Update Gunung Merapi 18 Oktober 2026: Potensi Awan Panas Guguran Intai Sektor Selatan

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 18:45 WIB
ILUSTRASI: Kondisi Terkini Gunung Merapi 18 Oktober 2026: Lava Meluncur ke Barat Daya
ILUSTRASI: Kondisi Terkini Gunung Merapi 18 Oktober 2026: Lava Meluncur ke Barat Daya

 

SLEMAN - Kabut tebal menyelimuti puncak Gunung Merapi pada Minggu sore ini. Di balik keheningan lereng yang dingin, perut gunung api paling aktif di Indonesia ini ternyata sedang menyimpan gejolak yang tak pernah benar-benar reda.

​Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi terus memantau setiap denyut aktivitasnya. Laporan berkala ini mencatat dinamika vulkanik sepanjang pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, tanggal 18 Oktober 2026.

​Secara visual, sang raksasa tampak bersembunyi rapat di balik pekatnya hamparan kabut putih. Asap kawah memang tidak teramati membumbung, menciptakan suasana sunyi yang seolah menyembunyikan ancaman nyata di atas sana.

​Namun, jarum seismograf di stasiun pemantauan merekam deretan getaran yang cukup intens. Tercatat sebanyak 13 kali gempa guguran menggetarkan batuan puncak dengan durasi luncuran hingga ratusan detik.

​Selain guguran material, getaran tremor non-harmonik serta 17 kali gempa fase banyak ikut terekam. Kehadiran empat kali gempa vulkanik dangkal menjadi bukti kuat bahwa tekanan di dalam tubuh gunung masih terus bergejolak.

​Berdasarkan deret data kegempaan tersebut, status Gunung Merapi dipastikan tetap berada pada Level III atau Siaga. Para ahli menyimpulkan bahwa suplai magma segar dari perut bumi masih terus berlangsung tanpa henti.

​Pasokan magma yang konsisten ini berpotensi memicu munculnya guguran lava serta awan panas secara mendadak. Kubah lava yang rapuh di puncak bisa runtuh sewaktu-waktu dan meluncur deras menghantam alur-alur sungai di bawahnya.

​Wilayah sektor selatan dan barat daya menjadi kawasan yang paling rentan terdampak. Aliran Sungai Boyong, Sungai Bedog, Krasak, hingga Bebeng diimbau untuk dikosongkan dari segala aktivitas warga hingga jarak maksimal tujuh kilometer.

​Pada sektor tenggara, potensi bahaya mengintai sepanjang aliran Sungai Woro hingga sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Jika letusan eksplosif terjadi, lontaran batu pijar dapat menjangkau radius tiga kilometer.

​Tak hanya gulungan awan panas, ancaman banjir lahar dingin juga mengintai pemukiman warga di sekitar lereng. Ketika hujan deras mengguyur puncak Merapi, endapan material vulkanik dapat tersapu air dan berubah menjadi ancaman mematikan.

​Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana diminta untuk tidak melanggar batas zona bahaya. Antisipasi terhadap risiko sebaran abu vulkanik juga perlu disiapkan, seperti menyediakan masker dan melindungi sumber air bersih keluarga.

​Menghadapi Merapi memang membutuhkan kearifan lokal serta kewaspadaan yang tiada henti. Warga diharapkan tetap tenang, tidak termakan isu liar, dan selalu memperbarui informasi dari saluran resmi lembaga berwenang demi keselamat an bersama.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
berita jogja Status Merapi Hari Ini Gunung Merapi BPPTKG Erupsi Merapi