MAGELANG - Hokky Krisdianto, mantan pebalap nasional asal Magelang, tutup usia. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan maut di Situbondo, Jawa Timur, Senin (18/11/2024). Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Dunia balap Indonesia tengah berduka. Sosok Hokky Krisdianto sudah tidak asing lagi di telinga pecinta balap. Apalagi, ia merupakan mantan pebalap nasional yang dikenal piawai dan berbakat di lintasan.
Namun, Hokky berpulang tepat tiga hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-44. Ia terlibat kecelakaan di jalur Pantura Surabaya-Situbondo, tepatnya di sekitar objek wisata Pantai Tampora, Banyuglugur, Sitobondo, Senin (18/11/2024).
Saat itu, Hokky yang mengendarai sepeda motor Nmax dengan nomor polisi AB 5670 NX hendak menuju Bali. Hokky segera dilarikan ke Puskesmas Banyuglugur. Hanya saja nyawanya tidak bisa diselamatkan. Jenazah kemudian dibawa ke kampung halamannya di Dusun Kendal Growong, Pucungrejo, Muntilan, Kabupaten Magelang.
Ibu Hokky Krisdianto, Susanti mengaku, ada orang yang mendatangi rumahnya sekitar pukul 09.30. Semula ia sempat bingung karena orang itu menanyakan anak sulungnya. "Dia menunjukkan foto dan bertanya, 'apakah betul ini fotonya putra ibu?'. Saya mengiyakan dan bertanya keperluannya. Dia ngabari kalau Hokky kecelakaan," ujarnya saat ditemui di kediamannya Selasa (19/11/2024).
Susanti sempat kaget dan ingin mengetahui kondisinya pasca kecelakaan. Ia pun meminta untuk disambungkan via WhatsApp. Selang beberapa saat, Santi melihat kondisi anak sulungnya melalui video call. Namun, dia menyebut Hokky tidak sadar sehingga tidak menunjukkan pergerakan apa pun. Hatinya sudah tak keruan.
Di tengah perasaan yang kalut, dia menghubungi anak bungsunya. Santi diminta untuk ke Sitobondo dan membawa beberapa baju ganti. Dia pun meminta tolong keponakannya untuk mengantarkan ke Situbondo. Setibanya di Tempel, Sleman, Santi ditelepon anak bungsunya. Ia justru diminta kembali ke rumah tanpa menjelaskan situasinya.
Santi semakin kalut dan perasaannya tidak menentu. Pikiran-pikiran aneh membayanginya. Lantas, ia kembali menelepon sang anak tiga kali, tapi tidak diangkat. "Waktu diangkat, saya protes, kenapa dtelepon kok tidak diangkat. Anak saya bilang, 'maaf, mah. Mas Hokky sudah tidak ada, nge-drop' gitu. Saya di mobil gregetan sendiri," katanya.
Mendengar kabar itu, ponakannya meminta keluarga dan warga di rumah untuk menyiapkan segala keperluan. Mulai tenda, kursi, piring, gelas, dan lainnya. Sesampainya di rumah, warga sudah berkumpul dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Anak kedua Santi pun segera pulang ke rumah usai mendengar kabar itu.
Keluarga semakin cemas menanti kedatangan jenazah. Sekitar pukul 22.00, ambulans yang membawa jenazah Hokky tiba di rumahnya. Keluarga, teman, hingga tetangga turut menyambut kedatangan jenazah mantan pebalap nasional itu. Jenazah Hokky segera dimandikan. Keluarga dan warga bergantian menyalati mendiang Hokky.
Sekitar pukul 23.30, jenazah Hokky disemayamkan di tempat pemakaman umum di dusunnya. Pelayat tak henti-hentinya datang untuk memberi doa dan penghormatan terkahir kepada legenda balap itu. Tangis dan haru mengiringi kepergiannya. Puluhan karangan bunga pun berjajar di depan rumah Santi. Itu menjadi bukti bahwa semasa hidupnya, Hokky dikenal banyak orang dari berbagai kalangan.
Santi menyebut, terakhir bertemu dengan Hokky pada 14 November. Saat ulang tahun pun, Hokky hanya meminta doa Santi. Di hari spesialnya itu, Hokky menyempatkan bertemu anak semata wayangnya, Julian Krisdiandra Putra yang duduk di kelas 11 SMA, sebelum bertolak ke Bali.
Dia mengaku tidak mendapat firasat atau pertanda khusus. Namun selama lima hari berturut-turut, Santi memakai gamis hitam dan kerudung hitam panjang. "Nggak tahu kenapa, saya lima hari itu senang pakai gamis dan kerudung hitam. Tapi, kami memang sempat video call-an, ngabari pas di jalan," lontarnya.
Sejak masih muda, Santi bercerita, Hokky memiliki ketertarikan besar terhadap dunia balap motor. Bahkan, saat ditanya sang nenek soal cita-citanya, ia dengan mantap menyebut hendak menjadi seorang pembalap yang andal. Pria kelahiran 5 November 1980 itu mulai belajar otomotif saat duduk di bangku SMA. Cita-cita itu pun didukung penuh oleh kedua orang tuanya.
Hokky mengawali kariernya di level lokal hingga akhirnya merambah ke kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional maupun internasional. Puncaknya, sekitar tahun 2000-an, ia mulai menarik perhatian dengan menunjukkan kemampuan dan bakat luar biasa di lintasan. Bahkan, Hokky dikenal sebagai pembalap dengan gaya berkendara yang agesif serta teknik mumpuni.
Hokky dikenal sebagai pembalap yang selalu mengenakan nomor 57. Karena itu, ia memiliki julukan Hoks Fiftyseven. Hokky kerap menorehkan prestasi gemilang yang mengukir namanya di ajang balap motor. Selama kariernya di dunia balap, Hokky terlibat dalam berbagai kejuaraan nasional. Termasuk kejuaraan nasional Motoprix dan Indoprix.
Di ajang-ajang itu, ia menempati posisi podium di banyak seri. Tidak berhenti di kejuaraan nasional, Hokky juga mewakili Indonesia di beberapa kompetisi internasional. Seperti Petronas Asia Road Racing Championship (ARRC) yang digelar di sirkuit Buriram United International Circuit, Thailand.
Keberhasilannya itu tidak hanya mencetak prestasi di tingkat nasional, tetapi juga memberikan kontribusi penting terhadap reputasi balap motor Indonesia di luar negeri. Namanya kian harum di dunia balap nasional. Prestasi-prestasi yang ditorehkan itu membuktikan bahwa Hokky merupakan pembalap yang konsisten dan berprestasi. Bahkan, ia juga dikenal sebagai pembalap profesional.
Di rumah Santi, ada puluhan trofi milik Hokky yang diletakkan dalam satu lemari kaca. Berjajar rapi dan penuh dengan kenangan. "Dulu sering nonton Hokky di mana-mana, Sumatera, Bali, dan lainnya. Rasa khawatir itu pasti ada. Apalagi kalau Hokky belum sampai sirkuit dan sering jatuh di depan saya," ucapnya.
Setelah pensiun sebagai pembalap, Hokky tidak meninggalkan dunia balap. Buktinya, ia mendirikan tim balap sendiri bernama Honda Duck 57 Racing Team. Tim ini fokus untuk mengembangkan bakat pembalap muda di Indonesia dengan memberikan pelatihan dan dukungan penuh agar mereka dapat meraih potensi terbaiknya.
Pada musim 2018, tim yang dirintisnya mulai menunjukkan eksistensi hingga mengikuti berbagai ajang balapan. Selain itu, ia juga aktif menjadi Racing Comitte. Hokky juga kerap membagikan aktivitasnya terkait dunia balap melalui Instagram pribadinya. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu menginspirasi dan penuh dedikasi semasa hidupnya.
Adik Hokky Krisdianto, Fendi Setiawan menilai, sang kakak adalah sosok yang luar biasa. Dia tidak menyangka, relasinya sangat banyak dan menganggap Hokky sebagai pribadi yang baik. "Kepada keluarga pun, perhatiannya luar biasa. Apalagi ke mama dan adik-adiknya. Dia itu tempat kami curhat dan sambat. Kami jelas merasa kehilangan sosok itu," ujarnya. (aya/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita