JOGJA - Tercatat sudah sekitar 25 tahun atau tepatnya sejak 1999 silam, Andre Harso Binawan berkecimpung di industri perhotelan. Laki-laki lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA ini terhitung sejak Januari 2023 menjabat sebagai General Manager (GM) Artotel Jogjakarta.
Dalam perjalanan karirnya, Andre telah mengemban tanggung jawab di berbagai hotel di beberapa kota besar Indonesia. Sebemunya pernah berkarir di Purwokerto, Bandung, Semarang, Surabaya, Batam, Salatiga, hingga Jakarta.
Menariknya, dalam setiap perpindahan kota yang dijajaki olehnya, keluarga selalu jadi pihak yang turut diboyongnya untuk tinggal bersama. "Keluarga selalu ikut di semua perpindahan kota. Itu adalah support utama, doa dan kehadiran mereka itu menguatkan saya," katanya kepada Radar Jogja kemarin (23/12).
Dikatakan, keluarga juga menjadi bahan diplomasinya ke owner atau operator jika mau hire-nya sepaket dengan keluarganya sekalian. Ia menekankan, keluarga baginya adalah segalanya. Hal itu juga diaplikasikan dan disampaikan kepada para staf dan timnya.
Sebagai seorang GM, Andre kerap menegur para stafnya yang bekerja secara overtime, bahkan tak jarang mememintanya untuk pulang. Ini agar bisa membagi waktu dengan keluarga atau kehidupan personal masing-masing stafnya.
"Saya bukan tipikal workaholic. Work life saya balance, dan itu juga saya terapkan ke tim saya," ungkap pria kelahiran 26 Februari 1978 ini.
Ia mengungkapkan justru marah kalau stafnya overtime di hotel. "Saya suruh pulang. Saya tekankan mereka juga punya kehidupan personal. Pulang untuk ketemu keluarga, pasangan, atau teman," tambah ayah satu ini.
Hal itu dilakukannya bukan tanpa sebab. Dalam perjalanan karirnya, Andre melewati sebuah tragedi di mana ia kehilangan sang ayah dan tidak bisa hadir di saat-saat terakhirnya.
Dari kejadian itu, ia tidak ingin orang lain mengalami atau melewati pengalaman serupa dirinya, termasuk para stafnya. "2008 anak saya lahir di Batam. Beberapa hari sebelum dia lahir, saya dapat kabar papa saya meninggal. Karena satu dan lain, saya tidak bisa hadir saat papa meninggal, bahkan tidak hadir di pemakamannya," kenangnya.
Dia baru bisa datang ke makam papanya setelah dimakamkan sekitar 6 bulan. "Dan itu salah satu penyesalan terbesar saya," lanjutnya.
Dalam konteks pekerjaan, Andre selalu mengizinkan, bahkan cenderung mengharuskan para karyawannya jika ada salah satu anggota keluarga mereka yang sakit atau terkena musibah untuk pulang terlebih dahulu.
"Kalau ada staf yang bilang keluarganya sakit, tanpa ragu saya minta dia pulang, mengurus keluarganya dulu. Itu yang saya tekankan," sebutnya.
Bagi Andre, keamanan dan kenyamanan para staf atau orang-orang yang bekerja dengannya adalah sebuah kebahagiaan terbesar. "Kebahagiaan terbesar saya saat taraf hidup dan progresi karir staf saya meningkat. Itu saya bahagianya bukan main," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Heru Pratomo