Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Kisah Sudarsono, Pengayuh Becak Beratribut PSIM|: Rela Rogoh Kocek Pribadi, Naza Puluhan Tahun Menanti Laskar Mataram di Kasta Tertinggi

Iwan Nurwanto • Rabu, 24 Desember 2025 | 05:35 WIB

 

AYDK : Sudarsono, pengayuh becak beratribut PSIM saat ditemui di kawasan Hotel Melia Purosani, Selasa (23/12/2025).
AYDK : Sudarsono, pengayuh becak beratribut PSIM saat ditemui di kawasan Hotel Melia Purosani, Selasa (23/12/2025).

JOGJA - Kecintaan terhadap klub sepak bola kebanggaan tidak hanya milik mereka yang berada di tribun stadion.

Namun juga terpatri kuat di hati para pejuang jalanan. Salah satunya Sudarsono, pengayuh becak asal Kota Jogja ini mengecat transportasinya bertema PSIM.

Becak milik Sudarsono memang berbeda pada umumnya. Kendaraan beroda tiga milik pria 63 tahun itu penuh dengan warna biru putih yang menjadi ciri khas tim sepak bola berjuluk Laskar Mataram. 

Baca Juga: Kinerja APBN di DIY Diklaim Optimal, Kanwil DJP DIY Sebut Realisasinya Capai 87,47 Persen: Didorong Dua Sektor Utama Ini

Diamati lebih dekat, becak kayuh milik Sudarsono juga banyak memiliki logo PSIM di berbagai sisi.

Serta tidak lupa, jargon khas Aku Yakin Dengan Kamu tertulis jelas pada kursi penumpang transportasi tradisional tersebut.

Saat ditemui di kawasan Hotel Melia Purosani, Selasa (23/12/2025) petang.

Sudarsono mengaku sengaja mengecat becaknya dengan atribut PSIM. Bukan tanpa alasan, hal tersebut dia lakukan sebagai bentuk kesetiaan sekaligus nazar dirinya.

Baca Juga: Jarak dengan Libur Lebaran Lebih Pendek, Kepadatan di Terminal Jombor Meningkat Tipis Jelang Nataru

Usai PSIM berhasil menembus kasta tertinggi Liga 1 setelah absen hampir 20 tahun.

"Saya sudah suka PSIM sejak kecil. Dulu sering menonton di Mandala. Sampai sekarang, saya tetap dukung PSIM," ujar pria kelahiran 1962 itu.

Sudarsono sempat mengenang masa-masa dirinya kala masih sering menonton langsung pertandingan di Stadion Mandala Krida.

Dia pun ingat momen ketika Marjono sang kapten legendaris mencekik wasit.

Baca Juga: Viral Penolakan Penebangan Pohon Munggur, Pihak SMKN 3 Kasihan Tegaskan Hanya Ikuti Rekomendasi BPBD Bantul

Bagi warga Suryatmajan Kemantren Gondomanan ini, PSIM sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas keluarga.

Sebab anak-anaknya juga merupakan pendukung setia klub yang lahir di tahun 1929 itu.

Demi memenuhi nazarnya, Sudarsono diketahui rela merogoh kocek pribadi untuk mempercantik becaknya.

Baca Juga: Jembatan Kewek Dibangun Ulang, Komisi C DPRD Kota Jogja Minta Pemkot Lebarkan Trotoar untuk Dukung Akses Pejalan Kaki Menuju ke Malioboro

Dia memperkirakan total biaya yang dihabiskan mencapai sekitar Rp. 300 ribu. Digunakan untuk membeli cat dan memesan mika khusus berornamen PSIM.

Meski harus mengeluarkan biaya sendiri, Sudarsono merasa puas. Sebab becak "edisi PSIM" miliknya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Tidak sedikit pula penumpang yang tertarik lalu minta berfoto di becak miliknya.

Baca Juga: Laga Sarat Nostalgia dengan Mantan Tim, Pemain PSIM Jogja Rahmatsho Tetap Profesional Hadapi Persijap Jepara

Diketahui, loyalitas Sudarsono juga sempat menarik perhatian manajemen PSIM.

Dia mengaku pernah ditemui langsung oleh Direktur Utama PSIM Jogja Liana Tasno untuk memberikan apresiasi berupa kaos resmi klub.

Meski kini usianya sudah tidak muda lagi dan lebih sering memantau perkembangan PSIM melalui layar televisi.

Baca Juga: PSS Sleman Beri Panggung Dua Pemain Muda dari EPA U18 untuk Cicipi Tim Utama

Semangat Sudarsono terhadap klub kebanggaannya tidak pernah pudar.Dia tetap membawa becak PSIM-nya berkeliling dan mengangkut wisatawan.

“Saya mangkalnya di Melia, tapi juga sering muter ke Malioboro dan tempat-tempat wisata lainnya,” tandasnya. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kota Jogja #PSIM #pengayuh becak #klub sepak bola #Laskar Mataram #atribut