RADAR JOGJA - Adrian Powers tahu betul rasanya jatuh cinta pada film sejak kecil. Ia tumbuh dengan kebiasaan menonton film hampir setiap hari di rumah, bahkan bisa menonton dua film yang sama dalam sehari.
Dari situ tumbuh hasrat yang tak terbendung untuk bercerita melalui medium visual.
Kini, nama Adrian dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, dan editor film asal Australia dengan jejak karya yang menembus festival-festival bergengsi seperti Cannes, Austin, hingga Venice.
Namun siapa sangka perjalanan kreatifnya justru dimulai dari pendekatan yang sangat sederhana, menulis dan mengedit film sendiri semasa sekolah film.
"Saya menyebut diri saya film maker, bukan hanya sutradara. Karena saya mengerjakan hampir semuanya sendiri. Itu mengajari saya banyak hal, baik secara teknis maupun kreatif," katanya saat ditemui di Akademi Film Jogjakarta, Senin (2/6/2025).
Ia menguraikan, film pendeknya yang berjudul Brolga tahun 2019, awalnya hanya proyek akhir sekolah.
Tapi setelah dirapikan dan dikirim ke festival, film itu menyabet berbagai penghargaan, termasuk Best Australian Sci-Fi Film dan akhirnya masuk ke dalam Arsip Film dan Suara Nasional Australia.
Kariernya pun meroket. Ia menyutradarai dan menulis film Love Is in the Air di tahun 2023, yang dibintangi penyanyi Delta Goodrem.
Film ini tayang perdana di Netflix dan langsung menduduki peringkat #1 secara global, dengan lebih dari 12 juta penonton hanya dalam sepekan. Film itu juga menjadi film Australia yang paling banyak ditonton di Netflix tahun itu.
Tak hanya itu, ia juga memproduksi film komedi romantis lainnya seperti A Royal in Paradise dan sekuelnya, serta ikut menulis serial Netflix Dive Club yang dinominasikan untuk AACTA dan Logie Awards.
Meski kini berkarya di panggung internasional, Adrian tetap punya pesan hangat untuk anak-anak muda, termasuk dari Indonesia, yang sedang belajar membuat film.
"Tulis apa yang kamu tahu. Tulis sesuatu yang otentik, yang dekat, dan pernah kamu alami. Ketika ada ketulusan, penonton bisa merasakannya," ujarnya.
Menurutnya, film bagus tidak selalu butuh anggaran besar. Banyak karya luar biasa justru lahir dari ide yang kuat dan pendekatan yang jujur. Bukan dari teknologi mewah atau lokasi yang eksotis.
Selanjutnya, ia juga mendorong anak muda untuk berjejaring, bereksperimen, dan tetap adaptif di tengah perubahan teknologi.
Menyoal artificial intelligence (AI), ia mengakui bahwa AI bisa membantu, terutama dalam efek visual atau perencanaan produksi.
Namun ia menegaskan, untuk hal-hal lainnya yang lebih kompleks, kualitas produksi manusia masih akan lebih bagus dan nyata dibandingkan AI.
"Untuk hal seperti ekspresi, intonasi, dan emosi manusia, AI tak akan pernah bisa sepenuhnya menggantikan sentuhan manusia," paparnya.
Lebih lanjut sebagai pengamat industri perfilman, Adrian memandang Indonesia punya potensi besar di dunia perfilman global.
"Banyak film dan sineas Indonesia sudah masuk ke pasar internasional, bahkan ke Hollywood. Kualitasnya tidak kalah," katanya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita