SLEMAN - Kabut kelabu tampak merangkul erat lereng-lereng curam pada Rabu pagi yang hening. Gunung Merapi, sang penjaga kehidupan di jantung Pulau Jawa, kembali menyembunyikan paras gagahnya di balik pekatnya cuaca mendung yang menyelimuti kawasan tersebut.
Suasana mistis nan memukau ini terekam jelas dalam periode pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada tanggal 28 Oktober 2026, tepatnya sejak pergantian hari pukul 00:00 hingga 06:00 WIB.
Hawa dingin yang menusuk tulang perlahan menyapa warga di lereng gunung. Suhu udara pada pagi itu tercatat berada di kisaran 17,4 hingga 20 derajat Celcius, menciptakan embun yang menetes pelan dari dedaunan di kebun-kebun warga.
Tingkat kelembapan udara pun terasa sangat maksimal, menyentuh angka 99 hingga 100 persen. Di sisi lain, angin pagi terpantau bertiup sangat tenang dan damai, membawa embusan sejuk yang mengarah perlahan ke ufuk barat.
Secara visual, pandangan mata ke arah puncak sangat terbatas akibat tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Gunung api berketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut ini seakan enggan membiarkan manusia mengintip aktivitas di mahkotanya.
Asap kawah yang biasanya mengepul membawa pesan dari perut bumi, pada rentang waktu ini sama sekali tidak teramati atau berstatus nihil. Puncak gunung seolah tertidur lelap tanpa meninggalkan jejak aktivitas di udara.
Namun, jangan pernah tertipu oleh tenangnya wajah sang gunung dari luar. Di kedalaman perut bumi yang gelap dan panas, Merapi terus berdenyut, menunjukkan bahwa kehidupan vulkaniknya sama sekali belum mereda.
Instrumen seismograf BPPTKG yang tak pernah tidur mencatat adanya 23 kali gempa guguran. Runtuhan material bebatuan dari kubah lava ini berguguran memecah kesunyian malam di atas sana, meski tak terlihat oleh mata telanjang.
Gempa guguran tersebut tercatat memiliki amplitudo antara 2 hingga 24 milimeter. Durasi getarannya pun cukup bervariasi, membentang dari 46,32 detik hingga getaran terpanjang yang mencapai 170,89 detik.
Tidak hanya guguran, denyut nadi Merapi juga terekam melalui dua kali gempa tremor non-harmonik. Getaran ini memiliki durasi lebih dari satu menit, menjadi pertanda aliran fluida atau magma yang sedang mencari celah jalan di dalam perut gunung.
Yang tak kalah menjadi perhatian adalah terekamnya 18 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa jenis ini merupakan bahasa alam yang tegas, mengisyaratkan adanya tekanan magma baru yang terus merangsek naik menuju kawah.
Selain aktivitas internal, seismograf juga menangkap 8 kali gempa tektonik jauh. Rentetan getaran ini menegaskan betapa dinamis dan kompleksnya pergerakan lempeng bumi di bawah pijakan kita.
Seluruh data kegempaan ini bermuara pada satu kesimpulan mutlak yang harus dipahami masyarakat: suplai magma segar dari perut bumi masih terus berlangsung, menyimpan potensi bahaya mematikan kapan saja.
Menghadapi dinamika alam yang terus bergejolak ini, pihak berwenang dengan tegas menetapkan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi masih teguh berada di Level III alias Siaga.
Peringatan bahaya ini bukanlah sekadar imbauan di atas kertas. Terdapat potensi ancaman nyata berupa guguran lava pijar dan awan panas yang siap meluncur menyapu sektor selatan hingga barat daya.
Di sektor tersebut, luapan material vulkanik dapat mengancam kawasan alur Sungai Boyong dengan jarak luncuran maksimal sejauh lima kilometer dari titik kawah puncak.
Ancaman yang lebih jauh mengintai aliran Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng. Di jalur-jalur air ini, awan panas mampu melesat jauh hingga jangkauan maksimal tujuh kilometer ke arah bawah.
Sementara itu, untuk wilayah di sektor tenggara, potensi bahaya mematikan ini mengintai kawasan alur Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga radius lima kilometer.
Tidak hanya bahaya awan panas guguran, jika sang gunung tiba-tiba batuk dan memuntahkan letusan eksplosif, lontaran batu dan material vulkaniknya mampu menghujani area hingga radius tiga kilometer dari puncak.
Selain bahaya letusan, ancaman di musim penghujan seperti saat ini juga wajib diwaspadai bersama. Warga yang tinggal dan beraktivitas di bantaran sungai harus siaga terhadap datangnya banjir lahar dingin yang bisa menyapu tiba-tiba.
Kehidupan di lereng Merapi mengajarkan kita harmoni yang sejati antara manusia dan alam. Patuhilah anjuran untuk menjauhi zona bahaya, siapkan masker anti abu, dan biarkan sang gunung berproses sembari kita menjaga keselamatan keluarga tercinta.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG