SLEMAN - Perjalanan hidup Alfatika Aunuriella Dini bisa dibilang sebagai potret nyata bagaimana seorang perempuan mampu menjalani peran ganda dengan penuh dedikasi. Di usianya yang ke-36, perempuan yang akrab disapa Tika ini sukses mengemban banyak tanggung jawab sekaligus.
Tidak hanya menjadi seorang istri dan ibu dari satu anak, dia juga merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Bahkan dia sukses menjabat direktur utama (dirut) Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Baca Juga: Aksi Demo di Mako Polres Magelang Kota Ricuh, Lemparan Batu Dibalas Gas Air Mata
"Saya jadi direktur pada November 2024, belum genap satu tahun. Kalau di FH UGM sejak 2014," beber Tika saat ditemui Radar Jogja Jumat (29/8).
Selain dua peran penting tersebut, sejak 2021 Tika juga dipercaya sebagai Co-Managing Editor Journal of Central Banking Law and Institutions di Bank Indonesia Institute. Meski agenda keseharian padat, dia mengaku tidak merasa terbebani.
Baca Juga: Lima Berkas Perkara Mafia Tanah Mbah Tupon Dilimpahkan ke PN Bantul, Sidang Dimulai 8 September 2025
"Saya senang bisa menjalani beberapa tanggung jawab ini, dan tidak merasa menjadi beban untuk saya," ungkapnya.
Lahir dan besar di Warungboto, Jogja, Tika tumbuh di lingkungan keluarga hukum. Sang ibu merupakan notaris sekaligus dosen. Sementara ayahnya berkarir di pengadilan negeri. Lingkungannya menjadi inspirasi besar dalam menentukan pilihan studi.
Setelah menuntaskan pendidikan sarjana hukum di UGM pada 2011, dia melanjutkan magister kenotariatan di UGM hingga 2013. Tak berhenti di situ, Tika menempuh PhD di University of Agder, Kristiansand, Norwegia, dengan fokus pada sistem informasi dan hukum.
Baca Juga: Jelang Laga Malut United vs PSIM Jogja, Kedua Tim Siap Tempur, Sama-Sama Belum Kalah
"Kalau background keluarga saya hukum semua. Pilihan memilih FH juga terinspirasi dari mereka," ujarnya.
Mengemban jabatan sebagai direktur utama GIK UGM, Tika membawa visi untuk menjadikan GIK bukan hanya ruang inovasi internal kampus. Tetapi juga sebagai student and creativity hub yang bisa mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan industri.
"Itu goals jangka panjang GIK. Tapi untuk setahun ini, kami fokus meningkatkan awareness soal GIK itu sendiri," jelas ibu dari anak berusia tujuh tahun ini.
Di tengah kesibukannya, berkebun menjadi hobi yang masih digelutinya. Oleh karena itu, urban farming di rumah menjadi caranya melepas penat. Sekaligus mewujudkan cita-cita sederhana, menyajikan makanan dari hasil kebunnya sendiri.
"Cita-cita saya ke depan, semua yang ada di meja makan berasal dari kebun sendiri," ujarnya sambil tersenyum. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita