Raperda Ripparda Kabupaten Sleman 2026-2045, Ubah Paradigma Mass Tourism Menuju Quality Tourism

Yogi Isti Pujiaji • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 06:30 WIB
Wisatawan berkeliling menggunakan jasa jip wisata Merapi di Kali Kuning, Cangkringan, Sleman
Wisatawan berkeliling menggunakan jasa jip wisata Merapi di Kali Kuning, Cangkringan, Sleman

SLEMAN - Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Sleman 2026-2045 menjadi road map pengembangan sektor pariwisata Bumi Sembada jangka panjang. Kebijakan ini akan menjadi arah baru pembangunan pariwisata yang berbasis manfaat ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Dalam dua dekade ke depan pembangunan pariwisata Kabupaten Sleman diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Dengan Ripparda 2026-2045, arah kebijakannya tidak lagi sekadar mengejar angka kunjungan wisatawan secara kuantitas. Tetapi mewujudkan quality tourism atau pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Sleman Budi Sanyata SPd menegaskan bahwa komitmen transformasi ini tetap berjalan selaras dengan upaya peningkatan jumlah wisatawan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, pertumbuhan jumlah turis harus diimbangi oleh kesiapan daya dukung daerah agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun sosial.

Baca Juga: Anak Muda Jalani Lifestyle Downgrade di Tengah Tekanan Ekonomi; Skincare Ratusan ke Puluhan Ribu

Budi mengatakan, pengembangan pariwisata ke depan harus berdampak pada peningkatan kesejahteraan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ada empat daya dukung utama yang menjadi pilar krusial dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Ripparda 2026–2045. Pilar pertama menitikberatkan pada penyediaan infrastruktur fisik yang memadai dan ramah bagi wisatawan melalui konsep 'dalan padhang, dalan alus' (jalan terang dan jalan mulus). “Tentu ini juga sejalan dengan visi misi bupati dan wakil bupati Sleman,” ungkap politikus PDI Perjuangan.

Pembangunan infrastruktur ini mencakup perbaikan serta pengaspalan jalan menuju destinasi wisata, penambahan lampu penerangan jalan umum (LPJU), hingga pemasangan fasilitas keselamatan seperti cermin cembung di titik-titik rawan kecelakaan. Aksesibilitas yang aman dan nyaman dinilai menjadi kunci utama daya tarik sebuah destinasi.

Jalan yang aman dan nyaman, lanjut Budi,  menjadi salah satu faktor penting alasan wisatawan datang ke sebuah tempat wisata. "Makanya ini perlu didorong,” tandasnya.

Baca Juga: MBG Model Prasmanan Dianggap Lebih Banyak Kelemahan Dibanding Pakai Ompreng

Daya dukung kedua terletak pada optimalisasi sarana akomodasi dan potensi kebudayaan lokal. Sleman terus memperkuat keberadaan jaringan hotel, keberlanjutan desa wisata, serta pengembangan desa budaya yang tersebar di berbagai wilayah agar mampu menyajikan pengalaman autentik bagi para pelancong.

Sedangkan pilar ketiga berfokus pada integrasi potensi kekayaan alam Merapi dan sekitarnya dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sektor ini mendorong peran aktif para agen perjalanan dan seluruh pelaku industri wisata agar makin profesional dan memiliki standar pelayanan tinggi.

Pilar keempat adalah penciptaan iklim investasi yang kondusif. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan kemudahan regulasi perizinan serta skema pemberian insentif bagi para investor yang siap mendukung pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan di Sleman.

Keberhasilan implementasi quality tourism dalam ripparda ini akan diukur melalui empat indikator utama. Pertama, length of stay atau tingkat lama tinggal wisatawan di Sleman yang ditargetkan terus meningkat. Kedua, besarnya nilai pengeluaran (spending money) yang dihabiskan wisatawan selama berlibur. Terutama untuk membeli produk UMKM lokal, kuliner, dan cenderamata.

Ketiga, kepuasan (satisfaction) wisatawan terhadap fasilitas dan layanan. Lalu keempat adalah tingkat kunjungan ulang (re-visit rate).
Guna merealisasikan target-target indikator tersebut, bapemperda bersama dinas terkait telah menyiapkan empat skema penguatan dan pemberdayaan terpadu. Yakni, optimalisasi sektor mice (meetings, incentives, Conferences, and exhibitions) untuk menangkap peluang pasar wisata bisnis dan konvensi skala nasional hingga internasional.

