JOGJA - Kolonel Inf Arif Setiono resmi mengemban tugas sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0734/Kota Jogja sejak Maret lalu. Prajurit TNI AD yang lahir di Kota Lawet, julukan dari Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini selalu identik dengan blangkon setiap kali bertugas.
Hal itu terus dilakukannya baik saat bertemu pejabat maupun masyarakat. Dia mengaku, penggunaan blangkon merupakan salah satu caranya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Sekaligus bentuk penghargaan kepada budaya Jawa. Khususnya Jogjakarta.
Baca Juga: Tampil Gemilang Bela Negaranya, Gelandang PSIM Jogja Rahmatsho Rahmatzoda Cetak Gol untuk Tajikistan
“Ini merupakan salah satu cara membumi dengan tempat saya bertugas, jika hari ini di Jogja maka saya akan menghargai adat istiadatnya,” ujar Arif kepada Radar Jogja, Jumat (5/9).
Perwira menengah TNI ini mengaku, memang tidak ingin membentuk batas TNI dengan masyarakat. Sehingga program kegiatan yang ada di Kodim 0734/Kota Jogja pun selalu memiliki dampak langsung di tingkat bawah.
Misalnya Jogja Cling. Kegiatan ini berupa program bersih-bersih sampah bersama prajurit TNI dan masyarakat. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu mewujudkan Kota Jogja sebagai wilayah yang bersih dan nyaman.
Lalu untuk menjaga ketertiban di masyarakat. Menurutnya, Kodim 0734 juga memiliki program bernama Klinang Klinong. Sebuah kegiatan prajurit TNI yang menyambangi warga di titik-titik rawan keramaian. Program tersebut juga untuk membantu aparat kepolisian dalam menjaga keamanan wilayah.
Selain itu, juga ada Babinsa Ngalong yang menyiagakan prajurit TNI selama 24 jam. Program tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan bantuan dari TNI kapan pun dan dimana pun.
Kemudian juga ada Kodim Jogja Fest. Sebuah kegiatan bazar di Kodim 0734/Kota Jogja yang menjadi wadah bagi pelaku UMKM dan petani milenial untuk menjual hasil produksinya kepada masyarakat.
Sebelum menjabat Dandim 0734/Kota Jogja, Arif diketahui bertugas sebagai Dandim di Papua. Lalu juga pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon 754 Arvita Nabire Papua. Selain itu, dia juga pernah aktif sebagai pasukan UNIFIL yang merupakan pasukan sementara PBB di Lebanon.
“Selama bertugas di Kota Jogja, saya berkomitmen menjaga kondusivitas agar tercipta Jogja yang aman, nyaman dan damai,” tegas Arif.
Berlatar belakang dari keluarga petani, Arif mengaku, berkeinginan kuat menjadi seorang prajurit sudah terpupuk di benaknya sejak masih muda. Meskipun, keinginan tersebut sempat ditolak oleh ibunya. Karena dia diminta untuk meneruskan usaha ternak sapi milik ayahnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita