SLEMAN – Gunung Merapi kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang patut diwaspadai. Dalam laporan pengamatan sepanjang Kamis, 20 Agustus 2026, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya delapan kali guguran lava dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju aliran Kali Sat/Putih dan Kali Bebeng. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Merapi masih aktif dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di sekitarnya.
Cuaca di sekitar Merapi terpantau mendung dengan suhu udara antara 15,9–23,9 °C. Kelembaban udara bervariasi dari 60 hingga 100 persen, sementara angin bertiup lemah ke arah utara, timur, dan barat. Gunung terlihat jelas meski kadang tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah teramati setinggi 450 meter di atas puncak, menandakan adanya aktivitas di dalam tubuh gunung.
Seismograf mencatat 91 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–45 mm dan durasi hingga 188 detik. Selain itu, terdapat 74 kali gempa hybrid/fase banyak yang menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Satu gempa vulkanik dangkal dan empat gempa tektonik jauh juga terekam, menegaskan bahwa aktivitas Merapi masih dinamis dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Baca Juga: Kabut Asap Kembali Selimuti Kalimantan, Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Capai Level Berbahaya
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat curah hujan tinggi di sekitar Merapi. Gangguan akibat abu vulkanik juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi, karena dapat berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Bagi warga di lereng Merapi, suara gemuruh guguran sering terdengar jelas di malam hari. Meski menimbulkan rasa cemas, kehidupan tetap berjalan: petani masih turun ke ladang, anak-anak berangkat sekolah, dan masyarakat berusaha menyeimbangkan kewaspadaan dengan rutinitas harian.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta