KULON PROGO - Berkarya tak pernah memandang usia. Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sosok Ihsan Muchlis Amirudin, 20. Lahir di keluarga petani, Ihsan mampu mengembangkan alat yang berperan pada sektor pertanian. Padahal penciptaan alat hanya berawal dari menjawab tantangan sang ayah.
Mencoba mengulik kisah inspiratifnya, Radar Jogja mendatangi kediamannya di Padukuhan Gelaran, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Selasa (5/11). Kala itu, mahasiswa UNY ini sedang mempersiapkan produk klaper atau perangkap hama yang akan dipasarkan ke berbagai daerah.
Jari jemarinya nampak lihai dalam memanaskan timah yang digunakan untuk menyambungkan kabel ke PCB kontrol perangkap. Ihsan juga melakukan uji nyala lampu ultraviolet yang berperan penting untuk memancing hama. Ia juga melakukan pengemasan pada produknya. "Mekanismenya hampir sama dengan perangkap nyamuk menggunakan sinar ultraviolet," ungkapnya.
Ihsan menjelaskan, mekanisme perangkap hama mirip dengan perangkap nyamuk. Sinar ultraviolet berperan penting dalam memancing hama seperti wereng. Sudah menjadi sifat alaminya, serangga akan menuju tempat yang dianggap terang dan hangat. Sehingga saat malam hari serangga hama pasti mendekati sinar ultraviolet.
Sifat alami itulah yang coba dikembangkan Ihsan untuk membuat perangkap. Dirinya memanfaatkan pipa bekas dalam membentuk kerangka, dan menggunakan nampan kecil yang diisi air sabun untuk menangkap serangga. Untuk tenaga lampu ultraviolet, alatnya memakai panel surya kecil. Tujuannya meminimalisi penggunaan listrik konvensional, sekaligus mengaktifkan lampu saat malam tiba.
"Total sudah 2.500 produk yang kami produksi. Pasarnya di seluruh Pulau Jawa, Kalimantan, dan NTT," ujarnya.
Pemuda yang lahir di keluarga petani ini menjelaskan, ribuan produk telah dipasarkan. Ia mendapatkan pesanan melalui perusahaan yang memenangkan tender dari pemerintah. Alat perangkap hama dibanderol Rp 250 ribu, yang telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
Di balik kisah suksesnya mengembangkan produk alat perangkap, Ihsan menjelaskan ada unsur ketidaksengajaan dalam membuat klaper. Pembuatan klaper diawali saat Ihsan menerima curhatan dari ayahnya.
Sebagai petani, ayahnya mengeluhkan banyaknya hama bawang merah yang menyerang tanaman. "Itu tahun 2020 saat saya masih SMK jurusan teknik elektronika industri," tuturnya.
Ihsan menjelaskan, keluhan ayahnya disampaikan saat pandemi Covid-19. Saat itu banyak hama yang menyerang tanaman milik keluarganya. Padahal keluarganya memiliki prinsip menanam tanaman organik. Sehingga, tanaman mereka tak pernah disemprot pestisida.
Menanggapi curhatan ayahnya, Ihsan berpikir keras dan menemukan ide mengembangkan perangkap hama yang berprinsip pada perangkap nyamuk. Bermodal pelajaran saat di sekolah vokasi, ia mulai merangkai perangkap hama.
Setelah menghabiskan waktu hampir dua bulan, prototype perangkap berhasi dibuat. Uji coba perangkat hama ini dilakukan di sawah milik keluarganya. Ternyata alat ini berfungsi optimal dalam menjebak hama. Terbukti dalam satu malam, nampan perangkap selalu dipenuhi hama seperti wereng hingga kupu-kupu lalat busuk.
Ihsan kemudian mulai memperbanyak alat perangkap, karena muncul banyak permintaan dari tetangganya. Pasalnya, tetangga memiliki masalah yang sama dengan hama dan ingin mengatasinya dengan alat perangkap.
Produksi perangkap hama ini mulai dilirik di tahun 2022 oleh berbagai pihak. Salah satunya Dinas Pertanian Kulon Progo yang memesan ratusan perangkap untuk dibagikan ke kelompok tani. Pasca itu, Ihsan mulai mem-branding produknya dan terus memproduksi alat perangkap hingga sekarang. (laz)
Editor : Heru Pratomo