JOGJA - Raut wajah bahagia terpancar dari Mutiara Anindyana Hapsari saat mengenakan toga wisuda di Grha Sabha PramanaUGM, pekan lalu. Di antara 1.408 lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Periode III Tahun Akademik 2024/2025, Mutiara menjadi sosok paling muda yang berdiri di podium.
Apresiasi layak disematkan kepadanya. Mutiara baru berusia 19 tahun 1 bulan 9 hari ketika namanya dipanggil sebagai wisudawan cum laude dari Program Studi S1 Farmasi. "Saya hanya ingin saat lulus nanti orang tua saya masih muda," ujarnya kepada Radar Jogja, Rabu (4/6).
Pernyataan sederhana itu menyimpan kisah panjang dari seorang anak yang tumbuh dengan rasa ingin membahagiakan keluarga sejak usia dini. Mutiara, yang lahir dan besar di Tangerang Selatan, mulai mengikuti program akselerasi sejak SD di Islamic Village Karawaci.
Ia masuk SD pada usia 5 tahun 7 bulan, dan hanya menghabiskan lima tahun di jenjang itu setelah lolos tes psikotes kelas akselerasi saat kelas 2. Tidak berhenti di situ, Mutiara kembali mempercepat langkahnya saat duduk di bangku SMP.
Ia menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertama hanya dalam dua tahun, lalu melanjutkan ke SMAN 3 Tangerang Selatan selama tiga tahun seperti siswa pada umumnya. Kombinasi ini membuatnya masuk UGM di usia yang masih sangat belia, yakni 15 tahun 8 bulan.
"Awalnya ditawari sekolah untuk program akselerasi, dan saya juga ingin mencoba. Orang tua mendukung penuh," katanya.
Diakui, berpindah dari rumah ke lingkungan baru bukan hal yang asing baginya. Namun memasuki dunia perkuliahan tetap menjadi tantangan tersendiri. Apalagi sebagai mahasiswa termuda di kampus sebesar UGM.
"Awal kuliah mungkin terasa susah, belum familiar dengan lingkungan. Apalagi harus merantau sendiri ke Jogja," kenangnya.
Ia bercerita, pada semester-semester awal bahkan sempat mengalami krisis arah dan tujuan. Ia merasa belum cukup mengenal dirinya sendiri, sementara banyak rekan-rekannya telah menemukan minat dan rencana masa depan.
"Di situ saya mulai eksplore hal baru, sambil menikmati proses. Saya coba berhenti membandingkan diri dan lebih fokus memanfaatkan kesempatan yang ada," ujarnya.
Ketekunannya terbayar. Mutiara berhasil menyelesaikan studi dalam 3,5 tahun, mengikuti yudisium pada Februari lalu, dan menyandang gelar sarjana dengan predikat cum laude.
Ia pun terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk menjadi asisten laboratorium penjaminan mutu kosmetika, ikut organisasi kampus, serta aktif di Gadjah Mada Menginspirasi, dan sejumlah kepanitiaan kampus.
Selain itu juga terlibat dalam penelitian akhir yang selaras dengan minatnya di bidang kosmetika berbahan alam. Skripsinya berjudul Optimasi HPMC dan Karbopol serta Uji Aktivitas Tabir Surya dan Sifat Fisik Gel Ekstrak Biji Coffea arabica dan Minyak Biji Vitis vinifera L. secara In Vitro.
"Saya memang tertarik dengan kosmetik dari bahan alam. Menarik karena bisa menyentuh aspek ilmiah dan kreatif sekaligus," paparnya.
Dalam konteks lain, meski disibukkan dunia akademik, Mutiara tetap menyempatkan diri menekuni seni. Salah satu hobinya adalah melukis. Sebuah aktivitas yang masih ia lakukan sesekali untuk melepas penat. Saat SMP dan SMA, ia juga aktif dalam ekstrakurikuler tari saman.
"Kegiatan di luar pelajaran itu penting buat saya, semacam jeda yang bikin lebih waras," katanya.
Di balik semua pencapaiannya, Mutiara tak lupa menyebut keluarga sebagai fondasi utama. Kedua orang tuanya, selalu hadir sebagai pendorong dan pendamping dalam setiap keputusan besar hidupnya.
Saat ini, Mutiara tengah menjalani Program Studi Profesi Apoteker di UGM, tahap lanjutan yang harus ditempuh untuk menjadi apoteker penuh. Ia juga sedang menjalani praktik magang di beberapa tempat sebagai bagian dari proses itu.
"Setelah lulus profesi, rencana sih ingin kerja dulu. Untuk rencana lainnya, masih akan disesuaikan dengan kesempatan ke depan," tuturnya.
Di usianya yang masih sangat muda, Mutiara tahu betul bahwa hidup bukan ajang perlombaan. Ia tidak terburu-buru, namun justru menikmati tiap langkah yang ditempuh.
"Buat teman-teman lain, mungkin sedang di fase bingung atau merasa tertinggal. Nikmati aja prosesnya. Jangan takut eksplore hal baru. Kita enggak harus tahu semua jawabannya sekarang," pesannya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita