Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar 1,8 Km ke Kali Krasak dan Sat

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:23 WIB
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai

SLEMAN - Gunung Merapi yang berdiri di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang dinamis pada Kamis (29/10/2026) pagi.

​Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung api aktif ini terus mengeluarkan guguran lava pijar yang meluncur ke arah lereng.

​Hasil pemantauan periodik sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB mengonfirmasi adanya lima kali kejadian guguran lava pijar yang terpantau secara jelas dari pos pengamatan.

​Seluruh aliran material guguran lava tersebut meluncur menuju sektor barat daya, mengancam sejumlah hulu sungai yang berhulu langsung di puncak Merapi.

​Secara terperinci, dua kali luncuran lava pijar teramati mengalir deras menuju hulu Kali Krasak dengan jarak jangkauan maksimum mencapai 1.800 meter.

​Sementara itu, tiga kali guguran lava lainnya bergerak ke arah hulu Kali Sat atau Kali Putih dengan jarak luncur yang sama, yakni 1.800 meter.

​Dari segi pengamatan visual, pemandangan tubuh Gunung Merapi tampak cukup jelas dan diselimuti oleh cuaca yang cenderung cerah hingga berawan sejak dini hari.

​Di atas puncak kawah, teramati asap berwarna putih dengan intensitas tebal yang membumbung lemah hingga ketinggian sekitar 30 meter.

​Kondisi meteorologi di sekitar kawasan puncak mencatat embusan angin bertiup secara perlahan dan mengarah ke sektor selatan serta barat.

​Pihak pengamat mencatat suhu udara berada pada kisaran sejuk 17,5 hingga 19,9 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban udara mencapai 100 persen.

​Di sisi lain, tekanan udara di kawasan lereng atas tercatat stabil pada rentang angka antara 875,5 hingga 918,9 mmHg selama pengamatan berlangsung.

​Selain pantauan visual di permukaan, instrumen kegempaan milik BPPTKG juga merekam aktivitas seismik yang masih cukup tinggi di dalam perut bumi.

​Gempa guguran mendominasi catatan kegempaan pagi ini dengan total kejadian mencapai 11 kali gerakan guncangan.

​Amplitudo gempa guguran tersebut bervariasi antara 2 hingga 30 milimeter, dengan durasi luapan getaran berlangsung cukup lama sekitar 64,65 hingga 181,44 detik.

​Selain itu, terdeteksi pula 14 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2 hingga 39 milimeter serta durasi berkisar antara 19,1 hingga 64,17 detik.

​Petugas penyusun laporan BPPTKG, Suraji dan Yulianto, turut mencatat satu kali peristiwa gempa Vulkanik Dangkal beramplitudo 19 milimeter dengan durasi 11,72 detik.

​Berdasarkan akumulasi data statistik kebencanaan tersebut, BPPTKG menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi masih bertahan berada pada Level III atau Siaga.

​Peneliti menjelaskan bahwa suplai magma di dalam tubuh gunung hingga kini masih terus berlangsung sehingga memicu potensi munculnya awan panas guguran sewaktu-waktu.

​Zona potensi bahaya di sektor selatan dan barat daya saat ini mencakup Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km.

​Adapun pada sektor tenggara, daerah rawan meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km dari titik kawah utama.

​Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya, mewaspadai ancaman bahaya lahar dingin saat hujan turun, serta mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
berita jogja Gunung Merapi BPPTKG status siaga merapi guguran lava