RADAR JOGJA - Hamzah Sulaiman, yang dikenal dengan nama Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijindyo atau lebih akrab disapa Kanjeng Nindyo, telah berpulang pada usia 75 tahun.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Yogyakarta, terutama bagi mereka yang mengenal sosoknya sebagai budayawan, seniman, dan pengusaha yang berperan penting dalam pelestarian budaya Jawa.
Perjalanan Hidup dan Karier
Lahir dari keluarga pengusaha, Hamzah Sulaiman merupakan putra bungsu dari lima bersaudara.
Orang tuanya, Hendro Sutikno dan Tini Yuniati, adalah pendiri Grup Mirota, yang dikenal dengan pusat oleh-oleh Mirota Batik di Yogyakarta.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Hamzah melanjutkan tradisi keluarga dalam dunia bisnis, namun dengan sentuhan pribadi yang khas.
Selain berbisnis, Hamzah juga mendalami dunia seni peran dan tari.
Ia dikenal dengan nama panggung Raminten, yang ia gunakan dalam pertunjukan ketoprak komedi berjudul "Pengkolan".
Nama "Raminten" kemudian diabadikan sebagai nama rumah makan yang ia dirikan, yaitu The House of Raminten, yang menjadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.
Usaha dan Kontribusi Budaya
Sebagai pengusaha, Hamzah Sulaiman mendirikan Hamzah Batik, sebuah butik yang kini menjadi bagian dari Hamzah Batik & Raminten Group.
Selain itu, ia juga mengembangkan usaha di bidang kuliner dan hiburan, seperti The Waroeng of Raminten dan Raminten Cabaret Show.
Usaha-usaha ini tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga menjadi wadah bagi ekspresi seni dan budaya Jawa.
Hamzah dikenal sebagai sosok yang tidak hanya memimpin, tetapi juga menjadi guru dan teladan bagi karyawannya.
Ia menekankan pentingnya kerja keras, kebersamaan, dan pelestarian budaya dalam setiap aspek kehidupan.
Sebagaimana dikutip dari akun X @HamzahBatik.co.id.
Hamzah menuliskan pesan hidupnya yang mendalam.
Seperti, "Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta" dan "Digdaya tanpa aji", mencerminkan filosofi hidup yang mengutamakan nilai-nilai spiritual dan sosial di atas materi.
Warisan dan Penghormatan
Kepergian Hamzah Sulaiman meninggalkan warisan yang tak ternilai dalam dunia seni dan budaya Yogyakarta.
Sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta, ia dianugerahi gelar Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijindyo, sebuah penghormatan atas dedikasinya dalam melestarikan budaya Jawa.
Warisan budaya yang ia tinggalkan, baik melalui karya seni maupun usaha-usaha yang ia dirikan, akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi para generasi mendatang.
Sebagai penutup, Hamzah Sulaiman bukan hanya seorang pengusaha sukses, tetapi juga seorang budayawan yang berkomitmen pada pelestarian budaya Jawa.
Melalui karya-karyanya, ia telah memberikan kontribusi besar bagi Yogyakarta dan Indonesia.
Kepergiannya adalah kehilangan besar, tetapi warisannya akan terus hidup dan menginspirasi. (Anicetus Awur)
Editor : Meitika Candra Lantiva