JOGJA - Berawal dari sebuah kamar kos sederhana di Jogja, mahasiswi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) memulai sesuatu yang kemudian menjelma menjadi gerakan kreatif berskala nasional.
Namanya Tatsbita Ratqa Amany. Ia membuktikan bahwa hobi yang dicintai sejak kecil bisa menjadi fondasi bisnis yang berdampak besar.
Tatsbita adalah pendiri Day of Art, platform workshop kerajinan yang telah menggandeng lebih dari 300 brand nasional dan internasional, serta menjangkau peserta di 15 kota di seluruh Indonesia. Dengan lebih dari 500 workshop yang telah digelar.
"Day of Art bukan sekadar bisnis, tapi sebuah komunitas yang memfasilitasi tumbuhnya kreativitas, kolaborasi, dan pemberdayaan," katanya, Minggu (18/5/2025).
Mahasiswi angkatan 2022 ini berujar, sejak SD terbiasa menjual hasil karyanya kepada teman-teman.
Dari gelang hingga kartu ucapan, ia menjajakan di kantin sekolah hingga melalui media daring.
Namun, ide untuk menjadikan hobi ini sebagai bisnis baru datang ketika ia menjadi mahasiswa dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.
"Waktu jadi volunteer di sebuah event, aku pernah merasa tidak maksimal. Dari situ muncul dorongan, kenapa tidak bikin platform sendiri yang bisa mewadahi kreativitas orang lain juga," ungkap Tatsbita.
Di awal perjalanan, Tatsbita harus mengurus segalanya sendiri, mencari tempat acara, mendesain materi, membuat poster, promosi di media sosial, mengurus pendaftaran peserta, hingga menyiapkan perlengkapan logistik.
Semua itu dilakukannya di sela-sela kesibukan kuliah dan kegiatan organisasi.
Diakuinya, kesulitan terbesar membangun bisnisnya bukan hanya pada manajemen waktu, tapi juga membangun kepercayaan.
"Karena saat awal berdiri, belum punya portofolio. Jadi butuh perjuangan ekstra untuk meyakinkan brand dan peserta agar mau bergabung," kenangnya.
Baca Juga: Harga Sayuran di Bantul Mulai Naik Jelang Idul Adha, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya
Namun, kerja keras itu berbuah manis. Seiring waktu, Day of Art tumbuh menjadi jaringan besar yang dikelola oleh tim berisi 26 orang, dengan mitra yang datang dari berbagai sektor, mulai dari UMKM hingga perusahaan multinasional.
Baginya, bisnis ini bukan sekadar usaha komersial, tapi ruang untuk tumbuh bersama.
"Aku bisa menyalurkan hobi di bidang kerajinan dan kolaborasi, jadi apa yang aku kerjakan tidak terasa seperti beban," katanya.
Ia menyebut, kolaborasi menjadi kunci dalam setiap langkah, baik dengan tim, mitra, maupun peserta workshop.
Dari setiap kegiatan yang digelar, Tatsbita mengaku selalu belajar hal baru.
"Bertemu banyak orang dari latar belakang berbeda memberiku perspektif baru soal kreativitas dan kerja tim," ulasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita