SLEMAN - Isu krisis iklim kini semakin jadi perhatian usai bencana melanda berbagai wilayah Indonesia. Sayangnya, penyandang disabilitas belum dapat perhatian memadai, padahal mereka termasuk dalam kelompok yang paling rentan saat musibah terjadi.
Salah satu penyandang disabilitas netra Misbahul Arifin bercerita, perubahan iklim di era digitalisasi ini terasa begitu cepat sehingga kesenjangan yang dialami oleh para penyandang disabilitas jadi semakin besar. Ketika semua informasi disampaikan di media sosial, tidak semua disabilitas bisa mengakses.
"Teman-teman difabel itu sudah tahu dengan situasi seperti cuaca yang makin panas, tapi kadang belum tahu cara ikut menanggulanginya," katanya ditemui di Disaster Oasis Training Center, Jumat (28/8).
Baca Juga: Kebakaran Lahan di Imogiri Meluas Lebih dari 10 Hektare, Dipicu Lompatan Api dari Balik Bukit
Dia berharap para pemangku kebijakan bisa lebih masif dalam memberikan edukasi di fasilitas terdekat yang bisa diakses. Contohnya, Puskesmas dan Posyandu terkait dampak kondisi saat ini terhadap kesehatan.
Sementara itu, Direktur Yakkum Emergency Unit (YEU) Debora Dian Utami menjelaskan, saat bencana terjadi memang yang jadi fokusnya adalah melakukan asesmen kebutuhan. Untuk menemukan apa yang kerap kali terlewat dari proses kaji cepat di lokasi khususnya disabilitas dengan ragam hambatan. Salah satu cara untuk memastikan proses ini benar-benar berhasil adalah dengan melibatkan organisasi penyandang disabilitas itu sendiri. Dia sebut proses ini sebagai asesmen inklusi.
"Kami tidak hanya memotret secara umum, tapi melihat kebutuhan spesifik. Distribusi bantuan kemanusiaan itemnya jadi menyesuaikan," katanya.
Di DIY sendiri dia sebut ada 12 risiko bencana yang mengintai, termasuk di dalamnya adalah erupsi Gunung Merapi dan tsunami. Untuk itu dia menilai dalam rangka memitigasi bencana penting untuk membangun kesiapsiagaan di sekitar wilayah rawan. Tidak sampai di situ, dia juga menyoroti terkait bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi. Saat ini situasi El Nino sehingga masyarakat menghadapi kekeringan, tetapi nanti masyarakat harus persiap dengan banjir ketika musim sudah berganti.
"Tentu yang jadi perhatian kami bukan hanya yang terkait dengan ancaman geologi aja, tapi juga yang sehari-hari ini terjadi," katanya.
Hal senada disampaikan oleh Direktur YEU 2001-2011 Arshinta. Semangat yang terus dibawa sejak 25 tahun YEU berdiri dalam proses penanganan bencana dan adaptasi iklim adalah memasukkan perspektif inklusi disabilitas. Sebagai contoh saat terjadi gempa di Lombok 2018 lalu saat YEU melakukan renovasi Puskesmas. Tidak sebatas membangun ulang, tetapi juga memastikan bahwa desain terbaru ini lebih aksesibel bagi penyandang disabilitas.
"Jadi semangatnya build back better. Yang menyebabkan situasi disabilitas itu bukan keterbatasan fisik, mental, atau sensori. Tapi hambatan sikap, aksesibilitas, dan seterusnya," ujarnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita