Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kiprah Broto Wijayanto Ciptakan Ruang Berkesenian Bagi Penyandang Disabilitas di Yogyakarta

Fahmi Fahriza • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 17:29 WIB
Broto Wijayanto, bentuk komunitas Deaf Art Community (DAC) hingga komunitas Bawayang.
Broto Wijayanto, bentuk komunitas Deaf Art Community (DAC) hingga komunitas Bawayang.

 

RADAR JOGJA - Lebih dari 20 tahun, Broto Wijayanto mengabdikan dirinya untuk memberikan advokasi sekaligus menciptakan ruang kreasi baru bagi penyandang disabilitas di Yogyakarta. Dia mendirikan komunitas Deaf Art Community (DAC) hingga komunitas Bawayang. "Kalau mimpi jangan nanggung-nanggung." 

FAHMI FAHRIZA, JOGJA

Menghidupkan seni pertunjukan di tengah keterbatasan pemain bukan hal mudah. Namun tidak bagi Broto, nyatanya hal itu telah ia buktikan.

Memiliki bekal seni peran, dia tertantang mendedikasikan keilmuannya bagi para penyandang disabilitas di Yogyakarta.

Alumnus teater ISI Yogyakarta itu pun menciptakan ruang kreasi mereka dengan mendirikan komunitas Deaf Art Community (DAC), yang telah dibentuk sejak 28 Desember 2004 silam dan pada 2019 silam berganti nama menjadi komunitas Bawayang.

Sudah dua dasawarsa, komunitas ini berjalan.

Pengalaman mengajar teater pada anak-anak penyandang disabilitas membawanya larut dalam perjalanan hidupnya. 

Bukan karena ia memiliki anggota keluarga disabilitas, atau pernah merawat dan membantu disabilitas sebelumnya.

Broto mengaku apa yang ia lakoni ini murni datang dari hatinya. 

Pada 2004 silam, Broto diajak seorang kolega yang memintanya mengajari teman-teman difabelnya untuk berkesenian.

Ia merasa tertantang dan menyanggupi tawaran tersebut.

"Saya pikir, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Penyandang tuli juga bisa berkesenian," ungkap Broto kepada Radar Jogja, Sabtu (10/8/2024).

Namun di tengah perjalanannya ia mengaku sempat stres berbagai kendala dia temui.

"Saya sempat stress, ada 30an teman tuli, dan semua bisa bahasa isyarat, justru saya yang gak ngerti sama sekali," lanjut pria kelahiran Demak ini.

Yang semula dianggap tantangan kini menjadi pengabdian luar biasa baginya.

Tak patah semangat, Broto pun turut belajar bahasa isyarat kepada mereka dan para teman tuli tersebut belajar kesenian teater dari Broto.

Kini apa yang dia tanamkan pun berbuah manis.

"Sebuah kolaborasi insidental yang ternyata berlanjut hingga saat ini," bebernya.

Foto para anggota komunitas Bawayang saat sedang tampil dalam gelaran teater.
Foto para anggota komunitas Bawayang saat sedang tampil dalam gelaran teater.

Saat ini, komunitas Bawayang masih aktif dengan agenda-agenda berbasis kesenian.

Tak hanya teater, tapi ada pantomim, sulap, tari hip hop gaya bebas, pencak silat, hingga permainan perkusi.

"Sekarang saya bilang ke mereka, kalau mimpi tidak usah tanggung-tanggung dan takut, harus berani," kelakarnya.

Komunitas Bawayang seringkali tampil dalam berbagai agenda kesenian dan budaya, bahkan sampai tampil di luar kota dan luar negeri.

"Anak-anak ini sudah pentas di banyak kota, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Makasar, Bali. Bahkan sampai ke Swiss," terangnya.

Lebih lanjut, selain berfokus dengan komunitas Bawayang, Broto juga aktif mengajar di kelas teater Art For Children (AFC) yang berlangsung secara reguler di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

"Saya sering ajak anak-anak komunitas untuk terlibat dan mengajari juga," lontarnya.

Pengalaman menjadi guru tidak tetap di SMKI Yogyakarta jurusan teater selama lima tahun memberi pengaruh besar. Bagaimana dia menjadi pengajar bagi penyandang disabilitas.

"Pengalaman mengajar memudahkan saya untuk adaptasi," bebernya.

Broto memiliki mimpi besar. Yakni, mengumpulkan para penyandang disabilitas dalam satu area, dan memberikan wadah mobilitas sosial, pekerjaan, hingga hidup mereka yang tergabung jadi satu dalam sebuah kampung.

"Jadi Keinginannya bikin kampung disabilitas, semua kumpul di situ, bisa bekerja, bersosial satu sama lain," harapnya.

"Tapi itu mimpi besar yang juga butuh banyak hal. Mulai dari usaha, dana, waktu. Kami usahakan ke sana," tandasnya. (iza)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Taman Budaya Yogyakarta (TBY) #komunitas Bawayang #Seniman #Ruang Berkesenian #Yogyakarta #Deaf Art Community #Ruang Berkesenian Bagi Penyandang Disabilitas #komunitas #DAC #SMKI Yogyakarta #Kiprah #Broto Wijayanto #penyandang disabilitas #Ciptakan #teater #pengabdian