Gunung Merapi Masih Berstatus Siaga, Terjadi 15 Gempa Hybrid dan 9 Kali Guguran Dini Hari Ini

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 07:08 WIB
ILUSTRASI: ​Update Merapi 19 Oktober: 15 Gempa Hybrid Terjadi Dini Hari, Status Masih Siaga.
ILUSTRASI: ​Update Merapi 19 Oktober: 15 Gempa Hybrid Terjadi Dini Hari, Status Masih Siaga.

SLEMAN - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intensif pada dini hari ini, Senin (19/10/2026). Dalam rentang pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, sejumlah gempa dan guguran tercatat oleh petugas pemantau.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, gunung yang berada di perbatasan empat kabupaten ini—Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten—masih berada pada Level III atau status Siaga. Status ini belum berubah sejak ditetapkan beberapa waktu lalu.

Secara visual, puncak Merapi tertutup kabut tipis hingga sedang pada skala 0-III. Tidak ada asap kawah yang teramati selama periode pengamatan berlangsung. Kondisi cuaca di sekitar gunung tercatat berawan dengan angin bertiup tenang ke arah barat.

Suhu udara di sekitar Merapi terpantau 19,6 derajat Celsius dengan kelembaban mencapai 96,4 persen. Tekanan udara tercatat pada angka 918,8 milibar, kondisi yang umum terjadi pada dini hari di kawasan pegunungan.

Dari sisi kegempaan, tercatat sembilan kali guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 6 milimeter. Durasi masing-masing guguran berkisar antara 26 hingga 121 detik.

Selain itu, terjadi satu kali tremor non-harmonik dengan amplitudo 28 milimeter berdurasi 29 detik. Jenis gempa ini biasanya berkaitan dengan pergerakan fluida di bawah permukaan gunung.

Aktivitas paling dominan datang dari gempa hybrid atau fase banyak, yang tercatat sebanyak 15 kali. Amplitudonya bervariasi dari 2 hingga 44 milimeter dengan durasi 12 hingga 63 detik.

Dua kejadian gempa vulkanik dangkal juga terekam dengan amplitudo 3 milimeter. Durasi dari gempa jenis ini berkisar 19 hingga 24 detik saja.

BPPTKG menegaskan, suplai magma ke dalam tubuh Merapi masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu awanpanas guguran di sejumlah titik rawan di sekitar gunung.

Potensi bahaya saat ini mengarah ke sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, ancaman mengarah ke Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.

Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di daerah-daerah yang masuk zona potensi bahaya tersebut. Warga juga diminta waspada terhadap ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Merapi.

BPPTKG akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi secara berkala. Jika terjadi perubahan signifikan, status aktivitas gunung ini akan segera dievaluasi ulang oleh pihak  berwenang.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
awanpanas guguran Yogyakarta Gunung Merapi BPPTKG status siaga