Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sumedi, Dulu Tukang Becak Kini Mampu Olah Limbah Plastik Sebulan 600 Kg, Jadi 50 Jenis Kerajinan Hiasan Akuarium

Muhammad Hafied • Jumat, 20 September 2024 | 04:05 WIB
INOVATIF : Sumedi, 66, warga Desa Karangsari, Kecamatan Kebumen menunjukkan kerajinan yang dibuat dari limbah plastik.
INOVATIF : Sumedi, 66, warga Desa Karangsari, Kecamatan Kebumen menunjukkan kerajinan yang dibuat dari limbah plastik.

 

 

RADAR JOGJA - Usianya mungkin sudah tak lagi muda. Tapi bukan berarti Sumedi hanya berdiam diri di rumah. Di masa senjanya, dia masih tetap semangat beraktivitas dengan mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai jual tinggi.

 

Sudah 18 tahun lebih Sumedi bergelut dengan plastik bekas. Dia menganggap hal ini bukan pekerjaan hina. Justru dari limbah plastik itu dia bisa menghidupi keluarga serta mencukupi biaya anak sekolah.

Lewat tangan dinginnya, pria 66 tahun ini mampu mengolah limbah menjadi karya estetik. Setidaknya Sumedi kini sudah menghasilkan 50 jenis kerajinan dari bahan baku plastik bekas. Kerajinan itu kebanyakan diproduksi untuk hiasan akuarium. Namun sebagian juga banyak dipesan untuk pajangan interior rumah.

Baca Juga: Ukir Sejarah Baru, Tim Basket 3x3 Putri Yogyakarta Rebut Emas PON XXI Aceh-Sumut 2024

Baca Juga: Tak Sekadar Menyangkut Yang Bersifat Estetik, Hilmar Farid: Mitigasi Bencana Termasuk Kebudayaan

Beberapa hasil karya Sumedi yang sering dipesan seperti miniatur bonsai, jembatan, dan tugu keong. Ketiganya banyak dilirik karena dinilai cukup unik dan estetik. "Sekarang jualan online dibantu keluarga dan tetangga. Jadi cepat laku. Kalau kirim bisa sampai luar pulau," ungkapnya Kamis (19/9).

Saat dijumpai, Sumedi terlihat sedang sibuk memoles barang setengah jadi dari limbah plastik. Rumah pria bertubuh kecil itu berada di Desa Karangsari RT 03/05, Kecamatan Kebumen. Atau persis di seberang jalan SMAN 2 Kebumen.

Meski belum membuka toko, rumah Sumedi selalu ramai didatangi orang yang ingin membeli kerajinan dari limbah plastik. Selain benilai bisnis, dia menganggap proses mengolah limbah plastik ini juga sebagai wujud cinta lingkungan.

Betapa tidak, dalam sehari saja Sumedi mampu mengolah sedikitnya 20 kilogram plastik bekas. Jika di rata-rata satu bulan, dia butuh enam kuintal limbah plastik sebagai bahan baku kerajinan. "Sekali kulakan plastik bekas itu dua kuintal. Kadang ada pemulung bawa, tetap saya terima," kata Sumedi.

Baca Juga: Kebutuhan Ikan Mayoritas Dipasok dari Luar Daerah , Ramai-Ramai Indonesia Impor, Bantul Tidak Melakukannya

Baca Juga: Polresta Sleman Tetapkan Direktur Pengembang Malioboro City Jadi Tersangka, Satu Tersangka Lain Masih Buron

Baca Juga: Kebutuhan Ikan Mayoritas Dipasok dari Luar Daerah , Ramai-Ramai Indonesia Impor, Bantul Tidak Melakukannya

Dia masih ingat betul perjalanan mengawali produksi olahan limbah plastik. Alasan utamanya ingin beralih dari pekerjaan sebelumnya sebagai tukang becak. Sebab, kala itu pengasilan dari mengayuh becak tak menentu. Di lain sisi, pria itu juga merasa resah melihat plastik bekas yang belum diolah secara optimal.

Kemudian berkat insting seni yang dimiliki, dia mencoba membuat kerajinan dari limbah plastik. Tak disangka, karyanya dilirik masyarakat. Sampai berkembang seperti kondisi sekarang. "Awalnya coba-coba. Waktu itu laku Rp 3 ribu. Hasilnya sama dengan andong becak. Dari situ saya titip ke toko, ternyata laku," ungkapnya.

Dia bersyukur, penjualan kerajinan dari limbah plastik kini laku keras. Dalam satu bulan Sumedi mampu mencukupi kebutuhan pasar sedikitnya 1.000 produk. "Mau pilih apa, tergantung selera. Saya jual dari harga Rp 7 ribu sampai Rp 35 ribu," tambahnya. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#kebumen #tukang becak #Sampah #Kerajinan