Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menolak Jadi PNS, Gondo Wicaksono Pribadi Mantap Bangun Industri Sepatu Kulit

Cintia Yuliani • Senin, 15 Desember 2025 | 04:45 WIB
KARYANYA: Gondo sedang memegang sepatu yang diproduksinya Minggu (14/12).
KARYANYA: Gondo sedang memegang sepatu yang diproduksinya Minggu (14/12).

BANTUL - Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade di industri alas kaki, Gondo Wicaksono Pribadi memilih meninggalkan status PNS demi menekuni usaha sepatu kulit yang dirintis dari nol, bertahan dari krisis hingga bangkit kembali di Bantul.

Perjalanan panjang Gondo Wicaksono Pribadi, 51, membangun usaha sepatu berbahan dasar kulit bukanlah kisah yang instan. Berbekal pendidikan, pengalaman industri, hingga keberanian mengambil risiko besar, pria pemilik PT Berkah Melimpah Bahagia itu menapaki jalan terjal dunia usaha dengan penuh keyakinan.

 Baca Juga: Sudah Comeback Bersama PSS Sleman, Fachruddin Aryanto Masih Terus Dipantau

Gondo menempuh pendidikan di Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Bantul pada 1992–1997. Ia mengambil jurusan desain, pilihan jurusan tersebut membentuk fokusnya pada produk jadi berbahan kulit, khususnya alas kaki.

“Setelah lulus, saya merantau ke Jawa Timur dan bekerja di pabrik sepatu selama sekitar lima tahun,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya yang berada di Jalan Rajawali No.99 Padukuhan Pringgolayan, Banguntapan, Banguntapan Minggu (14/12).

Ia memulai dari karyawan biasa, lalu dipercaya sebagai asisten manager research and development (R&D) hingga 2003. Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya tentang ritme industri, etos kerja, serta standar produksi sepatu.

 Baca Juga: Delapan Pelatih Tumbang Sebelum Paruh Musim, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Tren Pemecatan di BRI Super League

Kariernya berlanjut di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di bawah Kementerian Perindustrian. Di lembaga yang berlokasi di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo itu, Gondo menjabat Kepala Divisi Pelatihan selama hampir 10 tahun (2003–2012). Di sinilah jejaringnya dengan pelaku industri alas kaki nasional semakin luas, mulai dari produsen, supplier, hingga pemilik merek.

Di tengah kesibukan sebagai pegawai lembaga pemerintah, Gondo mulai merintis usaha sejak 2008. Selain produksi sepatu, ia sempat mencoba usaha lain seperti ternak ayam dan desain interior. Usaha sepatu dijalankan sambil bekerja, dengan modal awal sekitar Rp 10 juta.

 Baca Juga: Hanya 38,42 Persen Wisatawan yang Gunakan Hotel Saat Berkunjung ke Kabupaten Sleman

“Modal tersebut untuk mesin dan peralatan, Saat itu mempekerjakan empat karyawan,” katanya.

Titik balik terjadi pada Januari 2013. Saat BPIPI resmi menjadi unit pelaksana teknis (UPT) dan seluruh pegawainya diangkat sebagai ASN, Gondo justru memilih jalan berbeda. Meski telah menerima SK sebagai PNS, ia memutuskan mengundurkan diri. Alasannya sederhana namun tegas fokus dan profesional. Ia memilih menekuni usaha sepatu yang telah dirintis daripada menjalani dua peran sekaligus. 

Keputusan itu membawa konsekuensi besar. Dunia usaha yang dijalani Gondo berjalan seperti roller coaster. Produksi naik-turun, pesanan tak selalu stabil, hingga hantaman pandemi Covid-19 pada 2019–2020. Saat itu, usahanya di Jawa Timur terpaksa berhenti total. Stok sepatu menumpuk, pengiriman dan pembayaran macet.

 

“Dulu seluruh karyawan yang sempat mencapai 40 orang terpaksa harus diberhentikan,” sebutnya.

Pada 2022, Gondo memutuskan pindah ke Jogyakarta. Selain karena anaknya bersekolah di Jogja, kota ini menyimpan ikatan emosional baginya sejak masa kuliah. Produksi kembali dimulai setelah ada tawaran order dari rekan lama industri pada akhir 2021. Januari 2022, ia resmi memulai produksi lagi dengan menerima makloon, order awal sekitar 500 pasang per bulan.

“Awal saya buka usaha di Manding, Bantul, sebagai lokasi awal produksi, karena, Manding memiliki citra kuat sebagai sentra industri kulit,” katanya.

 Baca Juga: Delapan Pelatih Tumbang Sebelum Paruh Musim, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Tren Pemecatan di BRI Super League

Selama tiga tahun berproduksi di Manding, usahanya perlahan tumbuh hingga menangani empat brand. Pada April 2025, ia pindah ke lokasi yang lebih luas untuk menunjang pengembangan produksi.

Saat ini, usahanya mempekerjakan sekitar 15 karyawan, sebagian besar warga lokal, meski dua di antaranya masih berasal dari Jawa Timur.

Tantangan terbesar justru datang dari ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Menurut Gondo, mencari tenaga kerja sepatu di Jogja tidak mudah karena minimnya industri alas kaki dan perlunya proses pelatihan dari nol.

“Sepatu ini beda dengan tas atau dompet. Banyak proses teknis yang harus dipelajari. SDM harus dilatih dari dasar, dan itu butuh waktu serta biaya,” ujarnya.

 Baca Juga: Hanya 38,42 Persen Wisatawan yang Gunakan Hotel Saat Berkunjung ke Kabupaten Sleman

Kapasitas produksi saat ini berada di kisaran 500 pasang per bulan, dengan harga makloon rata-rata Rp 200 ribu–Rp 250 ribu per pasang. Target jangka pendeknya adalah mencapai 1.000 pasang per bulan pada triwulan pertama 2026, dengan target jangka panjang hingga 5.000 pasang per bulan.

“Seiring juga dengan penambahan mesin dan peningkatan serta penambahan SDM,” katanya.

 

Selain menerima pesanan dari beberapa brand, ia juga baru merintis merk sepatu yang diproduksinya sendiri dengan nama Gneo Footwear.

 

Optimisme Gondo bukan tanpa dasar. Ia telah berkecimpung di industri alas kaki sejak 1998, bahkan semasa kuliah sudah memiliki unit produksi tas. Jaringan luas di berbagai daerah menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan order.

 

Kini, Gondo memilih fokus pada sepatu hingga sistem produksi benar-benar mapan. Baginya, usaha bukan sekadar soal untung, tetapi tentang konsistensi, profesionalisme, dan keberanian mengambil keputusan besar.

 

Perjalanan Gondo Wicaksono menjadi bukti pengalaman panjang, jejaring kuat, dan keyakinan pada pilihan hidup dapat menjadi fondasi kokoh dalam membangun industri berbasis keahlian. (cin)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#alas kaki #Usaha Sepatu #Bantul #kulit #usaha #PNS #Gondo Wicaksono Pribadi #Politeknik Akademi Teknologi Kulit