Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Winarno Berdayakan Kaum Difabel di Kulon Progo untuk Produksi Keripik Benguk, Dipasarkan hingga Hongkong

Anom Bagaskoro • Jumat, 2 Agustus 2024 | 13:10 WIB
KERIPIK: Para penyandang disabilitas membuat keripik benguk di rumah produksi Mucuna Chips di Kulon Progo.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
KERIPIK: Para penyandang disabilitas membuat keripik benguk di rumah produksi Mucuna Chips di Kulon Progo.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Melalui Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Santika, pera penydang disabilitas mampu berdaya dengan memproduksi keripik benguk bernama Mucuna Chips. Hal ini tidak lepas peran Winarno, salah satu pionir berdirinya Santika.


Berawal dari perkumpulan individu yang memiliki keterbatasan, kelompok ini justru mampu mengembangkan bisnisnya sendiri. Winarno menceritakan, kelompoknya berdiri tahun 2019 dengan tujuan memberikan lapangan pekerjaan bagi kaum difabel.


Di Kalurahan Kaliagung tempat berdirinya kelompok ini, terdapat ratusan penyandang disabilitas yang membutuhkan wadah. "Berawal dari perkumpulan rutin, terus ada yang mengusulkan untuk membuat produk," ucap Winarno saat ditemui Radar Jogja (30/7).


Ia menuturkan, keberadaan kelompok ini sebenarnya sudah ada sejak 2018. Namun saat itu gagasan untuk pemberdayaan kelompok difabel belum nyata. Munculnya gagasan berawal saat salah satu warga yang memiliki latar belakang guru SLB mengusulkan pembuatan produk keripik benguk.


Gagasan kemudian ditindaklanjuti dengan mengajukan kegiatan pemberdayaan melalui Kalurahan Kaliagung. Saat itu, kelompok yang berisi 50 orang melakukan uji coba pembuatan produk.
Namun hasil produknya tak seoptimal untuk diperjualbelikan. Lantaran pengolahan benguk menjadi tempe menemui kesulitan. Pengelolaan dari tempe menuju keripik tak dapat diterima pasar karena kualitasnya tidak konsisten. "Butuh waktu setahun untuk uji coba. Selama proses itu kami tak mendapat keuntungan, bahkan rugi," ucapnya.


Kelompoknya bisa bertahan walaupun tak mendapat keuntungan. Ia mengaku dapat dukungan dari kalurahan, serta keuletan setiap anggota untuk mempertahankan produksi. Keuletan serta kesabarannya berbuah manis. Setelah satu tahun menjalani uji coba, produksi mulai berjalan normal dan menghasilkan keuntungan.


Dalam pembuatan keripik membutuhkan waktu panjang dan sangat membutuhkan keuletan. Lantaran sebelum menjadi keripik, kaum difabel harus membuat tempe dari biji benguk kering. Mereka harus merebus biji benguk menjadi cukup empuk dan tak beracun.


Setelah itu benguk dicampur ragi untuk proses penjamuran tempe. Jika sudah menjadi tempe, dilanjut dengan pencacahan dan penggorengan keripik. Kemudian dilanjutkan ke penirisan dan pengemasan untuk dipasarkan.


Selama proses produksi, kaum difabel perlu pengawasan ekstra. Lantaran beberapa difabel yang memiliki kekurangan mental perlu pengarahan. Tujuannya agar setiap proses produksi sesuai SOP dan tak membahayakan kaum difabel.


"Sekarang sudah banyak dikenal dengan nama Mucuna Chips," tuturnya. Kini keripik benguk yang diproduksi KDK Santika memiliki banyak penggemar. Bahkan produknya dipasarkan ke seluruh Indonesia, terakhir kali produk ini dipasarkan ke mancanegara yaitu Hongkong.


Tingginya minat keripik benguk, terjadi karena cita rasa keripik yang gurih dengan berbagai kemasan menarik. Keunikan keripik ini juga berasal dari komoditas benguk. Lantaran,benguk merupakan kedelai yang beracun apabila tak diolah dengan benar.


Sehingga kebanyakan pembeli merasa penasaran dengan cita rasanya. "Sekarang setiap harinya bisa mengolah 4 kg biji benguk dengan hasil produk 7 kg keripik," tutur Winarno.
Ia mengungkap, kelompok ini sekarang mulai berkembang dan menaungi 151 anggota kaum difabel. Sedangkan untuk operasional produksi dikelola oleh 8 orang difabel. Difabel yang dinaungi berupa difabel cacat fisik, mental, atau wicara. 


Dengan keberadaan kelompok ini cukup banyak membantu perkonomian kaum difabel. Setiap bulannya, kaum difabel yang bekerja mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1 juta. Terlebih perjuangan kelompok ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah. Beberapa OPD bahkan memberikan bantuan pada rumah produksi, dan kelompok ini juga mendapat gelontoran dan keistimewaan. (gas/laz)

Editor : Satria Pradika
#kaum difabel #Kulon Progo #hongkong #penyandang disabilitas #Keripik benguk #pekerjaan