RADAR JOGJA - Pencapaian yang membanggakan diraih oleh dosen Fakultas Biologi UGM Dr. Dwi Sendi Priyono, ia baru saja ditetapkan menjadi anggota penuh pertama dari Indonesia di Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), yakni sebuah organisasi internasional untuk ilmu forensik satwa liar.
Sendi sendiri memang memiliki latarbelakang sebagai ahli DNA forensik satwa liar, dan kini ia menjabat sebagai kepala laboratorium Sistematika Hewan di Departemen Biologi Tropika UGM."Dengan keanggotaan ini, semoga saya bisa memperkuat penanganan kejahatan satwa liar di Indonesia," katanya, Kamis (22/8).
Sendi menyadari, bahwa secara garis besar Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun harus diakui juga bahwa kasus-kasus yang menyangkut hal tersebut masih sangat masif."Selama ini kita dikenal sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, namun juga jadi pusat perdagangan satwa ilegal," tuturnya.
Sendi berujar, dengan keanggotaannya di SWFS, ia berharap bisa berkolaborasi dengan para ahli internasional, untuk mengembangkan metode yang lebih efektif dalam menangani kejahatan satwa liar dan mendukung upaya pelestarian spesies yang terancam punah di Indonesia. "Motivasi utama saya bergabung di SWFS untuk memperluas jaringan dan akses pengetahuan di bidang forensik satwa liar, khususnya dalam pendekatan DNA," ungkapnya
Disebutkan, untuk bisa menjadi anggota penuh SWFS bukanlah hal yang mudah. Sendi harus melalui proses seleksi yang ketat, melibatkan penilaian terhadap portofolionya dalam bidang DNA forensik satwa liar, dan mendapat minimal dua rekomendasi dari ahli forensik satwa liar internasional.
"Tantangan besar yang dihadapi itu memenuhi standar tinggi yang ditetapkan oleh SWFS," paparnya.
Disampaikan, bahwa keterlibatannya dalam membantu berbagai kasus dengan pihak eksternal seperti Mabes Polri, Badan Intelijen dan Keamanan Polri, serta hasil kerja yang telah dipublikasikan secara ilmiah, akhirnya membantunya mendapat keanggotaan penuh.
Keahlian Sendi dalam teknik identifikasi DNA forensik tidak muncul begitu saja. Sebelum menjadi dosen di UGM, ia lama berkecimpung dalam dunia konservasi satwa liar di berbagai nongovernment organization (NGO).
Dengan latarbelakang keilmuan yang ia miliki, Sendi berharap dapat memberikan kontribusi ilmiah yang diperlukan untuk mendukung tindakan hukum terhadap pelanggaran perdagangan satwa liar di Indonesia.
"Teknologi DNA forensik satwa liar bukan hal baru di dunia konservasi, tapi belum banyak diadopsi di Indonesia karena keterbatasan SDM dan fasilitas," ujarnya.
"Kami pakai teknik DNA untuk mengidentifikasi spesies dan mengkonfirmasi apakah barang bukti itu berasal dari spesies yang dilindungi," lontarnya.
Ia menyampaikan, salah satu kasus yang paling berkesan baginya adalah ketika ia berhasil mengidentifikasi asal geografis dari gading gajah yang berniat diselundupkan.
"Hasil analisis ini berperan krusial dalam proses hukum, dan mendukung upaya pelestarian dengan menyediakan bukti ilmiah yang kuat," tandasnya (iza).
Editor : Satria Pradika