SLEMAN - Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan teknologi robotik dalam membantu proses operasi, jadi bahasan utama dalam forum ilmiah internasional Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) 2026. Forum tersebut menghadirkan seratus ahli bedah ortopedi dan peneliti nasional maupun internasional dari 15 negara di Yogyakarta Marriott Hotel Kamis (20/8) hingga hari ini (22/8).
Presiden IHKS Rizki Rahmadian mengatakan, acara juga memamerkan berbagai robot dari berbagai vendor yang bisa memandu operasi. "Istilahnya itu (proses operasi) dipandu menggunakan robotik, tapi penggerak tetap adalah dokternya," katanya dalam jumpa pers yang digelar di Yogyakarta Marriott Hotel, kemarin (21/8).
Robot ini disebut bisa sangat membantu mempersiapkan operasi khususnya dalam proses hitung-hitungannya. Dia mencontohkan dalam operasi ganti sendi, memerlukan pengukuran secara digital. Hasilnya lebih presisi dibanding saat dokter melakukan pengukuran dengan alat manual. Teknologi robot ini juga membantu tindakan operasi yang dilakukan dokter lebih stabil.
"Kalau manusia itu ada batasan kekuatan misal di lengan kadang gemeteran. Robot itu membantu agar lebih stabil dan presisi lagi," ujarnya.
Sementara untuk AI, dia yakini bisa sangat membantu dalam proses diagnosis suatu penyakit. Mulai dari mengumpulkan data, mengolah data, hingga mengambil kesimpulan. Teknologi memang sudah berkembang dengan baik, tetapi dia mengingatkan bahwa dokter tetap jadi aktor utama dalam penanganan pasien.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Indonesia Orthopedic and Traumatology Research Society (IOTRS) Norman Zainal. AI ini akan sangat membantu dalam empat aspek kedokteran mulai dari promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Hanya, dia menegaskan AI sebatas alat untuk membantu tugas kedokteran. Apalagi big data di Indonesia sebagai penggerak dari AI ini pengelolaannya masih sangat lemah. Untuk itu, kegiatan ini juga penting sebagai upaya penguatan dan edukasi.
"AI itu bisa sangat membantu dalam mendiagnosis penyakit orang," jelasnya.
Presiden Indonesian Musculoskeletal Oncology Society (INAMSOS) Mujaddid Idulhaq yang turut hadir menambahkan, semangat acara ini sesuai dengan tema acara, yakni "Preserve or Replace: Optimizing Joint Longevity and Function". Dia mencontohkan dalam kasus tumor tulang yang memiliki stigma pasti akan diamputasi, padahal sebenarnya tidak.
"Tulang yang terkena tumor itu bisa dibuang dan nanti akan diganti dengan sendi buatan," ujarnya. (del/wia)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja