Dia mengembangkan Jamal Farming di Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan. Salah satu produk utamanya adalah jamur lingzhi.
Jamaludin bercerita, jamur ini berbeda dengan jamur yang dikenal masyarakat. Lantaran dimanfaatkan untuk obat, bukan untuk konsumsi.
Khasiatnya bisa untuk obat kolesterol, darah tinggi, diabetes, hingga asam urat. "Asalnya dari Tiongkok. Rasanya pahit seperti teh tanpa gula," terangnya.
Mahasiswa Magister UPNVY Yogyakarta ini menyebut, pengembangan jamur lingzhi ini mengubah citra pertanian tradisional.
Umumnya petani dipandang sebagai pekerjaan yang melelahkan, kotor, dan panas. Sementara untuk jamur ini budidayanya sangat mudah.
"Budidayanya sejuk karena di dalam ruangan. Hanya perlu semprot air saja jadi tidak ribet," tambahnya.
Menurutnya, bisnis ini juga sangat menjanjikan bagi generasi milenial. Mengingat harganya yang cukup fantastis.
Dalam bentuk kering dan sudah dipotong satu kilogramnya dihargai Rp 250 ribu apabila disetor ke perusahaan.
Sementara jika langsung ke konsumen bisa Rp 300 ribu. Lalu di pasar nasional atau luar negeri bisa Rp 600 ribu.
Baca Juga: Tahir Optimistis PSS Sleman Gulung Persiba Balikpapan di Laga Perdana Championship 2025/2026
"Kami bekerja sama dengan mitra sehingga bisa dipasarkan ke luar negeri seperti Tiongkok," tambahnya.
Modal utama komoditas ini hanya baglog atau media jamur yang harga satuannya Rp 4.000. Jamal Farming sendiri memiliki hingga 20 ribu baglog. Setiap seribu baglog bisa menghasilkan hingga 35 kilogram jamur.
"Jamur bisa dipanen empat bulan sekali. Jadi bisa dikalikan saja hasilnya," tambahnya.
Tantangan dari pengembangan usaha ini sendiri adalah musim hujan. Meski bagus untuk pertumbuhan jamur, tetapi membuatnya kesulitan untuk mengeringkannya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun