YOGYAKARTA – Aktivitas Gunung Merapi masih berada pada level yang perlu diwaspadai. Dalam laporan terbaru periode 31 Juli hingga 6 Agustus 2026, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan karakter erupsi efusif. Status gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu tetap dipertahankan pada Level III (Siaga).
Selama sepekan terakhir, pengamatan visual menunjukkan Merapi lebih sering terlihat jelas pada pagi hingga malam hari, sementara siang dan sore tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih terus teramati dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap bervariasi antara 10 hingga 250 meter dari puncak.
BPPTKG juga mencatat terjadi satu kali awan panas guguran, meski arah dan jarak luncurnya tidak dapat diamati secara langsung. Selain itu, aktivitas guguran lava masih berlangsung cukup intens. Guguran tercatat mengarah ke hulu Kali Boyong sebanyak 18 kali dengan jarak maksimal dua kilometer, Kali Krasak 27 kali sejauh dua kilometer, Kali Bebeng delapan kali sejauh 1,6 kilometer, serta Kali Sat/Putih sebanyak 64 kali dengan jarak luncur hingga dua kilometer.
Hasil survei drone yang dilakukan pada 1 Agustus 2026 menunjukkan adanya perubahan pada kubah lava. Volume Kubah Barat Daya bertambah sekitar 18.400 meter kubik sehingga kini mencapai sekitar 4,04 juta meter kubik. Sementara itu, volume Kubah Tengah belum dapat dihitung karena sebagian tertutup asap. Suhu kedua kubah tercatat sekitar 243 derajat Celsius dan relatif stabil dibandingkan pengukuran sebelumnya. Informasi tersebut juga diperlihatkan melalui foto udara dan citra termal pada lampiran laporan.
Baca Juga: Deklarasi Jogjakarta: Legislator Daerah Serukan Keuangan Hijau demi Selamatkan Masa Depan Iklim
Dari sisi kegempaan, aktivitas Merapi menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya. Jaringan seismik merekam satu gempa awan panas guguran (APG), 84 gempa vulkanik dangkal, 614 gempa fase banyak, 692 gempa guguran, serta 15 gempa tektonik. Peningkatan intensitas gempa ini menjadi indikasi bahwa dinamika di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif.
Pemantauan deformasi juga memperlihatkan adanya pemendekan jarak menggunakan metode Electronic Distance Measurement (EDM) sekitar 0,7 sentimeter per hari. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan bentuk tubuh gunung yang berkaitan dengan tekanan dari dalam. Di sisi lain, selama periode pengamatan tidak terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dan belum ada laporan lahar di sungai-sungai berhulu Merapi.
Berdasarkan seluruh hasil pengamatan visual dan instrumental, BPPTKG menyimpulkan suplai magma ke permukaan masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas guguran yang tetap berada di dalam kawasan potensi bahaya.
Wilayah yang berpotensi terdampak guguran lava dan awan panas meliputi sektor selatan hingga barat daya, yaitu Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
Baca Juga: Hasil Singapura vs Indonesia: Gol Ragnar Tak Cukup, Garuda Tersingkir dari ASEAN Championship 2026
BPPTKG mengimbau pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus memperkuat langkah mitigasi, termasuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan menyiapkan sarana evakuasi. Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas di kawasan potensi bahaya, mewaspadai ancaman lahar maupun awan panas saat hujan turun di sekitar Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat hujan abu vulkanik.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta