SLEMAN - Gunung Merapi seakan tak pernah benar-benar tertidur lelap. Pagi yang tenang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali diwarnai oleh geliat sang gunung api, ketika guguran lava kembali meluncur bebas menuruni lerengnya pada Rabu (14/10/2026).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya luncuran material tersebut secara visual. Dalam rentang waktu pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, satu kali guguran lava teramati mengarah tajam ke alur Kali Boyong dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.
Cuaca berawan memayungi kawasan puncak sejak pagi, diiringi embusan angin yang bertiup lemah ke arah utara. Suhu udara di sekitar lereng terasa cukup sejuk, berkisar antara 25 hingga 29 derajat Celcius, seolah menyembunyikan pergolakan vulkanik yang sedang bergemuruh di dalam perut bumi.
Meski sesekali terhalang kabut tipis, pesona sekaligus ancaman Merapi tetap tampak mengintip. Asap kawah berwarna putih terpantau mengepul dengan intensitas tipis hingga ketinggian 100 meter di atas puncak kawah, menandakan aktivitas pelepasan gas magma yang masih terus berlangsung tanpa henti.
Di balik keheningan permukiman lereng, instrumen pencatat gempa menangkap denyut aktivitas yang meresahkan. Sebanyak 18 kali gempa guguran terekam jelas dengan durasi yang bervariasi antara 43 hingga 143 detik, menegaskan bahwa tumpukan material vulkanik di area kubah lava tidak dalam kondisi stabil.
Tak hanya itu, pergerakan fluida menuju permukaan juga terdeteksi sangat masif lewat ragam kegempaan lainnya. Sebanyak 20 kali gempa fase banyak (hybrid) dan 14 kali gempa vulkanik dangkal membuktikan bahwa tekanan dari dalam masih terus berupaya mendesak mencari jalan keluar.
Rangkaian data kegempaan ini menjadi sinyal kuat bahwa suplai magma dari dapur perut Merapi sama sekali belum terhenti. Oleh karena itu, tingkat aktivitas salah satu gunung api paling aktif di dunia ini secara tegas masih dipertahankan pada Level III atau Siaga.
BPPTKG terus mengingatkan wilayah-wilayah yang masuk dalam zona merah rawan bencana. Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya awan panas dan guguran lava mengancam alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 kilometer.
Sementara itu, kewaspadaan serupa juga mutlak harus diterapkan oleh masyarakat yang bermukim di sektor tenggara. Ancaman material vulkanik berupa awan panas dapat menyapu aliran Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga radius 5 kilometer dari arah puncak.
Ancaman yang membayangi warga tidak hanya berasal dari aliran lava, tetapi juga kemungkinan terjadinya letusan eksplosif. Jika skenario letusan tiba-tiba ini terjadi, lontaran batu dan material vulkanik diperkirakan mampu menjangkau radius 3 kilometer dari bibir kawah.
Bagi warga lereng Merapi, kewaspadaan ekstra sangat dibutuhkan terutama ketika awan mendung mulai bergayut pekat di atas kawah. Hujan lebat di kawasan puncak dapat memicu banjir lahar dingin yang tak kalah mematikan, membawa material vulkanik sisa erupsi menyusuri hulu sungai hingga ke pemukiman di bawahnya.
Masyarakat diminta dengan sangat untuk menahan diri dari segala aktivitas di daerah potensi bahaya demi keselamatan jiwa. Selain itu, warga juga diimbau untuk selalu menyiapkan masker dan pelindung mata guna mengantisipasi gangguan pernapasan akibat abu vulkanik yang bisa sewaktu-waktu turun ter bawa angin.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG