BANTUL - Sejumlah kelompok masyarakat di pesisir Bantul tergerak untuk meliterasikan disabilitas ke khalayak umum. Fokus utamanya adalah kalangan anak-anak non-disabilitas di lingkungan Parangkusumo dan Parangtritis. Agar mereka memiliki pemahaman yang lebih mumpuni terkait penyandang disabilitas. Sarana yang digunakan untuk mendongeng adalah wayang. Terbuat dari limbah plastik dan kertas.
Karena memiliki fokus disabilitas, seluruh tokoh wayang merupakan penyandang difabel. "Agar anak-anak itu kelak tumbuh sebagai pribadi yang peduli sesama dengan empati," ujar Kus Sri Antoro, pendongeng Sanggar Wayang Limbah Difabel Ki Samidjan Senin (24/2).
Baca Juga: Kalah dari Malut United PSS Sleman di Ujung Tanduk, Fachrudin Yakin Bangkit di 10 Pertandingan Sisa
Kus menuturkan, sumber cerita berasal dari pengalaman sosial atau budaya. Ada juga yang berasal dari dampak kebijakan nasional terkait pangan, krisis lingkungan hidup akibat industri plastik, konflik agraria, dan diskriminasi terhadap disabilitas.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengajak anak-anak paham akar persoalan yang dialami disabilitas. Sebab persoalan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang dialami penyandang disabilitas bersumber dari yang non-disabilitas. Selain itu, sebagai sarana introspeksi diri.
Baca Juga: Gol Aditya di Menit Ke-90 Antar PSHW UMY ke Liga 4 Nasional, Nopendi Syukur-Syukur Kepleset Liga 3
"Fungsi panca indera menurun, ingatan makin pudar dan mental tidak stabil," pesannya.
Rencananya, pementasan wayang limbah plastik difabel akan dipentaskan rutin setiap akhir bulan selama 2025. Pada Januari, cerita yang diangkat berjudul Guneman atau Ngobrol. "23 Februari berjudul Lindungi Tubuh Kita," ungkapnya.
Baca Juga: Wagub Jateng Targetkan Program Yankes Paripurna Terealisasi Pada 2025
Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan kerja sama antara Nyala Litera. Pementasannya selalu dilakukan di Gardu Action, Parangtritis.
Sementara itu, relawan Nyala Litera Ardha Kesuma menambahkan, wayang dari limbah sampah merepresentasikan soal bertanggung jawab dan reflekasi agar hidup lebih ramah lingkungan. Menurutnya, karakter difabel memberikan pengetahuan baru bagi anak-anak di pesisir Bantul. "Orang netra bukan tidak melihat tetapi melihat dengan meraba, mendengar dan membaui," bebernya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita