RADAR JOGJA - Dari 697 wisudawan Universitas Tidar (Untidar) ke-67, ada mahasiswi peraih indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.00. Dia adalah Desty Puteri Hardyati, mahasiswi yang mengenyam pendidikan di program studi (prodi) S1 Ilmu Hukum, FISIP. Karena itu, dia meraih predikat summa cumlaude.
Desty berhasil lulus dalam kurun waktu 3 tahun, 6 bulan, 2 hari. Selama itu pula, dia hanya mengantongi nilai A. "Alhamdulillah dari total 144 SKS nilainya A semua dan kebetulan nggak ada konvensi SKS," bebernya, Sabtu (3/8).
Semula, dia mengaku sedikit kebingungan saat pertama kali kuliah di Prodi Hukum dari jalur SNBP. Mengingat semasa sekolah, Desty masuk di jurusan bahasa. Kendati begitu, dia tak gentar untuk terus belajar. Apalagi dia cukup menyukai tantangan dan hal-hal baru.
Dia semakin aktif belajar dan mencari tahu sesuatu. Termasuk membaca jurnal. Dia juga rutin merangkum materi dari semester satu hingga delapan. “Setiap ada (istilah soal hukum, Red), saya cari referensi atau jurnal untuk nambah pengetahuan," akunya.
Tidak hanya itu, ia kerap belajar secara langsung di masyarakat untuk mendalami soal hukum. Kemungkinan, kata dia, upaya itulah yang membuat Desty satu langkah lebih maju ketimbang teman-temannya. Mengingat mereka kebanyakan hanya mengandalkan teori di bangku perkuliahan, tapi masih kebingungan untuk mengimplementasikannya.
Bahkan, setiap ada pemaparan rencana pembelajaran semester (RPS) masing-masing mata kuliah di awal semester, dia tidak absen untuk mencatatnya. Biasanya, sehari sebelum kegiatan perkuliahan berlangsung, Desty membaca materi pembelajaran yang hendak diberikan.
Dia selalu menerapkan prinsip, tidak akan datang ke kelas dalam keadaan otak kosong. Alias tidak membawa bekal apa-apa untuk memulai pembelajaran. "Saya nggak mau otak dingin (kosong). Jadi saya baca dulu (materi) biar bisa aktif (selama perkuliahan)," ujarnya.
Semasa kuliah, perempuan berusia 22 ikut bergabung dalam Satgas Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) Untidar. Dia juga magang di salah satu platform hukum online. Hingga mendaftar sebagai paralegal di advokat gender.
Rektor Untidar Sugiyarto mengatakan, sebelumnya, belum pernah ada wisudawan peraih IPK 4.00. "Baru kali ini, pecah telur. (Jadi nilai sempurna) iya. Apalagi dia mahasiswa penerima KIP, saya juga kaget," lontarnya.
Dia menuturkan, prestasi yang diraih oleh Desty itu dapat menjadi motivasi agar mahasiswa lain terus belajar. Apalagi Desty merupakan penerima KIP-K. Wisudawan terbaik kedua adalah Clarisa Dian Putri dari prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dengan perolehan IPK nyaris sempurna, yakni 3,99. (eno)