SLEMAN - Gunung Merapi yang menjulang gagah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan gelagatnya. Selama periode pengamatan 11 Oktober 2026, gunung berapi paling aktif di Indonesia ini tercatat meluncurkan enam kali guguran lava ke arah barat daya. Luncuran tersebut mengarah ke Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Boyong dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter dari puncak.
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), cuaca di sekitar gunung pada hari itu bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup tenang ke arah timur dengan suhu udara berkisar antara 17,3 hingga 28 derajat Celsius. Kelembaban udara tercatat cukup tinggi, mencapai 93,1 persen.
Secara visual, Gunung Merapi terlihat jelas dari pos pengamatan. Sesekali kabut tipis menyelimuti kawasan tersebut, namun tidak menghalangi pantauan. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, mengepul setinggi 15 meter di atas puncak kawah. Fenomena ini menjadi penanda bahwa aktivitas vulkanik masih berlangsung secara dinamis.
Data kegempaan yang dihimpun tim pengamat menunjukkan angka yang cukup signifikan. Tercatat 83 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 39 mm. Durasi gempa bervariasi, mulai dari 23,5 detik hingga 201,56 detik. Getaran ini mengindikasikan adanya material vulkanik yang terus bergerak turun dari puncak gunung.
Baca Juga: Pemotor Kerap Terjatuh di Jalan Guyangan-Petanahan yang Rusak, Warga Desak Perbaikan Dipercepat
Selain gempa guguran, alat seismograf juga mendeteksi 74 kali gempa Hybrid atau fase banyak. Gempa ini memiliki amplitudo 2 hingga 41 mm dengan durasi yang sangat bervariasi, bahkan ada yang mencapai 6.084 detik. Kemunculan gempa hybrid sering dikaitkan dengan pergerakan fluida magma di dalam perut bumi yang menuju ke permukaan.
Aktivitas vulkanik dangkal juga terekam sebanyak 7 kali dengan amplitudo kecil, yaitu 2 hingga 6 mm. Sementara itu, dua gempa tektonik jauh turut mengguncang kawasan ini dengan amplitudo mencapai 109 mm. Meskipun demikian, gempa tektonik jauh ini tidak menunjukkan kenaikan aktivitas magmatik yang signifikan.
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Pihak berwenang terus mengingatkan bahwa potensi bahaya utama saat ini adalah guguran lava dan awan panas. Suplai magma dari dalam bumi yang masih berlangsung menjadi faktor utama yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran kapan saja.
Masyarakat diminta untuk benar-benar mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan. Zona bahaya di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Wilayah ini merupakan area paling rawan jika terjadi luncuran material vulkanik.
Untuk sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai tersebut diharapkan selalu waspada.
Baca Juga: Belajar Kelola Keuangan sejak Dini, Anak Baru Lahir Kini Bisa Buka Tabungan Sendiri
Ancaman sekunder yang juga perlu diantisipasi adalah bahaya lahar dan awan panas guguran (APG). Risiko ini meningkat terutama saat terjadi hujan deras di seputar puncak Gunung Merapi. Hujan dapat mencampur material vulkanik lepas dan membentuk aliran lahar yang berpotensi merusak pemukiman di hilir sungai.
Masyarakat juga diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Meskipun asap kawah saat ini terbilang tipis, perubahan arah angin dapat membawa abu ke pemukiman warga. Penggunaan masker dan pelindung mata sangat disarankan jika abu vulkanik mulai turun di lingkungan sekitar.
BPPTKG menegaskan bahwa pemantauan akan terus dilakukan secara intensif. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Warga diimbau tetap tenang, tidak terpancing informasi hoaks, dan selalu mengikuti arahan dari otoritas setempat. Keselamatan jiwa adalah prioritas utama di tengah a ncaman alam yang tak terduga ini.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG