RADAR JOGJA - Usianya mungkin sudah tak lagi muda. Tapi bukan berarti Sumedi hanya berdiam diri di rumah. Di masa senjanya, dia masih tetap semangat beraktivitas dengan mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai jual tinggi.
Sudah 18 tahun lebih Sumedi bergelut dengan plastik bekas. Dia menganggap hal ini bukan pekerjaan hina. Justru dari limbah plastik itu dia bisa menghidupi keluarga serta mencukupi biaya anak sekolah.
Lewat tangan dinginnya, pria 66 tahun ini mampu mengolah limbah menjadi karya estetik. Setidaknya Sumedi kini sudah menghasilkan 50 jenis kerajinan dari bahan baku plastik bekas. Kerajinan itu kebanyakan diproduksi untuk hiasan akuarium. Namun sebagian juga banyak dipesan untuk pajangan interior rumah.
Baca Juga: Ukir Sejarah Baru, Tim Basket 3x3 Putri Yogyakarta Rebut Emas PON XXI Aceh-Sumut 2024
Baca Juga: Tak Sekadar Menyangkut Yang Bersifat Estetik, Hilmar Farid: Mitigasi Bencana Termasuk Kebudayaan
Beberapa hasil karya Sumedi yang sering dipesan seperti miniatur bonsai, jembatan, dan tugu keong. Ketiganya banyak dilirik karena dinilai cukup unik dan estetik. "Sekarang jualan online dibantu keluarga dan tetangga. Jadi cepat laku. Kalau kirim bisa sampai luar pulau," ungkapnya Kamis (19/9).
Saat dijumpai, Sumedi terlihat sedang sibuk memoles barang setengah jadi dari limbah plastik. Rumah pria bertubuh kecil itu berada di Desa Karangsari RT 03/05, Kecamatan Kebumen. Atau persis di seberang jalan SMAN 2 Kebumen.
Meski belum membuka toko, rumah Sumedi selalu ramai didatangi orang yang ingin membeli kerajinan dari limbah plastik. Selain benilai bisnis, dia menganggap proses mengolah limbah plastik ini juga sebagai wujud cinta lingkungan.
Betapa tidak, dalam sehari saja Sumedi mampu mengolah sedikitnya 20 kilogram plastik bekas. Jika di rata-rata satu bulan, dia butuh enam kuintal limbah plastik sebagai bahan baku kerajinan. "Sekali kulakan plastik bekas itu dua kuintal. Kadang ada pemulung bawa, tetap saya terima," kata Sumedi.
Dia masih ingat betul perjalanan mengawali produksi olahan limbah plastik. Alasan utamanya ingin beralih dari pekerjaan sebelumnya sebagai tukang becak. Sebab, kala itu pengasilan dari mengayuh becak tak menentu. Di lain sisi, pria itu juga merasa resah melihat plastik bekas yang belum diolah secara optimal.
Kemudian berkat insting seni yang dimiliki, dia mencoba membuat kerajinan dari limbah plastik. Tak disangka, karyanya dilirik masyarakat. Sampai berkembang seperti kondisi sekarang. "Awalnya coba-coba. Waktu itu laku Rp 3 ribu. Hasilnya sama dengan andong becak. Dari situ saya titip ke toko, ternyata laku," ungkapnya.
Dia bersyukur, penjualan kerajinan dari limbah plastik kini laku keras. Dalam satu bulan Sumedi mampu mencukupi kebutuhan pasar sedikitnya 1.000 produk. "Mau pilih apa, tergantung selera. Saya jual dari harga Rp 7 ribu sampai Rp 35 ribu," tambahnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo