SLEMAN — Di balik hembusan angin pagi yang berhembus perlahan ke arah timur, Gunung Merapi menyimpan gejolak yang tak kunjung padam. Gunung berapi paling aktif di Indonesia ini terus memperlihatkan denyut kehidupannya yang intens, mengingatkan warga di sekitarnya akan keagungan sekaligus ancaman alam yang nyata.
Berdasarkan laporan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode Rabu (19/8/2026), asap kawah berwarna putih tipis membumbung setinggi 300 meter ke udara. Di tengah cuaca yang berganti antara cerah dan mendung dengan suhu dingin berkisar 16.4 hingga 23.9 °C, perut Merapi terus bergemuruh dalam sunyi.
Data kegempaan mencatat rentetan getaran yang tak henti-hentinya bergulir dari puncak. Dalam tempo 24 jam, terjadi setidaknya 94 kali gempa guguran dan 63 kali gempa hybrid atau fase banyak. Pergerakan material di dalam perut gunung tercatat jelas, menandakan suplai magma baru masih terus berlangsung hingga saat ini.
Baca Juga: RSUD Muntilan Targetkan Hospital without Walls, Aduan Warga Ditargetkan Tuntas Maksimal 3 Hari
Ancaman visual pun kian nyata. Teramati sebanyak 8 kali guguran lava pijar yang meluncur melintasi tebing terjal menuju arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Luncuran batu dan material vulkanik tersebut menjangkau jarak maksimum hingga 2.000 meter (2 kilometer) dari bibir kawah.
Hingga saat ini, BPPTKG masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Status ini menjadi penanda bagi seluruh masyarakat lereng Merapi—dari Sleman, Magelang, Boyolali, hingga Klaten—untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak melonggarkan kesiapsiagaan.
Pihak otoritas mengingatkan bahwa potensi bahaya berupa awan panas dan guguran lava sewaktu-waktu dapat menerjang sektor selatan hingga barat daya, melingkupi aliran Sungai Boyong (hingga 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga 7 km). Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mengintai Sungai Woro (hingga 3 km) dan Sungai Gendol (hingga 5 km).
Baca Juga: Marvin Loría Lihat Cuplikan Pertandingan PSIM Jogja sebelum ke Indonesia
Masyarakat diminta untuk sepenuhnya mengosongkan zona bahaya dan tidak melakukan aktivitas apa pun di radius yang telah ditentukan. Mengingat cuaca yang kerap mendung, potensi lahar hujan di alur sungai-sungai berhulu Merapi juga patut diwaspadai, terutama saat hujan deras mengguyur area puncak. Merapi belum tidur, dan kehati-hatian adalah kunci keselamatan bersama.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG