SLEMAN - Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini masih menunjukkan geliat yang perlu diwaspadai. Gunung api paling aktif di Indonesia tersebut terus memuntahkan lava pijar dan mencatatkan puluhan kali gempa guguran dalam sehari.
Berdasarkan laporan pengamatan terbaru, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi sempat berganti dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup tenang ke arah utara dan barat dengan suhu udara yang cukup dingin di area lereng, mencapai titik terendah 13,6 derajat Celsius.
Secara visual, puncak Merapi terlihat cukup jelas meski sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih tipis hingga sedang teramati membumbung setinggi 10 meter di atas puncak, menandakan tekanan gas dari dalam perut bumi masih terus berlangsung.
Geliat di dalam perut Merapi juga terekam jelas oleh instrumen kegempaan. Petugas mencatat setidaknya ada 64 kali gempa guguran dengan durasi yang bervariasi, mencapai lebih dari dua menit untuk getaran terlama.
Selain gempa guguran, aktivitas suplai magma baru dari kedalaman juga masih memicu gempa hybrid atau fase banyak sebanyak 66 kali. Hal ini mengindikasikan tekanan di dalam tubuh gunung belum sepenuhnya mereda dan proses pembentukan kubah lava masih aktif.
Baca Juga: Gastronomi Kopi, Banjarsari Pertemukan Tradisi, Hasil Bumi, Olahraga, hingga Pengolahan Kopi
Yang perlu menjadi perhatian utama, petugas mencatat terjadi 14 kali guguran lava pijar yang mengarah ke sektor barat daya. Guguran material tersebut mengalir menuju aliran Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Penetapan status ini didasarkan pada data pemantauan yang menunjukkan suplai magma segar masih terus terjadi secara konsisten.
Kondisi suplai magma yang belum berhenti tersebut berpotensi besar memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu. Oleh karena itu, zona bahaya telah dipetakan secara terukur demi keselamatan masyarakat yang tinggal di lereng Merapi.
Sektor selatan hingga barat daya menjadi area yang paling rawan, terutama di sepanjang aliran Sungai Boyong hingga radius 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 kilometer. Sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol juga masuk dalam zona waspada.
Baca Juga: Anggota Komisi A DPRD Kota Jogja Marwoto Hadi Usulkan FO Manfaatkan PJ untuk Tata Visual Ruang
Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng imbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius bahaya yang telah ditentukan. Selain ancaman awan panas, potensi lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif diperkirakan bisa mencapai radius 3 kilometer dari puncak.
Ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin juga wajib diwaspadai, terutama saat hujan deras mulai mengguyur kawasan puncak Merapi. Aliran material vulkanik yang terbawa air hujan dapat bergerak cepat dan membahayakan pemukiman di sepanjang bantaran sungai.
Masyarakat juga diminta menyiapkan perlindungan diri untuk mengantisipasi sebaran abu vulkanik jika terjadi erupsi. BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Merapi akan terus dievaluasi secara berkala dan akan segera disesuaikan jika terjadi perubahan karakter erupsi yang signifikan.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG