Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sekretaris DPRD Gunungkidul Purwono Sulistyohadi, Awalnya Urusi Tenaga Kerja Asing Kini Jembatan Eksekutif dan Legislatif

Yusuf Bastiar • Minggu, 9 November 2025 | 15:00 WIB
Sekertaris DPRD Gunungkidul Purwono Sulistyohadi
Sekertaris DPRD Gunungkidul Purwono Sulistyohadi

GUNUNGKIDUL - Sosok Purwono Sulistyohadi, 52, dikenal karena dedikasi, kejujuran, dan konsistensinya menjaga integritas. Namun pria kelahiran Kalurahan Playen, Gunungkidul ini menempuh perjalanan panjang lintas instansi pemerintahan sebelum menduduki jabatan sekretaris DPRD Gunungkidul.

“Saya memulai karir di usia 25 tahun, sebagai CPNS di Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) pusat (nama saat ini Kemnaker, Red),” kenang Sulis saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (7/11).

Baca Juga: Kunker ke Kawasan Borobudur, DPR RI Usulkan Desa Wisata di Magelang Jadi Percontohan Nasional

Dia mulai bertugas pada 1998 untuk mengurusi rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA). Namun tak lama kemudian, dia dipindahkan ke Kabupaten Pemalang, lalu ke Kanwil Depnaker Semarang. Di sanalah ia mulai menangani program pemagangan tenaga kerja ke luar negeri, khususnya ke Korea dan Jepang.

Pada 2002, menjelang era otonomi daerah, Sulis dipindahtugaskan ke Magelang sambil menempuh pendidikan S2 Pertanian di UGM. Di sela aktivitasnya, dia melatih siswa SMK dan pekerja migran purna agar siap menghadapi dunia kerja. “Saya selalu percaya, bekerja di pemerintahan bukan sekadar jabatan, tapi amanah. Tanggung jawabnya besar, bukan hadiah yang bisa disalahgunakan,” ujarnya.

Baca Juga: DED Baru Dirancang, DPUPKP Bantul akan Ajukan Dana Rehabilitasi Irigasi ke Pusat: Demi Menjaga Produktivitas Pertanian

Pada medio 2005 menjadi titik balik bagi dirinya. Sulis kembali ke kampung halaman dan bergabung dengan Dinas Tenaga Kerja Gunungkidul, mengurusi perencanaan dan keuangan. Tiga tahun kemudian, ia berpindah ke dinas pertanian sebagai kepala seksi hortikultura. Di sinilah kiprahnya kian dikenal.

Dia merintis konsep Embung Nglanggeran, yang kini menjadi ikon pengelolaan air dan wisata pertanian. Sebagai akademisi pertanian, Sulis juga berperan dalam pemuliaan benih lokal. Padi Segreng Handayani yang banyak ditanam petani Gunungkidul, ternyata dialah yang memperjuangkan sertifikasi dan menjadi bagian dari tesis S2-nya.

Baca Juga: Derby Mataram Panas, Persis Solo dan PSIM Jogja Sama-Sama Janji Tampil Maksimal di Manahan

“Saya ingin pertanian lokal kita punya identitas. Waktu itu, kami juga memperjuangkan sertifikasi tanaman seperti Mangga Malam dan Sirsak Sinyoya. Semuanya lokal dari Gunungkidul,” jelasnya.

Dedikasi itu berlanjut di Bappeda Gunungkidul. Dia tetap fokus pada pengembangan sektor pertanian dan kemandirian pangan. Melalui program Desa Mandiri Pangan, delapan desa berhasil membangun sistem lumbung pangan di setiap rumah tangga.

Setelah sukses di bidang pertanian, Sulis dipercaya mengemban amanah baru di Dinas Sosial Gunungkidul. Di sana ia menangani isu-isu sosial kompleks seperti kemiskinan, lansia, ODGJ, hingga HIV/AIDS.

“Di Dinas Sosial, saya banyak belajar tentang empati. Bantuan itu harus tepat sasaran dan lahir dari hati, bukan formalitas,” ujarnya.

Baca Juga: Kunker ke Kawasan Borobudur, DPR RI Usulkan Desa Wisata di Magelang Jadi Percontohan Nasional

Tak lama, ia sempat bertugas di dinas kelautan sebelum akhirnya pada 2019 dipanggil untuk bergabung ke Sekretariat DPRD Gunungkudul sebagai kepala bidang perencanaan dan keuangan.

Ia mengaku selama lima tahun mengelola perencanaan keuangan itu, justru mengantarkannya pada jabatan puncak. Awal 2024, melalui proses lelang jabatan terbuka, ia resmi dilantik sebagai sekretaris DPRD Gunungkidul.

Sebagai sekretaris dewan (sekwan) Sulis berperan sebagai jembatan antara pemerintah daerah dan lembaga legislatif. Posisi itu, kata dia, menuntut ketepatan, diplomasi, dan transparansi tinggi. Ia memastikan proses legislasi, penganggaran, dan pengawasan berjalan selaras dengan aturan.

“Setwan (sekretariat dewan) itu ibarat dua kaki, satu di pemda, satu di DPRD. Kita harus menyeimbangkan keduanya, memfasilitasi pimpinan DPRD tanpa melanggar prinsip birokrasi,” bebernya.

Baca Juga: Derby Mataram Panas, Persis Solo dan PSIM Jogja Sama-Sama Janji Tampil Maksimal di Manahan

Bagi dia, prinsip utama dalam bekerja hanyalah satu, yakni jujur dan ikhlas. Ia menolak terlibat dalam praktik di luar aturan, meski konsekuensinya tak selalu disukai semua pihak.

“Kalau mau kaya, jadilah pengusaha. ASN itu pelayan masyarakat. Bekerja di pemerintahan harus sesuai aturan dan hati nurani,” katanya mantap.

Dalam setiap langkah, Sulis selalu menanamkan nilai spiritual dalam bekerja. Ia memandang pekerjaannya sebagai ibadah dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Baca Juga: Bisa Pilih hingga Sepuluh Rasa Sesuai Selera, Mochi Dadakan Jadi Tren Baru Jajanan Kekinian

Usia yang sudah dari separo abad, membuat Sulis berupaya memberikan contoh integritas pada generasi muda ASN. Dia ingin membuktikan, kesetiaan pada nilai-nilai kejujuran dan pengabdian adalah kunci keberhasilannya.

“Apa pun yang saya lakukan, harus transparan dan tidak melanggar aturan. Banyak tantangan, tapi saya lebih takut pada kesalahan yang disengaja daripada tidak disukai orang,” pesannya. (bas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#lokal #DPRD gunungkidul #Pertanian #depnaker #Sosok #Gunungkidul #Sekretaris #integritas #kemnaker #Purwono Sulistyohadi