Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal GKR Mangkubumi: Putri Sulung Sultan HB X, Sosok Pemimpin Modern yang Berpegang Teguh pada Tradisi

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 23 Oktober 2024 | 21:32 WIB
GKR Mangkubumi, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dengan permaisuri GKR Hemas.
GKR Mangkubumi, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dengan permaisuri GKR Hemas.

RADAR JOGJA - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri sulung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, adalah sosok yang memainkan peran penting dalam menjaga warisan budaya Kraton Yogyakarta sekaligus mendorong kemajuan di berbagai sektor.

Lahir dengan nama GRAy Nurmalita Sari, putri mahkota itu tak hanya dikenal sebagai pewaris tradisi keraton, tetapi juga sebagai pemimpin yang aktif di dunia organisasi, bisnis, dan sosial.

Ia menikah dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro pada tahun 2002 dan memiliki dua anak, yakni Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari dan Raden Mas Drasthya Wironegoro.

Dengan posisinya sebagai Lurah Putri di Kraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi bertanggung jawab atas pelestarian seni dan adat istiadat keraton, termasuk memimpin Abdi Dalem perempuan atau Abdi Dalem keparak dan Sentana Dalem putri serta mengurus berbagai upacara sakral.

Di luar tembok keraton, kiprah GKR Mangkubumi meluas hingga ke organisasi kemasyarakatan dan bisnis, menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan.

Dedikasinya dalam melestarikan budaya, sambil terus mendorong Yogyakarta agar tetap relevan di era global, menjadikan GKR Mangkubumi sosok pemimpin yang menginspirasi banyak orang, baik di dalam keraton maupun di luar lingkup tradisi bangsawan.

Putri Sultan HB X yang lahir di Bogor pada 24 Februari 1972 itu, juga menjabat sebagai Ketua KNPI DIY, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, serta Ketua Kadin DIY.

Dalam bidang bisnis, ia adalah komisaris PT Jogja Magasa Iron, yang bergerak dalam pertambangan pasir besi, dan PT Madubaru, perusahaan gula dan etanol di Bantul.

Selain itu, GKR Mangkubumi aktif di sejumlah organisasi internasional dan nasional, termasuk di Asosiasi Sutera Alam dan berbagai kelompok usaha lainnya.

Dengan berbagai kiprah ini, ia berfokus pada pemberdayaan masyarakat, terutama pemuda dan perempuan, sambil tetap melestarikan nilai-nilai budaya Jawa.

Visi Modern GKR Mangkubumi untuk Yogyakarta

Sebagai sosok yang lahir di era modern, GKR Mangkubumi memiliki visi untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan.

Ia percaya bahwa budaya dan warisan leluhur Yogyakarta harus terus diajarkan kepada generasi muda.

Baginya, Kraton Yogyakarta bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi harta warisan yang harus terus dirawat dan dijaga.

Melalui berbagai jabatan yang diembannya, ia ingin agar masyarakat Yogyakarta tetap terhubung dengan akar budaya mereka di tengah modernitas yang terus berkembang.

Dalam setiap kiprahnya, baik di organisasi sosial, bisnis, maupun tradisi keraton, GKR Mangkubumi berusaha menjadikan Yogyakarta tetap berdaya di era global tanpa kehilangan identitas budaya yang telah lama menjadi kebanggaannya.

Sebagai sosok yang mengemban banyak peran, mulai dari pemimpin di keraton hingga aktif di berbagai organisasi dan bisnis, GKR Mangkubumi menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas bisa berjalan berdampingan.

Visi dan dedikasinya untuk melestarikan budaya sekaligus memberdayakan masyarakat menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di tengah era yang terus berubah, kiprahnya menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur Jawa tetap relevan dan penting untuk terus dipertahankan.

Dengan semangatnya, GKR Mangkubumi memastikan bahwa Yogyakarta tidak hanya kuat secara budaya, tetapi juga mampu bersaing di kancah global, tanpa melupakan akar tradisinya yang kaya.

Menjaga Tradisi

Sebagai putri tertua dan lurah putri, Gusti Mangku memiliki tugas memimpin beberapa upacara keraton.

Ini bagian dari tanggung jawabnya melestarikan tradisi. Selain itu, ia dan adik-adiknya juga aktif menarikan tarian istana.

Gusti Mangku sendiri, dibandingkan dengan saudara yang lain, adalah yang paling banyak membawakan Tari Bedhaya di Bangsal Kencana.

Hal tersebut merupakan pertunjukan seni sekaligus ritual yang sangat sakral di Keraton Yogyakarta.  

Gusti Mangkubumi memandang budaya keraton harus terus diselaraskan seiring perkembangan zaman dengan tetap memegang teguh esensi, filosofi dan aturan adat.

Sebab, tradisi dinilai tak boleh lenyap sekalipun pelaksanaannya dapat menyesuaikan zaman. Masyarakat memiliki tugas untuk menjaga, merawat dan melestarikan atas apa yang sudah dikerjakan oleh para pendahulu hingga keraton masih berdiri kokoh sejak 1755 hingga sekarang.

"Keraton bukan milik kita pribadi, tapi keraton milik leluhur yang harus kita jaga seutuhnya". (Muhammad Irfan Arib)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#raja keraton yogyakarta #sultan hb x #pemimpin modern #puteri keraton #Putri Sultan HB X #visi modern #Sosok #Kraton Yogyakarta #Menjaga Tradisi #Sri Sultan Hamengku Buwono X #GKR Hayu #GKR #GKR Mangkubumi