Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dianita Sugiyo Menjalani Puasa di Australia dan Jerman, Durasi Bisa 18 Jam, Senang Tambah Keluarga Baru dari Komunitas Muslim Sedunia

Fahmi Fahriza • Rabu, 12 Maret 2025 | 13:30 WIB

 

HARUS LEBIH KUAT: Dianita Sugiyo dan momen-momennya selama menjalani puasa di luar negeri. Ia menjalani puasa di Australia dan Jerman.
HARUS LEBIH KUAT: Dianita Sugiyo dan momen-momennya selama menjalani puasa di luar negeri. Ia menjalani puasa di Australia dan Jerman.

 

 

 

 

RADAR JOGJA - Menjalankan ibadah puasa di luar negeri memiliki tantangan dan dinamika tersendiri dibanding di Indonesia. Mulai waktu puasa yang cenderung lebih lama, hingga batin yang harus lebih kuat karena harus berjauhan dengan sanak famili dan hal-hal lain yang lekat dengan budaya serta kebiasaan Indonesia.

  

Salah satu orang yang memiliki cerita berpuasa di luar negeri adalah Dianita Sugiyo. Dosen prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini, selama beberapa tahun menjalani puasa di Australia dan Jerman.

Dianita menuturkan, ia kali pertama menjalani puasa di luar negeri medio 2010 hingga 2012 silam, saat sedang studi S2 di Flinders University, Adelaide, South Australia. Secara garis besar, durasi berpuasa di Australia dan Indonesia tidak terlalu berbeda, kurang lebih selama 14 jam.

Di samping itu, komunitas muslim juga cukup beragam di Australia. "Banyak juga mahasiswa Indonesia yang studi di Australia, dari jenjang S1 maupun S2. Itu cukup mengobati rasa kangen terhadap Indonesia," katanya kepada Radar Jogja, Senin (10/3).

Dian menyampaikan, salah satu hal yang menarik di tempat studinya saat itu yakni adanya fasilitas common room, yang dapat digunakan untuk aktivitas beribadah oleh semua agama. "Di common room itu ada area khusus muslim juga. Kalau mau berdoa, beribadah, buka puasa juga bisa di situ," ungkapnya.

Selain berbuka dan menjalani ibadah puasa dengan sesama orang Indonesia, Dian mengaku juga cukup banyak komunitas muslim dari Timur Tengah, termasuk dari Turki, dan Arab.

"Mereka bawa takjil masing-masing di musala universitas. Nasi briyani, gulai kambing, dan makanan khas Timur Tengah itu banyak sekali," kenangnya.

Selama di Australia, Dian merasa suasana puasa dan ikatan sesama muslimnya sangat hangat. Apalagi dari pihak universitas, pada bulan Ramadan juga menyediakan buka puasa bersama.

"Selain semua muslim dari seluruh negara membawa makanan khasnya, dari universitas juga menyediakan. Itu pengalaman yang menarik sekali," lontarnya.

Cerita berbeda didapatkan Dian saat ia menjalankan puasa sembari mengambil S3 di Philipps-Universität Marburg, Jerman. Diakui, sejak 2022 hingga 2024 ia sepenuhnya menjalani puasa di Jerman.

"Puasa tahun ini saya pulang ke Indonesia, karena ingin dekat dengan keluarga. Anak dan suami saya di Indonesia. Tapi setelah Lebaran, balik ke Jerman lagi," tuturnya.

Secara garis besar dari tiga tahun pengalamannya menjalani puasa di Jerman, Dian menuturkan situasinya lebih berat dibanding puasa di Indonesia ataupun Australia.

"Kalau di Jerman agak lama waktu puasanya. Saat summer bisa sekitar 16-17 jam. Bahkan pernah hampir 18 jam. Tentu berat, kebersamaannya juga beda. Tapi ada sisi baiknya, bisa mengenal dan menambah keluarga baru dari komunitas muslim sedunia," tambahnya.

Selain durasi waktu yang lebih panjang, Dian berujar jumlah masjid maupun komunitas muslim yang ada tidak sebanyak saat di Australia. "Selama di Jerman saya banyak kumpul di masjid Indonesia, bersama pengurus cabang Muhammadiyah, dari NU juga pernah," bebernya.

Dian membeberkan, salah satu cerita menarik di Jerman adalah di kawasan Frankfurt yang didominasi area wisata dan pedestarian, setiap event khusus mereka selalu memasang lampu dekorasi sesuai event.  Mulai dari momen Natal, tahun baru, dan beberapa perayaan atau hari besar lainnya.

Menariknya, pada Ramadan 2024 lalu, kawasan Frankfurt itu membuat instalasi dan menyalakan lampu khusus untuk memperingati Ramadan. "Setahu saya itu baru kali pertama dilakukan. Sebagai warga muslim, rasanya senang sekali karena merasa diterima di sana," tandasnya. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#muslim #australia #jerman #puasa #UMY #Dianita #Sugiyo #sedunia