Status Merapi Level III Siaga, 68 Guguran dan 21 Vulkanik Dangkal Tercatat 14 Oktober 2026

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 05:04 WIB
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai
ILUSTRASI: Kabar Terbaru Gunung Merapi: Status Siaga, Ancaman Awan Panas Mengintai

 SLEMAN - Gunung Merapi yang menjulang 2.968 mdpl di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten, DIY, dan Jawa Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Sepanjang 14 Oktober 2026, dari pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, gunung ini masih berstatus Level III Siaga. Aktivitasnya menjadi pengingat bahwa alam punya ritme yang tak selalu bisa ditebak.

Langit di sekitar puncak dilaporkan mendung, sementara angin bergerak pelan menuju barat. Suhu udara berkisar 16,9-29 derajat Celsius, kelembapan 74-80,3 persen, dan tekanan udara 874,2-919 mmHg. Kondisi ini membentuk latar pemantauan yang menuntut kewaspadaan.

Secara visual, badan gunung tertutup kabut 0-II hingga 0-III. Asap kawah bertekanan lemah terlihat putih dengan intensitas tipis. Tingginya sekitar 30-100 meter di atas puncak kawah. Meski tak tebal, asap itu tetap menjadi penanda adanya aktivitas di perut bumi.

Data kegempaan menunjukkan guguran mendominasi. Tercatat 68 kali guguran dengan amplitudo 2-34 mm dan durasi 23,99-143,37 detik. Jumlah ini cukup banyak dan bisa menjadi indikasi material di lereng masih bergerak.

Selain guguran, terdeteksi 2 kali tremor non-harmonik dengan amplitudo 33-43 mm dan durasi 32,95-48,54 detik. Ada pula 1 kali low frekuensi dengan amplitudo 3 mm dan durasi 20,91 detik. Sinyal-sinyal kecil ini tetap dicatat sebagai bagian dari dinamika gunung.

Gempa hybrid atau fase banyak tercatat 21 kali. Amplitudonya 2-52 mm, S-P 3-7 detik, dan durasi 5,76-76,37 detik. Kemunculannya memperlihatkan proses di dalam tubuh Merapi masih berjalan.

Tak hanya itu, 21 kali vulkanik dangkal juga terekam. Amplitudo gempa ini 2-80 mm dengan durasi 7,59-44,27 detik. Kombinasi data ini menggambarkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awanpanas guguran.

Keterangan lain pada laporan periode ini nihil. Namun, bukan berarti aman. Justru, catatan seismik menjadi dasar bagi PVMBG dan BPPTKG untuk terus mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.

Potensi bahaya utama saat ini adalah guguran lava dan awanpanas. Di sektor selatan-barat daya, bahaya meliputi Sungai Boyong maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng maksimal 7 km. Di sektor tenggara, Sungai Woro maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 km dari puncak.

Masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya. Mereka juga perlu mewaspadai lahar dan awanpanas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Merapi. Antisipasi terhadap gangguan abu vulkanik juga tetap penting.

PVMBG menegaskan, jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Laporan ini disusun Tri Mujiyanta dengan sumber data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG. Informasi resmi dapat diakses melalui magma.esdm.go.id dan media sosial PVMBG.

Bagi warga di lereng Merapi, kesiapsiagaan bukan sekadar imbauan. Ini cara menjaga keluarga, ternak, dan rumah dari ancaman yang bisa datang kapan saja. Merapi mungkin tenang di mata, tetapi datanya berbicara. Tetap pantau informasi resmi, siapkan tas siaga, dan jangan pernah ang gap remeh zona bahaya.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
awanpanas guguran Gunung Merapi BPPTKG pvmbg status siaga