JOGJA - Jasa foto baju adat kini menjadi warna baru di Malioboro. Sosok di balik pesatnya usaha tersebut adalah Tekattono. Dia merupakan pensiunan Satpol PP Kota Jogja yang kini aktif sebagai pemilik Blangkon Creative. Apa misinya?
Berfoto dengan busana jawa sudah menjadi agenda wisatawan asal Jakarta Esti Nurani saat berwisata ke Jogja. Meski kawasan Malioboro diguyur hujan pada Rabu siang (29/1) tak mengurungkan niatnya menggunakan jasa foto busana adat jawa. Sekaligus, mengabadikan momen bersama dengan keluarganya ketika berwisata di Malioboro.
Berfoto dengan baju adat jawa, kata dia, juga memiliki ciri khas tersendiri yang sangat identik dengan ikon Jogjakarta. Dia pun mengaku cukup takjub dengan hasil foto yang cukup bagus dari penyedia jasa foto di Malioboro. “Rencana hasil fotonya saya upload di sosmed, sekalian juga pamer ke teman-teman,” katanya, saat ditemui, Rabu (29/1).
Baca Juga: Persak Gunduli Persikama 3-0 di Lapangan Puliharjo, Ruang Ganti Pemain Gunakan Tenda BNPB
Sosok di balik moncernya tren jasa foto baju adat jawa adalah Tekattono. Seorang pensiunan pegawai Satpol PP Kota Jogja yang juga pemilik Blangkon Creative. Blangkon Creative merupakan salah satu usaha yang menyediakan jasa foto baju adat bagi wisatawan di kawasan Malioboro.
Sosok yang akrab Pak Te Blangkon ini mengatakan, Blangkon Creative berawal dari Koperasi Pokoke Blangkon yang didirikannya pada 2017 lalu. Koperasi tersebut bisa dibilang pelopor atau yang pertama kali menyediakan jasa foto di Malioboro.
Sebelum tersedia di Gedung Merah Malioboro seperti saat ini. Blangkon Creative pada awalnya berada di rumahnya yang beralamat di Kampung Pajeksan, GT 1/693 RT 41 RW 11. Letaknya tidak jauh dari kawasan Malioboro tepatnya di kelurahan Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Jogja.
Sejak dua tahun lalu, koperasi juga sudah didaftarkan ke Dinas Kebudayaan. “Karena kami berkomitmen menjadi pelestari budaya adat Jawa,” ujarnya kepada Radar Jogja, Rabu (29/1).
Pak Te menceritakan, berkembangnya jasa foto baju adat itu bermula dari usaha kaki lima miliknya yang berkutat dalam penjualan blangkon dan pakaian adat Jawa. Sembari berjualan, kala itu dia juga menawarkan jasa rias gratis bagi wisatawan yang membeli dagangannya.
Berkat penawaran tersebut, banyak wisatawan yang kemudian meminta agar bisa difoto lewat ponsel. Namun karena hasil foto ponsel kurang maksimal, dia pun menggandeng fotografer agar gambar yang dihasilkan lebih maksimal.
Bak gayung bersambut, jasa foto baju adat dengan fotografer pun semakin diminati oleh wisatawan. Jumlahnya juga sampai membludak. Serta diakui, dirinya sempat kewalahan karena jumlah wisatawan yang ingin di foto menjadi semakin banyak.“Akhirnya saya pun menggandeng anak-anak muda di kampung saya untuk menjadi fotografer. Sekarang sudah puluhan yang berhasil diberdayakan,” terangnya.
Pria 65 tahun ini mengaku, dari jasa foto yang didirikannya juga mampu memberdayakan banyak orang. Misalnya ada yang berprofesi sebagai fotografer, penyewa busana adat, admin, hingga perias bagi wisatawan yang akan berfoto.
Namun di samping itu, dia juga memiliki misi untuk mengenalkan Malioboro hingga kancah internasional. Salah satunya melalui tren foto dengan baju adat di kawasan tersebut. Hasilnya pun cukup membanggakan, karena tidak sedikit wisatawan domestik maupun mancanegara yang menggunakan jasa itu.
Bahkan seiring waktu berjalan, mulai banyak usaha jasa foto baju adat lain yang tumbuh di Malioboro. Dia pun merasa bangga dan tidak tersaingi dengan kondisi tersebut. Sebab tidak sedikit masyarakat diberdayakan yang kemudian berdampak pada kesejahteraan mereka. “Saya bersyukur dengan jasa foto baju adat menjadi warna baru di Malioboro, sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” tandasnya. (pra)