SLEMAN — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini masih menunjukkan dinamika yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan terbaru, aktivitas luncuran guguran lava serta rentetan gempa di puncak gunung api aktif tersebut terpantau masih sangat mendominasi kondisi terkini.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat, sepanjang Selasa (1/9/2026), telah terjadi setidaknya 17 kali guguran lava. Arah guguran material tersebut terpantau mengarah ke sektor barat daya, tepatnya meluncur menyusuri alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak dengan jarak meluncur maksimum mencapai dua kilometer.
Secara visual, kondisi cuaca di kawasan puncak Merapi cenderung berubah-ubah, mulai dari cerah, mendung, hingga diselimuti kabut tebal. Angin berhembus tenang ke arah timur, menyisakan pemandangan visual berupa asap kawah berwarna putih tipis bertekanan lemah yang membumbung hingga ketinggian 25 meter di atas bukaan puncak kawah.
Dari balik instrumen pemantauan, dinamika penyuplaian energi vulkanik di dalam perut gunung terpantau belum mereda. Petugas mengonfirmasi bahwa gelombang kegempaan didominasi oleh gempa guguran dan gempa fase banyak (hybrid), yang mana masing-masing terekam menghentak sebanyak 72 kali kejadian dalam tempo pengamatan 24 jam penuh.
Selain itu, sensor kebencanaan geologi juga menangkap adanya satu kali gempa vulkanik dangkal serta empat kali gempa tektonik jauh. Rentetan getaran sinyal seismik ini menandakan bahwa proses pergerakan fluida serta suplai magma segar dari kedalaman perut bumi menuju area kawah Merapi masih terus berlangsung hingga saat ini.
Baca Juga: Pemkot Magelang Dorong Transisi PAUD yang Lebih Ramah Anak, Masuk SD Tak Lagi Cukup Bisa Calistung
Melihat kondisi intrinsik gunung api yang sangat aktif ini, status Gunung Merapi dipastikan tetap bertahan pada Level III (Siaga). Penetapan status ini menuntut tingkat kewaspadaan tinggi, terutama bagi warga pemukim maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar lereng dan kawasan alur sungai rawan bencana.
Potensi ancaman bahaya utama saat ini dipetakan terfokus pada wilayah sektor selatan-barat daya serta sektor tenggara. Luncuran awan panas maupun material lava berisiko mengancam alur Sungai Boyong hingga radius 5 kilometer, serta sepanjang alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga jarak maksimum 7 kilometer.
Sementara pada sektor tenggara, daerah rawan mencakup area aliran Sungai Woro hingga batas 3 kilometer serta kawasan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan sanggup menjangkau zona bahaya hingga radius 3 kilometer dari titik kawah utama.
BPPTKG mewanti-wanti seluruh warga masyarakat agar mematuhi zona aman dengan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam area potensi bahaya. Kedisiplinan penuh dalam mematuhi arahan resmi petugas di lapangan menjadi kunci utama untuk meminimalisasi risiko bahaya bencana erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Baca Juga: Sejoli Curanmor di Magelang Pindah-Pindah Kos, Polisi Temukan Jejak Pencurian di Empat Lokasi
Masyarakat yang bermukim di kawasan bantaran sungai berhulu di kawah Merapi juga diimbau melipatgandakan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan. Potensi banjir lahar dingin ini mengintai kawasan hilir, terutama manakala intensitas curah hujan tinggi mulai mengguyur kawasan seputar puncak Merapi saat hujan turun.
Ancaman sebaran paparan abu vulkanik akibat erupsi juga patut diantisipasi oleh warga sekitar lereng. Penyiapan masker penutup hidung serta perlindungan cadangan air bersih sangat disarankan guna mencegah dampak buruk gangguan saluran pernapasan dan pencemaran lingkungan akibat terpaparnya hujan abu tipis.
Laporan berkala hasil pemantauan ini disusun secara resmi oleh pengamat gunung api, Suratno dan Yulianto, sebagai rujukan informasi kebencanaan bagi publik. Evaluasi berkala akan terus dilakukan oleh pihak berwenang guna menentukan langkah antisipasi kebencanaan selanjutnya sesuai dengan perkembangan dinamika aktivitas Gunung Merapi.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta