SPPG di Sleman Karyakan Siswa Kelas 5 dan 6 SD, Jadi Petugas Pemorsian MBG Model Prasmanan

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:08 WIB

 

Pelaksanaan uji coba MBG prasmanan di SD Negeri Soprayan, Rabu (7/10)
Pelaksanaan uji coba MBG prasmanan di SD Negeri Soprayan, Rabu (7/10)

 

 

 

SLEMAN – Uji coba program makan bergizi gratis (MBG) prasmanan membutuhkan tambahan tenaga. Yaitu untuk pemorsian makanan. Petugasnya bukan dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau guru. Tapi siswa kelas 5 dan 6 SD setempat.

 

Salah satu siswa SD Negeri Soprayan yang jadi petugas pemorsian adalah Aulia Ika Fitriana. Petugas ini langsung dipilih secara acak. Tidak ada persiapan khusus, tapi memang terdapat arahan dari petugas SPPG.

Salah satunya saat memberikan MBG mereka diminta untuk menanyakan pada siswa porsi yang diinginkan. Dia mengaku tak masalah jika harus makan terakhir imbas ketugasan ini karena mendapat pengalaman yang seru dan menyenangkan. 

Baca Juga: 290 Pekerja di Kabupaten Bantul Kena PHK, Sektor IT hingga Kesehatan Terdampak

"Kalau berdirinya itu enggak capek. Tapi pakai maskernya itu panas, pengap," katanya, Rabu (7/10).

 

Ada dua lokasi di DIJ yang jadi pilot project program MBG prasmanan periode Senin (5/10) sampai Jumat (16/10). Di antaranya SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 milik Polda DIJ dengan sasaran SD Negeri Soprayan. 

 

Di sekolah yang terletak di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman ini MBG prasmanan diperuntukkan bagi kelas 4, 5, dan 6 dengan sasaran 59 siswa. Ada enam orang siswa yang diminta jadi relawan permorsian untuk membagi nasi, sayur, edamame, selada, sampai buah naga.

Baca Juga: DPRD Sleman Turun Tangan Tangani Kekerasan Seksual, Perda Fasilitasi Pesantren Jadi Dasar Pengawasan

Dalam melaksanakan tugasnya mereka harus mengenakan penutup kepala, masker, sarung tangan, sampai celemek. Sementara siswa yang lain akan berjejer untuk mendapat jatah MBG dengan ompreng yang telah disediakan. 

 

Kepala SPPG Bangunkerto 2, Deri Yusni Elsa Mahendra menjelaskan, mekanisme ini memiliki kelebihan tersendiri karena siswa bisa menyesuaikan porsi masing-masing sehingga sampah makanan yang dihasilkan bisa ditekan.

Dari sisi higienitasnya juga tetap terjaga karena MBG yang diterima justru lebih segar. Dalam prosesnya juga dilakukan pemantauan suhu saat memasukkan MBG dalam wadah besar maupun saat sampai di sekolah. 

Baca Juga: Penumpang WNA Naik 7,8 Persen, KAI Daop 6: Dongkrak Ekonomi Pariwisata

"Kami tetap sesuai porsi yang ada, namun ada spare dua persen karena ini masa percobaan," kata pria yang akrab disapa Rendi ini. 

 

Menurut dia, siswa yang turut jadi relawan ini telah sesuai buku petunjuk. Sejak hari pertama, SPPG telah membawa pegawai untuk memberi pengarahan dan pengajaran pada siswa yang bertugas.

Para siswa ini dipastikan tidak keberatan dalam menjalani tugas ini dan justru sangat antusias. Kebijakan ini dia nilai juga menjadikan siswa lebih tahu akan kondisi makanan yang dikonsumsi.  "Petugasnya dari kelas 5 tiga orang dan kelas 6 tiga orang," tambahnya. 

 Baca Juga: Jude Bellingham: Harry Kane adalah pemain Terbaik Sepanjang Masa Timnas Inggris

Selama pelaksanaan pilot project ini Rendi menyebut terus dilakukan pemantauan dan evaluasi. Durasi MBG datang sampai dengan para siswa mengumpulkan ompreng tercatat antara 20 sampai 25 menit.

Hanya saja belum memberi dampak efisiensi signifikan pada kerja SPPG karena pilot projek ini hanya menyasar sebagian siswa. Sementara total sasaran SPPG Bangunkerto 2 ada 2.458 orang di 42 titik penerima manfaat baik itu sekolah maupun posyandu. 

 

Sementara itu, Guru Kelas 6 SD Negeri Soprayan Murwoto mengatakan, selama periode dua minggu uji coba ini memang pemorsian sudah ditugaskan pada enam orang siswa ini.

Baca Juga: Gandeng Universitas Janabadra, PSIM Jogja Bakal Bangun Training Ground Berstandar FIFA di Sleman

 

Lantaran jika pakai sistem bergantian dikhawatirkan siswa tidak siap karena mesti harus ada brifing dahulu. Kebijakan petugas siswa saling bergantian dimungkinkan dilakukan saat program prasmanan sudah dijalankan seterusnya. 

"Kami ambil di kelas anak kelas 5 dan anak kelas 6 yang sudah lebih dewasa," katanya. 

 

Pelaksanaan MBG ini dilakukan pada waktu istirahat pukul 09.30 sampai 09.50, hanya saja dia akui terkadang waktu yang dibutuhkan lebih 10 sampai 15 menit. Sekolah mengambil kebijakan untuk memangkas waktu istirahat kedua yang dijadwalkan pukul 11.30 sampai 12.00 agar siswa bisa tetap pulang tepat waktu. "Sebenarnya kalau guru repot tidak nggih, tapi memang sedikit menyita waktu saja," ujarnya. (del/pra) 

 

Editor : Heru Pratomo
MBG Prasmanan SD Negeri Soprayan Guru polda SPPG