BPPTKG Rilis Laporan Terbaru Merapi, Potensi Awanpanas Masih Mengintai

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 07:50 WIB
ILUSTRASI: Gunung Merapi Berstatus Siaga, Lava Meluncur 2 Km ke Barat Daya. (AI Image Generator)
ILUSTRASI: Gunung Merapi Berstatus Siaga, Lava Meluncur 2 Km ke Barat Daya. (AI Image Generator)

 SLEMAN - Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan pemantauan terbaru untuk periode Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

Gunung dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut ini secara administratif mencakup wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. Hingga kini, status aktivitas Merapi masih bertahan di Level III atau Siaga.

Dari sisi cuaca, kondisi di sekitar puncak Merapi tercatat mendung dengan embusan angin lemah ke arah barat. Suhu udara berkisar antara 17,2 hingga 19,3 derajat Celsius.

Kelembapan udara di kawasan tersebut tercatat sangat tinggi, yakni mencapai 100 persen. Sementara tekanan udara berada pada rentang 873,3 hingga 916,5 milibar.

Secara visual, petugas pemantau mencatat gunung diselimuti kabut dengan intensitas 0 hingga II, bahkan sempat mencapai level III pada beberapa waktu pengamatan. Kondisi ini membuat visibilitas puncak gunung menjadi terbatas.

Meski demikian, tidak ada asap kawah yang teramati selama periode pengamatan berlangsung. Kondisi ini menunjukkan aktivitas permukaan kawah relatif tenang secara visual.

Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat adanya 11 kali gempa guguran selama enam jam pengamatan. Amplitudo gempa tersebut berkisar antara 2 hingga 24 milimeter.

Durasi gempa guguran yang tercatat bervariasi, mulai dari 48,23 detik hingga yang terpanjang mencapai 196,77 detik. Fenomena ini menandakan adanya material yang meluncur dari tubuh gunung.

Selain gempa guguran, tercatat pula 9 kali gempa hybrid atau fase banyak. Amplitudo gempa jenis ini berada pada kisaran 2 hingga 30 milimeter.

Selisih waktu gelombang S dan P pada gempa hybrid tercatat antara 0,5 hingga 0,7 detik, dengan durasi gempa berkisar 19,74 hingga 59,89 detik. Jenis gempa ini umumnya berkaitan dengan pergerakan magma di bawah permukaan.

BPPTKG menjelaskan bahwa data pemantauan menunjukkan suplai magma ke tubuh Merapi masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awanpanas guguran di wilayah yang masuk kategori rawan bahaya.

Terkait potensi bahaya, BPPTKG memetakan sejumlah titik yang perlu diwaspadai warga. Pada sektor selatan-barat daya, potensi guguran lava dan awanpanas dapat mengarah ke Sungai Boyong hingga sejauh maksimal 5 kilometer.

Masih di sektor yang sama, ancaman juga berpotensi menjangkau Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, dengan jarak luncur maksimal mencapai 7 kilometer dari puncak gunung.

Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya mengarah ke Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga sejauh 5 kilometer.

BPPTKG juga mengingatkan, apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.

Melihat kondisi tersebut, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah rawan bahaya tersebut.

Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu dari Merapi juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar, terutama saat hujan turun di sekitar puncak gunung.

Selain ancaman lahar, potensi awanpanas guguran juga perlu diwaspadai, khususnya saat curah hujan tinggi yang dapat memicu longsoran material vulkanik.

Tak hanya bahaya material padat, warga di sekitar lereng Merapi juga diminta mengantisipasi gangguan abu vulkanik apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi.

BPPTKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi secara berkala. Jika ditemukan perubahan signifikan, status aktivitas gunung akan segera dievaluasi dan diperbarui.

Laporan pemantauan ini disusun oleh tim BPPTKG, dengan data bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi terkait akt ivitas Gunung Merapi.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Mitigasi Bencana Vulkanik Gunung Merapi BPPTKG status siaga guguran lava