Skema kedua pengembangan wisata minat khusus dan produk wisata inovatif, seperti ekowisata, wisata kebugaran (wellness tourism), serta petualangan berbasis alam dan budaya. Selanjutnya, penguatan kapasitas dan pendampingan berkelanjutan bagi para pelaku wisata lokal agar mampu bersaing secara digital dan mandiri.

Baca Juga: Huistra Akan Terus Poles Performa Tim agar PSS Bisa Tampil Lebih Bagus Lagi ke Depan

Adapun skema keempat berfokus pada penataan, pembangunan, serta pemeliharaan destinasi wisata secara konsisten. "Langkah ini diambil untuk memastikan agar tiap objek wisata di Sleman tetap terawat, aman, dan menjaga nilai-nilai kelestarian lingkungan,” jelas Budi.

Wakil Ketua Bapemperda DPRD Kabupaten Sleman Hj Sumaryatin SSos MA menambahkan, Ripparda 2026-2045 harus diposisikan bukan sekadar dokumen sektor pariwisata. Melainkan sebagai instrumen strategis transformasi ekonomi daerah, penguatan sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan menuju Sleman emas 2045.

Sumaryatin mengapresiasi arah kebijakan pemerintah daerah yang telah mengusung paradigma quality tourism, digitalisasi, keberlanjutan lingkungan, inklusivitas, serta penguatan sumber daya manusia dan ekosistem pariwisata. "Paradigma tersebut sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang Sleman, yaitu maju, sejahtera, berbudaya, dan berkelanjutan'," ujar kader perempuan Partai Keadilan Sejahtera.

Menurutnya, urgensi penyusunan Ripparkab 2026-2045 sangat kuat karena Perda Ripparkab 2015–2025 telah berakhir dan perlu disesuaikan dengan dinamika ekonomi, teknologi, serta pembangunan wilayah. Sektor pariwisata juga memiliki kontribusi strategis terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Sleman sehingga membutuhkan arah pembangunan jangka panjang yang lebih komprehensif.

Sumaryatin menilai keberhasilan pembangunan pariwisata tidak boleh diukur hanya dari jumlah kunjungan. Sebab, tantangan utama Sleman saat ini adalah lama tinggal wisatawan yang masih rendah, kualitas sarana prasarana yang belum merata, lemahnya konektivitas antar destinasi, rendahnya sertifikasi sumber daya manusia dan usaha pariwisata, serta belum optimalnya digitalisasi dan mitigasi bencana. "Yang harus dibangun adalah pariwisata berkualitas yang meningkatkan belanja wisatawan, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan memperkuat budaya lokal,” jelas Sumaryatin.

Atin, sapaan akrabnya, secara khusus mendukung dan mendorong perubahan paradigma dari mass tourism menuju quality tourism yang berbasis manfaat ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Sumaryatin menegaskan bahwa sumber daya manusia harus ditempatkan sebagai outcome utama pembangunan pariwisata. Ia mengusulkan indikator yang lebih terukur seperti persentase SDM tersertifikasi, jumlah wirausaha muda pariwisata, tenaga kerja digital tourism, dan desa wisata sebagai pusat pembelajaran masyarakat. Target penguatan sumber daya manusia tersebut dinilai penting untuk mewujudkan generasi Sleman yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki daya saing global.

Aspek ketahanan bencana juga menjadi perhatian serius. Mengingat posisi Sleman berada di kawasan rawan erupsi Merapi. Sumaryatin mendukung pengembangan climate resilient tourism, destinasi hijau, sistem peringatan dini, sertifikasi destinasi tangguh bencana, dan program pengurangan jejak karbon pariwisata sebagai syarat mutlak keberlanjutan sektor ini.

Di sisi lain, Sumaryatin menyoroti perlunya pemerataan pembangunan pariwisata. Selama ini pertumbuhan masih terkonsentrasi di kawasan Merapi dan Prambanan, sehingga kawasan Sleman barat perlu diperkuat melalui agrowisata modern, wisata sungai, wisata budaya pedesaan, edu-tourism, dan creative village tourism agar kesenjangan wilayah timur–barat dapat dikurangi. (yog)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) DRD Kabupaten sleman mass tourism quality tourism Pariwisata