Pemantauan Gunung Merapi Jogja-Jateng: 13 Guguran Lava Terdeteksi Siang Ini

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 13:20 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas Merapi Hari Ini: gempa Guguran Terdeteksi, Warga Dimbau Waspada Awan Panas.
ILUSTRASI: Aktivitas Merapi Hari Ini: gempa Guguran Terdeteksi, Warga Dimbau Waspada Awan Panas.

 SLEMAN - Puncak Gunung Merapi berdiri gagah menembus cakrawala di batas Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di balik ketenangan visualnya yang megah, raksasa terkemuka ini sebenarnya menyimpan gejolak yang tak pernah benar-benar tertidur.

​Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, kondisi Merapi sepanjang Rabu siang terus menunjukkan dinamika yang intens. Alam tampak tenang dari kejauhan, namun getaran di perut bumi bercerita lain.

​Cuaca di sekitar kawasan puncak sempat berubah-ubah, mulai dari cerah, berawan, hingga diselimuti mendung. Angin berembus perlahan membawa hembusan udara sejuk dengan suhu berkisar antara 23 hingga 23,7 derajat Celsius.

​Dari pengamatan visual, puncak gunung sempat terlihat sangat jelas sebelum akhirnya tertutup kabut tipis hingga tebal. Asap kawah berwarna putih kelabu tampak membubung pelan setinggi 200 meter menembus udara bebas.

​Tekanan asap yang tebal namun lemah tersebut menandakan adanya pelepasan gas vulkanik secara terus-menerus dari rongga kawah. Fenomena alam ini menjadi pengingat nyata bahwa aktivitas vulkanik di dalam tubuh Merapi belum mereda.

​Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih bertahan kokoh pada Level III atau Siaga. Penetapan tingkat aktivitas ini didasari oleh serangkaian data pemantauan komprehensif yang terus dikumpulkan oleh tim ahli.

​Catatan kegempaan yang terekam oleh instrumen BPPTKG dalam durasi enam jam pemantauan menunjukkan pergerakan energi yang konsisten. Denyut getaran bawah tanah terus tercatat dengan frekuensi yang patut diwaspadai.

​Petugas mencatat sedikitnya terjadi 13 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 8 milimeter. Durasi dari setiap runtuhan material tersebut tergolong panjang, yakni mencapai 152 detik.

​Selain guguran, terekam pula satu kali gempa tremor non-harmonik yang mengindikasikan adanya aliran fluida di bawah permukaan. Amplitudo gelombang ini terukur cukup besar, yakni menyentuh angka 30 milimeter.

​Gejolak internal makin nyata saat instrumen mendeteksi 12 kali gempa hibrid atau fase banyak di kedalaman gunung. Gempa jenis ini memiliki kisaran amplitudo yang cukup lebar, dari 2 hingga 33 milimeter.

​Tidak berhenti di situ, sebanyak lima kali gempa vulkanik dangkal turut mewarnai catatan pemantauan siang hari ini. Bahkan, amplitudo maksimum dari gempa dangkal tersebut sempat melonjak drastis hingga mencapai 80 milimeter.

​Seluruh rangkaian rekaman gempa ini mengonfirmasi satu hal penting yang mendesak: suplai magma segar dari perut bumi masih terus berlangsung. Dorongan energi dari dalam tubuh gunung ini sewaktu-waktu dapat memicu muntahan material baru.

​Potensi bahaya utama yang mengintai masyarakat saat ini adalah ancaman guguran lava pijar serta awan panas guguran. Luncuran material berkecepatan tinggi ini dapat menerjang alur-alur sungai yang berhulu di puncak kawah.

​Sektor selatan hingga barat daya menjadi wilayah yang mendapatkan perhatian khusus dari para pengamat kebencanaan. Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng berpotensi terancam luncuran material hingga sejauh tujuh kilometer.

​Sementara itu, di sepanjang alur Sungai Boyong, jarak aman yang ditetapkan oleh pihak berwenang berada pada radius lima kilometer. Area ini rawan diterjang awan panas jika terjadi kubah lava yang runtuh mendadak.

​Beralih ke sektor tenggara, potensi bahaya mengancam kawasan alur Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dari puncak. Adapun untuk jalur Sungai Gendol, zona kewaspadaan dipatok hingga jarak radius lima kilometer.

​Jika terjadi letusan eksplosif secara tiba-tiba, lontaran material vulkanik padat dapat menjangkau seluruh area dalam radius tiga kilometer. Kawah utama menjadi pusat lontaran batu dan kerikil berkecepatan tinggi.

​Selain ancaman awan panas secara langsung, bahaya sekunder yang tak kalah mematikan adalah ancaman banjir lahar dingin. Risiko ini akan meningkat tajam tatkala hujan deras mengguyur wilayah puncak Gunung Merapi.

​Air hujan dapat dengan cepat menyapu tumpukan endapan material vulkanik di lereng atas menjadi aliran lahar yang sangat pekat. Aliran ini mampu menerjang pemukiman dan merusak infrastruktur di sepanjang alur sungai.

​Pihak BPPTKG mengimbau keras agar seluruh warga serta wisatawan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam area potensi bahaya. Pengawasan mandiri dan kesiapsiagaan warga lereng gunung menjadi kunci utama keselamatan bersama.

​Ancaman debu dan abu vulkanik tipis juga perlu diantisipasi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lereng. Evaluasi status aktivitas Gunung Merapi akan terus diperbarui secara berkala sesuai perkembangan data lapangan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
BPPTKG Jogja Info Bencana Sleman Gunung Merapi hari ini Erupsi Merapi status siaga merapi