RADAR JOGJA - Sebelum era digital muncul dan maraknya mural, wajah Yogyakarta pernah dihiasi kemegahan baliho atau reklame yang dikerjakan secara manual oleh para seniman.
Di balik karya-karya monumental, saat itu terselip satu nama ikonik seniman bernama Samsoel.
Pengamat visual asal Bantul, Yaksa Agus menilai sosok Samsoel bukanlah pelukis reklame biasa.
Sebelum dikenal luas melalui bendera Samsoel Grup, Samsoel sendiri merupakan tokoh pelukis realis yang telah menancapkan tajinya sejak tahun 1960-an. Itu seangkatan dengan maestro seperti Gambir Anom.
"Beliau (Samsoel) itu tokoh realisme Jogja yang jarang dibahas," katanya, Jumat (19/12/2025).
Yaksa menjelaskan, karya-karya reklame yang dibuat Samsoel saat itu bukan sekadar iklan komersial.
Pria yang berprofesi sebagai kartunis ini menilai, karya-karya Samsoel saat itu sebagai alat propaganda perjuangan yang estetik.
Bahkan di titik-titik ikonik seperti Titik Nol Kilometer dan Gondomanan, karya Samsoel selalu hadir menghiasi hari-hari besar nasional.
"Rata-rata gambarnya realis. Itu menceritakan peristiwa. Visualnya saja sudah berbicara tanpa perlu banyak teks. Ini juga menjadi penanda zaman," tegasnya.
Dari banyaknya karya, ada satu karya yang membuat Yaksa terkesima. Karya itu adalah gambar peringatan 1.000 hari wafatnya maestro lukis Affandi pada tahun 1992 silam.
Di depan Gedung Senisono, lanjut Yaksa, saat itu Samsoel melukis sosok maestro Affandi dengan sangat intim. Media lukisnya setinggi empat meter dan panjang 10 meter.
"Saya sangat terpesona, sehingga saat itu saya ingin PKL di Pak Samsoel dari lukisan menggambarkan Affandi itu. Karya itu juga membuat cukup banyak orang terpesona," lontarnya.
Yaksa juga mengungkapkan, setelah berhasil membuat berbagai karya melalui reklame hingga nasional, kejayaan baliho lukis manual itu mulai menghilang.
Ini ketika Samsoel tutup usia menjelang masa-masa reformasi.
Setelah Samsoel meninggal, lanjut Yaksa, proyek baliho diteruskan oleh Yoyok dengan advertisingnya diberinama Manohara Group.
Akan tetapi proyek itu hanya mampu bertahan hingga sekitar tahun 2005, setelah teknologi digital printing muncul.
"Baliho setelah tahun 2005 tak pernah lagi dibuat, karena sudah kalah dengan banner yang dibuat dengan teknologi digital," ujarnya.
Meski saat ini sudah banyak karya poster yang menggunakan teknologi, bagi Yaksa poster manual seperti karya Samsoel jauh memiliki keunggulan dan lebih artistik.
Sebab, menurutnya, poster atau reklame karya manusia itu mempunyai ruh tersendiri.
Tak hanya itu, bagi seniman asal Cepit, Bantul ini baliho adalah sebuah kenangan atau bagian dari sejarah seni rupa dan iklan di Yogyakarta.
"Gambar-gambar mural atau street art yang kemudian juga hadir tak menarik dan cenderung menjadi sampah visual. Walaupun iklan dan karya street art sama-sama dibuat atas nama seni," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita