KULON PROGO - Sukses terkadang tak datang sesuai dengan pekerjaan seseorang. Justru kesuksesan ada, melalui jalur yang tak disangka-sangka. Ungkapan ini terlihat dari sosok Slamet Kuswantoro, 49, seorang guru SMAN 1 Kokap.
Tak sekedar berhasil menjadi seorang pendidik, Slamet juga sukses memberdayakan masyarakat berkat pertanian jambu.
"Profesi saya sebenarnya guru hingga sekarang, kalau pertanian ini sekadar hobi," ucap Slamet, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya wilayah Sogan, Wates, Kulon Progo Jumat (19/8).
Kisahnya diawali saat 2005. Slamet mencangkok tanaman jambu dari mertuanya bernama Dalhari. Mertuanya merupakan maestro dan pengembang tanaman jambu dalhari. Berbekal bibit cangkokan dari mertuanya, dirinya mulai menanam tanaman jambu di pekarangan rumah.
Selama bertahun-tahun dirinya memperhatikan perilaku tanaman buah itu. Sebagai seorang guru, Slamet tetap dengan kesibukannya mengajar. Namun, hobinya bertani tak ditinggalkan. Berawal dari hobi itulah mengantarkan dirinya membuat agrowisata tanaman buah yang tak jaruh dari rumahnya.
Agrowisata Tanaman Buah Jambu Dalhari, dimulai sekitar 2019. Sebelum Covid-19, dirinya nekad melakukan penanaman bibit pohon jambu dalhari di atas tanah pekarangan seluas 500 meter persegi. Hanya bermodal bibit cangkok, Slamet mengembangkan tanah menjadi perkebunan.
"Dari pengalaman menanam pertama, mulai menanam banyak," ucapnya.
Slamet menjelaskan, saat menanam jambu dalhari dirinya menjadi perbincangan. Lantaran, aktivitasnya tergolong tak biasa karena belum pasti keuntungannya. Namun, anggapan itu ditepisnya dengan hasil melimpah di tahun pertama saat panen jambu.
Tepat 2021, ratusan pohon yang ditanam dapat berbuah lebat. Saat itu, jambu menjadi komoditas yang layak dijual dengan harga tergolong tinggi. Di samping itu, keuletan Slamet dalam merawat tanaman membawa berkah tersendiri. Tanaman jambu mampu menghasilkan produktivitas cukup tinggi.
"Langsung panen dua kali dalam setahun, harganya juga sedang meroket," ungkapnya.
Berkat tanaman itu, Slamet mendapat kesuksesan tersendiri. Dalam satu tahun, satu tanaman jambu dapat berbuah hingga 200 kilogram. Harga satu kilogramnya relatif tetap, dibanderol Rp 30 ribu. Berkat itu, dirinya mampu meraih keuntungan puluhan juta rupiah. Mengingat jumlah tanamannya mencapai ratusan pohon.
Usahanya mengembangkan pertanian tak sampai situ. Dia pun turut memberdayakan 20 masyarakat untuk mengembangkan agrowisata jambu. Puncaknya, di tahun ini ratusan pengunjung tercatat berdatangan dari berbagai daerah. "Terjauh kemarin dari Sumatera, ikut panen dan belajar dari sini," ungkapnya.
Memiliki dasar sebagai guru, Slamet tak pernah menolak memberikan pengalaman bertaninya. Berkat sikap itulah, agrowisatanya dikunjungi banyak orang. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita