RADAR JOGJA - Hidup tak selalu berjalan mulus. Ada anak yang bisa bersekolah tanpa harus memikirkan biaya. Namun, tak sedikit pula yang harus berjibaku mengumpulkan rupiah demi menggapai bangku sekolah.
Dari jerih payah dan perjuangan itulah, seorang anak desa membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Berkat kerja kerasnya, kini ia berhasil mendirikan Desa Bahasa Borobudur, tempat belajar bahasa dan kehidupan bagi banyak orang.
Dia adalah Hani Sutrisno, orang di balik Desa Bahasa Borobudur. Di balik kesuksesannya itu, ada perjalanan panjang yang harus dilewati dengan penuh tantangan.
Kehidupan keluarga yang serba pas-pasan, membuat Hani memutar otak supaya bisa sekolah seperti anak-anak yang lain.
Hani ingat betul, kala itu, dirinya masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Sang ayah meninggal dunia. Sementara ibunya berkutat sebagai petani. Suatu ketika, Hani meminta kepada sang ibu untuk membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Namun, ibunya justru meminta Hani untuk menunggu.
Sebab, dia juga memiliki empat kakak yang masih sekolah. Sehingga sang ibu memprioritaskan kakak-kakaknya terlebih dahulu. "Dari situlah, saya terinspirasi untuk mencari uang sendiri, tidak boleh minta sama orang tua," ujar pria kelahiran Magelang, 4 Agustus 1975 itu, Jumat (16/5).
Di usia yang masih terbilang muda, ia harus mencari dan memecah batu di sungai, yang berada di dekat rumahnya. Hasilnya, Hani jual untuk membayar uang sekolah. Rutinitas itu membuat dirinya tidak perlu meminta uang kepada sang ibu karena sudah memiliki penghasilan, meski tidak seberapa.
Saat duduk di bangku SMP, Hani beralih mengasong di sekitar Candi Borobudur. Di sana, ia berjualan es jolly selama dua minggu. Karena tidak laku, ia beralih menjual cenderamata berupa patung. Namun, jualannya tidak berlangsung lama. Hani pun beralih jualan kartu pos dengan sasaran wisatawan mancanegara.
Dia menyebut, kartu pos sebanyak 10 lembar dihargai dua dolar. Meski kemampuan bahasa Inggrisnya di bawah rata-rata, tapi dia percaya diri menawarkan kartu pos itu kepada wisatawan mancanegara. Mengingat saat itu, banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Candi Borobudur.
Peluang itu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Hani. Ternyata, berjualan kartu pos kepada wisatawan asing sangat menguntungkan. Akhirnya, ia berpikir untuk belajar bahasa Inggris. "Saat itu tahun 1986, saya cari uang Rp 50 ribu-Rp 100 ribu itu kecil karena dibeli wisatawan asing dan saya senang bisa bayar sekolah tanpa minta orang tua," sebutnya.
Perlahan, ia mulai belajar bahasa Inggris dari lingkungan di sekitarnya secara otodidak. Hani juga tidak malu bertanya kepada teman atau siapapun yang menurutnya lebih tahu soal bahasa. Dia pun mengajak teman-temannya supaya belajar bahasa Inggris bersama.
Beranjak SMA, Hani diminta untuk mondok di Jombang, Jawa Timur. Saat liburan, dia menyempatkan pulang ke Borobudur dan masih aktif berjualan karena uang saku yang diberikan sang ibu, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama di Jombang. Selama tiga tahun, dia bersekolah dan mondok di sana.
Lulus dari sana, ia kembali pulang dan berjualan lagi. Namun, dia sempat berpikir untuk mengembangkan kariernya, dibanding menjadi seorang pengasong. Hani pun pamit kepada ibunya untuk kursus bahasa Inggris, tapi tidak ada biaya. Sehingga niat itu diurungkan.
Alhasil, Hani memilih bekerja di bidang konveksi di Bandung. Selama kurang lebih enam tahun berkecimpung di dunia itu, dirinya memutuskan untuk pulang. Dia mencoba belajar bahasa Inggris lagi secara otodidak. Sembari belajar, dia juga mengajar anak-anak muda di Dusun Parakan secara gratis.
Dia juga sempat menjadi pemandu wisata di Borobudur. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Kallen, seorang pendiri kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Hani diminta kursus di sana selama enam bulan. Rampung dari sana, dia kembali ke kampung halamannya dan memanfaatkan ilmu yang didapat untuk berbagi kepada masyarakat.
Berdirilah Desa Bahasa Borobudur sekitar tahun 1998. Hani ingin membuat lembaga kursus yang berorientasi pada profit sekaligus mengangkat desanya menjadi desa bahasa. Meski seorang diri, dia tidak pantang menyerah. Hani mendatangi rumah ke rumah untuk mengajak anak-anak hingga orang tua belajar bahasa Inggris.
Semula, ajakan itu mendapat penolakan. Namun, lama-kelamaan, warga mulai tertarik belajar bahasa Inggris. Kala itu, dia meminta warga untuk belajar selama tiga kali pertemuan. Hari pertama, berjalan dengan menyenangkan. Hari kedua, jumlah warga yang ikut belajar, bertambah. Pun di hari ketiga.
Sejak saat itu, banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk belajar bahasa Inggris dengan Hani. Dia pun menyambutnya dengan suka cita. Namun, Desa Bahasa Borobudur sempat mati suri sekitar 2007 silam. Lantas, pada 2012, Hani tergugah untuk membangun kembali desa bahasa.
Kembalinya Desa Bahasa Borobudur juga membawa perubahan baru karena dikelola secara profesional. Desa Bahasa Borobudur pun semakin berkembang dari tahun ke tahun. Banyak warga datang, baik dari dalam maupun luar negeri untuk belajar bahasa Inggris. Selain belajar, mereka juga dapat berwisata. Fasilitas yang dimiliki pun, cukup lengkap.
Bahkan, saat ini sudah memiliki homestay. Bangunan di Desa Bahasa Borobudur dibangun dengan konsep open space.
Tidak ada sekat pada tempat pembelajaran karena setiap sudutnya dimanfaatkan untuk tempat belajar. Di satu sisi, Hani ingin menghilangkan rasa jenuh dan tidak suka yang kerap dialami siswa saat belajar.
Menariknya, Hani sudah menciptakan 140 metodologi pembelajaran yang diterapkan. Metode itu dapat memudahkan siswa untuk belajar bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan. "Cara mengajar pun lain dibanding yang lain, sehingga mereka yang belajar di sini tidak perlu lama, cukup hitungan hari atau bulan saja," katanya. (aya/wia)
Editor : Herpri Kartun