Puncak Merapi Bergemuruh, Terjadi 17 Kali Guguran Lava Pijar Meluncur Sejauh 2 Kilometer

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 05:38 WIB
Kondisi Terkini Gunung Merapi: Belasan Guguran Lava dan Ratusan Gempa Terdeteksi dalam 24 Jam. (Dokumentasi BPPTKG)
Kondisi Terkini Gunung Merapi: Belasan Guguran Lava dan Ratusan Gempa Terdeteksi dalam 24 Jam. (Dokumentasi BPPTKG)

 SLEMAN - Gemuruh tipis dan embusan asap yang terus membubung dari puncak Gunung Merapi kembali menjadi pengingat nyata bagi warga di sekitarnya. Gunung api paling aktif yang berdiri megah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tampak belum sepenuhnya beristirahat dari pergolakan magmatik di dalam perut bumi.

Berdasarkan catatan pengamatan resmi sepanjang 13 September 2026 sejak kurun waktu 00.00 hingga 24.00 WIB, kondisi Gunung Merapi terpantau masih berada dalam dinamika vulkanik yang tergolong tinggi. Kehadiran kabut tipis hingga tebal yang menyelimuti area puncak tak mampu menyembunyikan kepulan asap putih yang terus keluar mengangkasa dari kawah utamanya.

Suasana di sekeliling lereng pegunungan terasa sejuk namun menyimpan ketegangan tersendiri bagi masyarakat setempat. Dengan suhu udara yang berkisar antara 17,8 hingga 28 derajat Celsius serta kelembaban yang cukup tinggi, angin berembus perlahan ke arah timur membawa aroma khas rimba yang berbaur dengan ketidakpastian kondisi alam.

Asap kawah yang bertekanan lemah teramati membubung indah sekaligus menegangkan hingga ketinggian 25 hingga 200 meter tepat di atas puncak kawah. Meski intensitas ketebalannya tergolong sedang, embusan emisi gas ini menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa energi dari magma bawah tanah masih terus mencari celah pelepasan.

Dari rekaman instrumen seismograf milik petugas pengamat, detak jantung internal Merapi terasa begitu aktif dan bergelora. Sebanyak 88 kali getaran gempa guguran terekam jelas dengan variasi amplitudo hingga 41 milimeter, menandakan adanya pergerakan serta pelepasan material batuan yang cukup masif dari kubah lava.

Baca Juga: Tutup Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY, Pesan HB X: Jaga Kemajuan DIY tanpa Lepaskan Akar Budaya

Tak hanya guguran di permukaan, gejolak bawah tanah juga diperkuat oleh terekamnya 59 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak. Aktivitas seismik berulang ini mengindikasikan bahwa proses pembentukan jaringan retakan baru serta pergerakan fluida magma menuju permukaan masih terus berlangsung secara konsisten tanpa henti.

Peristiwa yang paling menyita perhatian warga dan petugas adalah teramatinya 17 kali guguran lava pijar yang mengalir deras ke sektor Barat Daya. Luncuran batuan membara tersebut melintasi alur Kali Sat, Kali Putih, hingga Kali Krasak dengan jarak jelajah maksimum yang cukup membahayakan, yakni mencapai 2.000 meter dari pusat kawah.

Rangkaian data pemantauan komprehensif ini mengonfirmasi bahwa suplai pasokan magma dari kedalaman rahim bumi masih terus berlangsung aktif. Kondisi kritis semacam ini menyimpan potensi besar yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya awan panas guguran dengan kecepatan tinggi yang sanggup menerjang apa saja di jalur alirannya.

Menyikapi perkembangan data visual dan tingkat kegempaan yang terus fluktuatif tersebut, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) bersama PVMBG menetapkan status tingkat aktivitas Gunung Merapi tetap bertahan kokoh pada Level III (Siaga).

Baca Juga: PSIM Jogja Kalah 0-1 dari Persebaya, Kartu Merah Adrian Purczycki Jadi Titik Balik Pertandingan

Peta potensi bahaya saat ini terfokus utama pada sektor selatan hingga barat daya, mencakup alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius rentan 7 kilometer. Sementara pada sektor tenggara, alur Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer turut menjadi kawasan zona merah.

Masyarakat yang bermukim di sekitar kaki gunung maupun para wisatawan diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona potensi bahaya tersebut. Ketegasan panduan ini sangat krusial mengingat ancaman lontaran material vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif diperkirakan sanggup menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.

Selain ancaman erupsi langsung, warga sekitar juga diingatkan untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya sekunder berupa lahar dingin dan sebaran abu vulkanik. Potensi ancaman ini dapat meningkat drastis terutama ketika hujan deras mulai mengguyur kawasan puncak Merapi, sehingga langkah antisipasi mandiri wajib disiapkan sedini mungkin.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
Gunung Merapi BPPTKG Erupsi Merapi waspada bencana guguran lava