PURWOREJO - Asam garam perpolitikan sudah dilalui Tunaryo. Saat ini dia berhasil mempertahankan kursi legislatif tiga kali berturut-turut. Sampai akhirnya ditunjuk sebagai ketua DPRD Purworejo.
Pria berusia 53 tahun itu mengaku sukses menjadi anggota dewan berkat kedekatannya dengan rakyat. Dia tak akan pernah lupa, karirnya bisa melejit seperti sekarang juga dari rakyat. Semua itu tertanam dalam lubuk hatinya sebagai motivasi dalam bekerja di gedung dewan. "Saya tidak punya ambisi ini itu. Yang penting banyak saudara, banyak teman," katanya, Jumat (28/2).
Tunaryo lahir di Bedono, Kecamatan Kemiri 19 Februari 1972. Dia lahir dari keluarga sederhana, bapak merupakan kusir andong dan ibu hanya pedagang kecil. Kondisi perekonomian keluarga yang tak menentu memaksa dirinya untuk bekerja keras tanpa henti.
Sejak muda, Tunaryo memang sudah terbiasa hidup susah. Berbagai pekerjaan telah dia lakoni. Bahkan, saking tidak berpunya, kala itu dia pernah merasakan pedihnya dicampakkan orang. Namun hal ini justru yang membuat dirinya termotivasi untuk tetap berjuang. "Dulu, buat makan saja susah. Boro-boro ada bulanan," ucapnya.
Singkat cerita, hasil dari kerja keras yang dilakukan saat itu dapat mengubah nasibnya. Dia kemudian memutuskan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari gerbong PDI Perjuangan. Tak disangka, Tunaryo sukses melenggang ke gedung dewan dari daerah pemilihan (dapil) 5 meliputi Kecamatan Kemiri, Pituruh, dan Bruno. "Dulu itu kaum lumpen (lemah). Sekarang sudah melenting seperti korea di sana," ujar Tunaryo.
Istilah korea dipopulerkan Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul. Dalam beberapa kesempatan, Wakil Ketua MPR RI itu menerangkan pengertian apa itu korea. Istilah baru ini kemudian masyhur di kancah perpolitikan.
Intinya, sebutan korea lebih dekat dengan falsafah hidup yang tak kenal menyerah. Ibarat kata, meski dalam posisi miskin absolut, seorang korea akan terus berjuang demi meraih tujuan hidup. Kondisi ini pula yang telah dijalani Tunaryo. "Wah, kalau cerita dulu itu sedih. Ingat zaman masih lumpen, trenyuh. Tapi syukur bisa seperti sekarang. Jadi korea sejati," beber Tunaryo.
Tunaryo adalah kader PDI Perjuangan yang sangat menghormati Megawati Soekarnoputri. Dia mengaku tak pernah menawar setiap diberi instruksi dari partai. Semua dilakukan dengan penuh loyalitas dan totalitas. Loyalitas Tunaryo kepada partai sudah tak diragukan lagi. Perjalanan panjang di kancah perpolitikan sudah dia lalui. Mulai dari gerakan pra reformasi sampai sekarang. "Apapun bentuk perintah ketua umum, Bu Mega saya pasti siap," ujarnya.
Tunaryo merupakan satu dari sekian banyak kader PDIP Purworejo yang total di barisan Megawati. Kekaguman dengan sosok Soekarno membuatnya setia di PDIP. Dia meniti karir politik sejak dari nol. Berangkat dari tingkat ranting, kemudian ditunjuk sebagai pengurus PAC. Keberhasilan ini membuat dirinya dipercaya sebagai bendahara DPC PDIP Purworejo. "Saya ikut sejak gambar banteng segitiga. Pernah ditawari pindah partai, diganti semua. Saya jawab tegas, tidak," ungkap Tunaryo.
Tunaryo adalah sosok yang dikenal dekat dengan kaum pinggiran. Dia tak canggung untuk ikut berbaur bersama 'Wong Cilik'. Modal ini yang membuat Tunaryo mudah dikenal masyarakat luas.
Motivasi terbesarnya terjun ke dunia politik tak lain untuk membantu masyarakat. Dia ingin membawa manfaat lebih bagi sekitarnya dari jalur politik. "Sudah saya tanamkan dalam hati. Saya harus bermanfaat. Sebisa dan semampunya," tandasnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita