SLEMAN - Pemkab Sleman menggenjot hilirisasi komoditas kopi lokal lereng Merapi untuk mengembalikan kejayaan pasca-erupsi. Melalui peluncuran armada penjualan kopi bertajuk Kopi Keliling (Koling) Merapi dan Dua Roda Keliling (Darling) Merapi, inovasi ini siap mendekatkan kopi merek Nirmalagiri langsung ke pusat keramaian dan destinasi wisata.
Gubernur DIY Hamengku Buwono X secara khusus menyematkan nama Nirmalagiri guna membedakan kopi khas lereng Merapi Sleman dengan wilayah tetangga. Untuk memasarkannya, pemerintah resmi menerjunkan sepuluh unit armada coffee street hasil kolaborasi pendanaan dana keistimewaan dan CSR dari BI DIY senilai Rp 599 juta.
Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk penyediaan sarana kopi keliling roda dua sejumlah enam unit dan kopi keliling roda tiga sebanyak empat unit. "Tujuan kopi keliling ini adalah mempopulerkan kopi lokal Merapi khususnya Nirmalagiri," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Liem Astuti dalam peluncuran Koling dan Darling di Museum Gunungapi Merapi Selasa (22/9).
Baca Juga: Bidik Tiket Promosi ke Championship Musim Depan, Persiba Bantul Pertahankan Susanto sebagai Pelatih
Dia menyebut, pengembangan kopi khususnya jenis robusta dilakukan 2022. Lokasinya berada di Kapanewon Turi, Pakem, dan Cangkringan. Upaya tersebut membuahkan hasil dengan terwujudnya kegiatan panen kopi perdana pada 2025 bertajuk "Kopi Sleman Berkualitas untuk Negeri". "Pengembangan kopi lokal Merapi di Kabupaten Sleman telah dilakukan secara bertahap mulai dari penguatan kawasan dan produksi," ungkapnya.
Liem berharap, inovasi terbaru yang muncul bisa memperluas posisi dan daya saing produk kopi lokal di pasar yang lebih luas. Termasuk membuka akses pemasaran bagi kelompok tani dan kelembagaan ekonomi petani.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bercerita, penamaan Nirmalagiri dari Ngarsa Dalem sejatinya begitu spesial. Lantaran jika hanya bernama Kopi Merapi sejatinya bisa digunakan oleh Magelang, Klaten, maupun Boyolali. Nama ini jadi pembeda antara kopi lereng Merapi di Kabupaten Sleman dengan lokasi lain.
Baca Juga: Di-DO UMPWR, Hilang selama Enam Bulan, Imigrasi Purworejo Deportasi Mahasiswa asal Mali
Nirmalagiri sendiri berarti gunung yang suci atau gunung yang murni. Hal ini bermakna semua komponen di Lereng Merapi harus dimanfaatkan bagi kemakmuran bersama. "Lahan di lereng Merapi ini sangat potensial karena banyak kandungan vulkanik yang menyuburkan dan tidak dimiliki wilayah lain," ujarnya.
Untuk menguatkan branding dari kopi Nirmalagiri, armada keliling ini dia nilai jadi terobosan pemasaran tersendiri. Apalagi saat ini sedang tren coffee street sehingga masyarakat bisa mudah menikmati kopi jalanan di pusat-pusat keramaian. "Tapi kalau hanya manggrok, ini branding-nya kurang kuat," lontarnya.
Salah satu penerima bantuan adalah Partono yang merupakan perwakilan dari Kelompok Tani Ngudi Lestari, Kapanewon Cangkringan. Nantinya, armada akan digunakan untuk menjual kopi di destinasi Lava Tour maupun di bumi perkemahan. Racikan kopi robusta berukuran gelas kecil hanya akan dibanderol Rp 5.000. "Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan petani kopi. Jadi kopi bukan hanya untuk tanaman sampingan, tapi bisa hidup dari kopi," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita