Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Bambang Saparyono Buat Gerakan Membaca Bahasa Jawa di Nol Kilometer Yogyakarta: Saya Prihatin..

Delima Purnamasari • Minggu, 2 Juni 2024 | 19:07 WIB
Bambang Saparyono saat menjajakan bukunya berbahasa Jawa di Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (1/6/2024) lalu.
Bambang Saparyono saat menjajakan bukunya berbahasa Jawa di Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (1/6/2024) lalu.


JOGJA – Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu di Nol Kilometer Yogyakarta Bambang Saparyono akan membawa sepeda ontelnya.

Dia akan membawa buku yang ia tulis sendiri untuk bebas dan gratis dibaca oleh para pelancong.

Kegiatannya dilakukan sekitar pukul tujuh hingga sepuluh pagi.

“Selain jadwal itu, saya jalan pagi sama istri. Kegiatan ini belum lama, baru sekitar sebulan atau dua bulan,” ujarnya kala ditemui Sabtu (1/6/2024) lalu.

Bambang sendiri merupakan pensiunan dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Jogja sejak 2013 lalu.

Sebelumnya, ia sempat berkuliah di Fakultas Farmasi UGM dan dilanjutkan Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan Dasar di Mahidol University, Thailand.

Kini, selain mengajak masyarakat untuk membaca karya bahasa Jawa, ia sibuk memelihara ikan wader di kolam rumahnya.

“Saya prihatin dengan bahasa Jawa yang berlaku di masyarakat sekarang. Anak-anak kecil sama orang tuanya pakai bahasa ngoko. Basa Jawa banyak dipakai, tapi engga pas,” jelasnya soal motivasi gerakan ini.

Buku yang ia bawa ada tiga judul, yakni Warnaning Urip: Kumpulan Crita Cekak Basa Jawa, Aji Dudu Watu, dan Mekaring Kembang Tresna.

Buku-buku tersebut ia susun dengan menerapkan unggah-ungguh bahasa Jawa. Misalnya, istri kepada suaminya atau cucu kepada kakek-neneknya.

“Novel pertama cerita soal rumah tangga. Keluarga yang sudah sepuluh tahun menikah, tidak punya anak, terus sama orang tuanya suruh menikah lagi. Tapi nikah kedua ini menyebabkan gelombang hati istri pertama,” jelasnya.

Tulisan-tulisan tersebut sebelumnya sudah pernah ia unggah di Facebook setiap hari Jumat. Kegiatan ini konsisten ia lakukan sejak tahun 2021 dan sudah mencapai episode ke-36.

“Kemudian pembaca yang lain menanyakan nasib salah satu tokoh. Akhirnya muncul novel kedua. Jadi, ada dwilogi,” jelas Bambang.

Tamat dari Facebook, ia mengaku telah mencoba menawarkan karya tersebut ke beberapa penerbit.

“Ada yang mau menerbitkan asal saya membeli minimal 200 eksemplar buku saya. Satu bulan saya menunggu baru ada keputusan itu,” keluhnya.

Rasa kecewa membawa ia untuk mengantarkan karyanya pada penerbit indie dan ia biayai sendiri.

Ia juga sempat menawarkan bukunya untuk dijual di toko buku, tetapi mereka juga menolak.

Di Nol Kilometer ini, Bambang mengaku justru banyak pembaca yang akhirnya membeli bukunya.

“Bahasa Jawa ini bisa dipakai sehari-hari dengan cara yang benar. Memang gak mudah, tapi dalam pikiran saya harus banyak buku yang seperti ini,” harap Bambang.

Kini, ia sedang membuat buku bahasa Jawa selanjutnya. (cr1)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Bambang Saparyono #membaca #basa jawa #Yogyakarta #Nol Kilometer #Mahidol University #Kesehatan #Fakultas Farmasi UGM #sepeda ontel #buku #Facebook 2024 #pelayanan #gratis #dasar #bahasa jawa #menulis #thailand #Cerita #penerbit #gerakan #Jogja #manajemen