak tersebut, Bzeek dianugerahi penghargaan Kebaikan Internasional (International Benevolence Award) oleh Yayasan Diyanet (Diyanet Foundation). Kisahnya dimuat dalam film dokumenter yang disutradarai oleh Ensar Altay dengan judul “Guardian of Angels”.
Penulis: Salwa Hunafa
Editor : Bahana.