SLEMAN – Gunung Merapi seakan tak pernah tidur. Pada Jumat pagi hingga tengah hari (11/9/2026), gunung yang menjulang setinggi 2.968 mdpl itu kembali menunjukkan geliatnya. Dalam periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas vulkanik yang cukup intens, menyiratkan bahwa perut bumi di bawah puncak Merapi masih menyimpan energi yang belum sepenuhnya tersalurkan.
Cuaca di sekitar gunung pada hari itu terpantau bervariasi, mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah timur, membawa hawa sejuk dengan suhu udara berkisar 23,8 hingga 26,5 derajat Celcius. Kelembaban udara tercatat 67,8 hingga 78,2 persen, sementara tekanan udara berada pada angka 875,1 hingga 918,4 mmHg. Kondisi meteorologi ini memberi ruang bagi tim pengamat untuk melakukan pemantauan visual dengan cukup baik.
Dari sisi visual, puncak Merapi terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan skala 0 hingga III. Meski demikian, asap kawah tetap teramati keluar dari mulut gunung. Asap berwarna putih itu menyembur dengan tekanan lemah, intensitas sedang, dan ketinggian mencapai 200 meter di atas puncak kawah. Kolom asap itu menjadi pemandangan yang akrab sekaligus mengingatkan warga di lereng Merapi untuk tetap waspada.
Yang paling mencuri perhatian adalah data kegempaan. Tercatat sebanyak 31 kali gempa guguran dalam enam jam pengamatan, dengan amplitudo berkisar 2 hingga 45 milimeter dan durasi antara 28,84 hingga 131,13 detik. Frekuensi guguran yang tinggi ini mengindikasikan adanya ketidakstabilan pada material lava di puncak yang terus runtuh akibat gravitasi.
Selain guguran, tercatat pula 10 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2 hingga 28 milimeter, S-P 0,3 hingga 0,6 detik, dan durasi 15,03 hingga 32,73 detik. Gempa jenis ini biasanya berkaitan dengan pergerakan fluida, baik magma maupun gas, di dalam tubuh gunung. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa suplai magma dari kedalaman masih terus berlangsung.
Baca Juga: MU Hajar Sabah 4-0, Setan Merah Dapat Modal Sempurna Jelang Derby Manchester
Satu kejadian lain yang turut tercatat adalah gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 4 milimeter dan durasi 46,75 detik. Meski S-P tidak terbaca, kehadiran gempa ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik di sekitar Merapi tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika internal gunung, tetapi juga oleh pergerakan lempeng tektonik di sekitarnya.
Berdasarkan laporan yang disusun Tri Mujiyanta, tidak ada keterangan tambahan lain yang menonjol pada periode ini. Status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) , yang berarti gunung ini berada dalam kondisi yang patut diwaspadai namun belum mencapai tahap awas. Status ini telah bertahan cukup lama, mencerminkan aktivitas yang fluktuatif namun cenderung stabil pada level tertentu.
BPPTKG kembali mengingatkan potensi bahaya yang masih mengintai. Guguran lava dan awan panas berpotensi terjadi pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara, bahaya serupa mengancam aliran Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Data pemantauan menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona rawan. Kewaspadaan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran juga perlu ditingkatkan, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
Baca Juga: Liverpool Siapkan Gelandang Baru, Alexis Mac Allister Terancam Tergusur
Gangguan akibat abu vulkanik juga harus diantisipasi. Warga diimbau menyiapkan masker dan melindungi sumber air bersih dari paparan abu. BPPTKG menegaskan, jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Informasi resmi dapat diakses melalui kanal PVMBG dan BPPTKG.
Bagi warga yang tinggal di lereng Merapi, hidup berdampingan dengan gunung adalah kenyataan yang telah dijalani turun-temurun. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Alam mungkin tak bisa ditebak, tetapi kesiapsiagaan selalu bisa dipersiapkan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG