SLEMAN – Gunung Merapi kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang patut diwaspadai. Dalam laporan pengamatan periode 1 September 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat empat kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter ke arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Merapi masih aktif dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di sekitarnya.
Cuaca di sekitar Merapi terpantau cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 23,1–28,1 °C. Kelembaban udara relatif stabil di angka 74,5–76 persen, sementara tekanan udara tercatat 876,3–921,3 mmHg. Angin bertiup tenang ke arah timur, memberikan kondisi yang cukup jernih untuk pemantauan visual.
Gunung terlihat jelas dengan kabut tipis 0–I hingga 0–II. Tidak teramati adanya asap kawah, sehingga analisis aktivitas lebih banyak bergantung pada data kegempaan. Kondisi visual ini memberi kesempatan bagi petugas untuk mencatat detail pergerakan material di tubuh Merapi.
Seismograf mencatat 22 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–18 mm dan durasi antara 45–172 detik. Selain itu, terdapat 14 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2–49 mm, S-P 0,3–0,7 detik, dan durasi 14–39 detik. Data ini menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung di tubuh Merapi.
Aktivitas kegempaan tersebut menunjukkan adanya energi yang terus mendorong material ke permukaan. Guguran lava yang teramati menjadi bukti nyata bahwa proses vulkanik masih aktif dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Baca Juga: Harvey Elliott Resmi Dipinjamkan ke Valencia, Kontrak di Liverpool Ternyata hingga 2028
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Ancaman ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama bagi warga yang masih beraktivitas di sekitar lereng Merapi.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat curah hujan tinggi di sekitar Merapi. Lahar hujan berpotensi membawa material vulkanik ke aliran sungai dan menimbulkan kerusakan di hilir.
Gangguan akibat abu vulkanik juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi. Abu dapat berdampak pada kesehatan pernapasan, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan merusak lahan pertanian.
Baca Juga: Liverpool Gagal Boyong Ismaila Sarr, Crystal Palace Tegaskan Sikap Jelang Deadline Day
Bagi warga di lereng Merapi, suara gemuruh guguran sering terdengar jelas, terutama pada malam hari. Meski menimbulkan rasa cemas, kehidupan tetap berjalan: petani masih turun ke ladang, anak-anak berangkat sekolah, dan masyarakat berusaha menyeimbangkan kewaspadaan dengan rutinitas harian.
BPPTKG menekankan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya. Status Merapi tetap berada di Level III (Siaga), dan jika terjadi perubahan signifikan, status akan segera ditinjau kembali.
Kehidupan di sekitar Merapi memang selalu berdampingan dengan ancaman. Namun, kewaspadaan dan disiplin mengikuti rekomendasi resmi menjadi kunci agar masyarakat tetap aman.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG